
๐กFachri, Coach Indro dan pak Sularjo berkunjung ke rumah Iqbal.
Iqbal bercerita panjang lebar tentang kondisinya dan kondisi keluarga nya. Mulai dari aktivitas harian Iqbal sebagai peternak bebek petelur, sampai dia harus membuat telur asin sendiri.
Ayah dan ibunya sudah sangat tua ditambah dia juga memiliki dua orang adik yang masih sekolah di sekolah dasar. Membuat Iqbal menjadi tulang punggung keluarga.
Fachri mencoba untuk menyelami hati dan keadaan Iqbal saat itu.
"Iya... saya bisa merasakan apa yang kamu rasakan..."
"Saya melihat... kamu masih ingin berkarir di sepak bola namun tetap bisa menjalankan usaha telur bebek..." ujar Fachri.
"Caranya Coach...?" Tanya Iqbal.
๐ก"Caranya banyak... mungkin salah satu nya coba kamu rekrut karyawan untuk mengurus peternakan ini... karena secara hitung-hitungan peternakan ini sudah jalan dan sudah menghasilkan... tinggal pendelegasian tugas aja..." kata Fachri.
"Benar kata coach... itu yang membuat saya berat melepaskannya..." sambut Iqbal.
"Gimana saran dari ayah dan ibu...?" tanya Fachri.
๐ด๐ต"Kalau ayah mah... terserah Iqbal..."
"Sebab kan yang menjalankan Iqbal..."
"Baik dan buruknya... karena Iqbal sudah dewasa dan sudah bisa menentukan sikap..." jelas Ayah Iqbal.
"Bener apa yang dikatakan coach Fachri... sepertinya... ada baiknya mencari karyawan minimal dua orang untuk membersihkan kandang dan distribusi barang... nah untuk pembukuan dan hal-hal yang bersangkutan dengan administrasi pembelian penjualan... nanti langsung berurusan dengan ayah... jadi karyawannya nanti bantu-bantu hal-hal yang berurusan dengan fisik..." tambah Ayah Iqbal.
Iqbal terdiam sejenak, dia berusaha mendamaikan hati nya yang sedang terombang-ambing di lautan kegalauan.
"Jangan terlalu dipikirin... Mas Iqbal masih punya cukup waktu untuk berfikir... semoga satu bulan cukup untuk mencari karyawan dan mengedukasi karyawannya..."
"Setelah yakin bisa ditinggalkan... silahkan telepon saya..." ujar Fachri.
Fachri memberikan gambaran dan harapan kepada Iqbal yang terlihat bingung memilih bisnis atau cita-citanya.
Namun sepertinya Fachri mampu memberikan motivasi kepada Iqbal untuk berusaha bergabung ke Harokah Football Club.
๐ฆ"Ngomong-ngomong udah nyobain telor asin buatan Iqbal apa belum...?" tanya Iqbal
"Belum..."
"Kebetulan saya suka sekali makan telur asin... tapi sampai saat ini belum tahu tuh... proses pembuatan telur asin gimana caranya...!" seru Fachri
"Wah... kebetulan Iqbal mau membuat telur asin..." sambut Iqbal.
"Ayo sini... Iqbal kasih lihat cara pembuatan nya..." ujar Iqbal.
__ADS_1
Iqbal mulai mengambil beberapa telur yang ada di dalam kandang, Fachri dan yang lainnya turut membantu Iqbal. Telur-telur itu berserakan di dalam kandang.
Iqbal harus mengambil telur - telur itu setiap hari, lebih dari tiga ratus telur setiap hari. Jika satu telur dua ribu rupiah, maka Iqbal memiliki omset sehari enam ratus ribu rupiah.
Jika pakan makanan bebek menghabiskan biaya dua ratus ribu per hari, maka keuntungan Iqbal sebesar empat ratus ribu per hari.
Itulah yang membuat Iqbal dilema antara menjalankan ternak yang penghasilannya sudah cukup lumayan dibandingkan dengan menyalurkan hobi di sepak bola yang pasti menyita banyak waktu dan tidak mungkin mengurus ternaknya.
"Nah... sekarang kita buat lima puluh telur asin ya..."
"Rendam telur-telur ini dalam air lebih kurang dua menit... singkirkan telur yang mengambang... karena telur tersebut tidak bagus..."
"Sambil menunggu... kita hancurkan sepuluh buah batu bata sampai benar-benar lembut... lalu campurkan dengan air dan satu kilo garam... jangan terlalu cair... buat adonan batu bata itu seperti pasta..." jelas Iqbal.
๐"Trus apa yang bisa kami bantu...?" tanya Fachri.
"Nah... bapak-bapak bisa bantu ngamplas telur - telur ini..." jawab Iqbal.
"SIAP..." jawab mereka dengan kompak.
"Kemudian bersihkan telur-telur ini hingga bersih... hati-hati saat membersihkannya agar kulit telur tidak pecah atau retak... ini dilakukan agar garam dapat lebih mudah meresap karena pori-pori telur terbuka... setelah diamplas... kita cuci telur-telur ini dan keringkan..."
"Setelah itu... lumuri telur dengan tanah sampai menggumpal seperti tanah liat atau batu... kira-kira hingga ketebalan mencapai tiga sentimeter... masukkan dalam ember satu per satu... taburi lagi telur yang sudah dilumuri tanah dengan batu bata lagi secukupnya..."
"Diamkan selama empat belas hari... setelah empat belas hari proses selesai... rebus telur dengan api kecil... jangan sampai air mendidih agar tidak merusak telur... rebus selama satu jam..." jelas Iqbal.
"setelah empat belas hari harus di masak pakai api kecil...!"
"Cukup panjang prosesnya..." keluh Fachri.
"Benar coach..."
"Mangkanya... harga telur asin lumayan mahal..." seru Iqbal.
"Tapi tenang... coba lihat dihadapan kita ada lima belas ember... ember yang ini sudah empat belas hari... ember yang ini sudah tiga belas hari...ember yang ini sudah duabelas hari ..."
"Sehingga setiap hari saya punya tabungan telur asin lima puluh butir..." ujar Iqbal.
๐"Wih... canggih..." seru Fachri.
"Semoga saya segera dapat karyawan untuk mengurus bebek-bebek ini ... lumayan untuk pendapatan harian... saya minta waktunya ya coach satu bulan..." pinta Iqbal.
"Siap... bisa diatur..."sambut Fachri.
๐Tak terasa waktu sudah siang, mereka bersih-bersih diri untuk bergegas sholat Jum'at.
Sehabis Sholat Jum'at Fachri dan pak Sularjo pamit meninggalkan Tegal.
__ADS_1
"Gimana coach Indro... mau ikut nggak...?"
"Kita meluncur ke Pati nih..." ajak Fachri.
"Wah... Sepertinya saya tidak bisa ikut... usia sudah semakin tua... sudah tinggal menikmati hidup... pengennya tetap di Tegal..." ujar coach Indro.
๐๏ธTiba-tiba ada motor yang berhenti di hadapan mereka.
"Eh... elo Wok..."
"Gua kira siapa...!"
"Mau kemana... buru-buru amat..." sahut coach Indro.
"Ini... mau kerumah Iqbal... kali aja ada bebek yang mau dijual..." jelas Bewok yang berprofesi sebagai juragan bebek.
"Masih bisnis bebek...?" tanya coach Indro.
"Masih... ini sengaja keliling kampung... moga hari ini dapet banyak bebek..." harap Bewok.
"Aamiin..."
๐ฐBewok adalah teman coach Indro, namun bukan teman sebagai pelatih sepak bola. Bewok dulu dikenal orang sebagai bandar judi di sepakbola.
Dulu dia kaya raya, akhirnya dia bangkrut. Dulu Bewok memiliki kemampuan untuk mengatur skor pertandingan, membayar wasit bahkan mengendalikan beberapa klub sepak bola ternama.
"Oh iya... lho masih kenal nggak nih sama orang ini...? tanya coach Indro kepada Bewok.
๐ค"ehm... siapa ya... kayaknya gua sering lihat muka kayak gini...!" kata Bewok.
"Nama saya Fachri..." ujar Fachri sambil menyodorkan tangannya kearah Bewok untuk bersalaman.
Bewok terdiam sejenak, membayangkan kejadian beberapa tahun yang lalu.
"Lho Fachri pemain Persija...?" tanya Bewok.
"Iya mas... salam kenal..." jawab Fachri.
"Kaki lho kenapa..." tanya Bewok.
"Iya nih... saya kena musibah... kaki harus diamputasi karena terjepit reruntuhan puing rumah saat terjadi tsunami di Aceh..." jawab Fachri.
"Oh iya... salam kenal juga..."
"Maaf nih... saya buru-buru... lagi janjian sama yang jual bebek..." kata Bewok.
"Okelahkalobegbegbegetoh..." ledek coach Indro.
__ADS_1
๐๏ธMotor langsung dipacu Bewok meninggalkan mereka. Namun anehnya, Bewok berhenti disudut jalan dan memandang Fachri dengan tajam dari kejauhan.๐๏ธ