
Tak lama kemudian.
ππ₯ποΈ BRAAAAK... terdengar suara benturan dari luar Markas Harokah FC.
Ternyata sebuah motor menabrak Pak Andi yang sedang membuka pintu mobil. Pak Andi terpental dan motor itu pun melesat cepat dan menghilang, sepertinya memang motor itu memang sudah mengincar Pak Andi.
"PAEEEEE..." teriak Diana cukup keras, membuat semua personil Harokah FC keluar dari Markas.
"Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun... ada apa ini... ya Allah pak Andi... cepat-cepat bawa pak Andi masuk ke dalam kantor...!" seru Pak Sularjo sambil bergegas mengangkat Pak Andi masuk ke dalam kantor.
Pak Andi tak sadarkan diri saat digotong ke dalam kantor Harokah FC. Darahnya mengucur deras, namun dengan sigap Diana memberikan pertolongan kepada ayahnya. Wajar saja Diana bisa begitu sigap, karena Diana adalah mantan perawat.
ποΈ Di sisi yang lain.
Rupanya yang menabrak Pak Andi adalah Bang Codet dan Sony.
"Ah gila lho Bang... itu orang yang kita tabrak bisa mati..."
"Kenapa ini urusan bisa jadi runyam gini ya...?"
"Gua kan cuman nggak suka sama Sandy... tapi kenapa orang itu yang Abang tabrak....?" tanya Sony yang sudah mulai panik.
"Justru itu... yang tadi kita tabrak namanya Pak Andi..."
"Dia adalah pemilik Harokah FC..."
"Jika dia mati... maka fix Harokah FC pasti gagal mendaftar di Liga Tiga tahun ini..."
"Bahkan bisa jadi mereka akan bangkrut... karena penyumbang terbesar Harokah FC adalah Pak Andi..."
"Sehingga... jika Harokah FC bangkrut... maka jelas... dendamu pun terbayar..."
"Sandy tak akan bisa berkarir di sepak bola..." jawab Bang Codet.
"Oh jadi gitu toh maksud Bang Codet... tapi apakah kita aman...? masalahnya ini motor kan motor saya... kalau ada yang tahu... Wah bisa berabe nih..." ujar Sony.
"Ya... jangan sampai ada yang tahu lah..." kata Bang Codet.
ποΈKembali ke Markas Harokah FC.
"Alhamdulillah... Pa'e masih bernafas... beberapa luka sudah Diana obatin..."
"Mending kita segera ke rumah sakit... agar segera dapat tindakan medis lebih lanjut..." pinta Diana
π₯Beberapa saat kemudian Pak Andi sudah dibawa ke rumah sakit.
Pak Sularjo, Diana dan Fachri yang mengantarkan Pak Andi ke rumah sakit. Diana mendampingi ayahnya di dalam ruang ICU.
Fachri dan Pak Suharjo berbincang-bincang di luar tunggu.
"Kita tidak pasang CCTV ya...?" tanya Fachri.
"Iya Mas Fachri... kita belum sempat pasang CCTV... saya sudah pernah mengajukan ke Pak Andi..."
"Tapi nanti saya coba minta beberapa rekaman dari rumah-rumah yang ada di sekitaran Markas Harokah FC..." kata Pak Sularjo.
__ADS_1
"Maksudnya gimana ya...?" tanya Fachri rada bingung.
"Jadi begini... tadi kejadiannya kan kira-kira kisaran jam setengah delapan sampai jam delapan..."
"Nah... dari kisaran jam segitu lah kira-kira kita coba minta rekamannya ke tetangga-tetangga sekitar..."
"Semoga motor yang kita curigai itu terekam CCTV tetangga..." jawab pak Sularjo.
"Kalau begitu... saya minta bantu Pak Sularjo untuk handle ini ya...!"
"Sebab saya harus fokus dengan pendaftaran tim Harokah FC ke Liga Tiga hari ini atau paling telat besok siang...!" seru Fachri.
Diana keluar dari ruang ICU.
"Gimana mba Diana kabar Pa'e...?" tanya Fachri.
"Pa'e masih belum sadar..." jawab Diana lesu.
"Diana jadi bermalam di sini...?"
"Iya mas... Diana harus jaga Pa'e... tapi... sepertinya Diana harus pulang dulu..."
"Diana mau ambil pakaian dirumah..." jawab Diana.
"Begini saja... Diana pulang diantar Pak Sularjo... biar mas Fachri yang tunggu Pa'e di sini..." ujar Fachri.
"Iya mas... minta bantu dijagain Pa'e ya...!" pinta Diana.
"Iya... Insya Allah Pa'e aman disini..."
π Satu jam kemudian Diana sudah kembali ke rumah sakit. Fachri mengajak Diana dan Pak Sularjo makan siang terlebih dahulu.
"Ayo kita makan dulu... Pa'e sudah di tangani di tim medis... kita harus tetap fit... Diana tidak boleh sakit... makanya kita harus makan supaya kesehatan kita terjaga..." rayu Fachri.
Fachri dan Pak Sularjo tidak tega meninggalkan Diana sendiri menunggu ayahnya. Mereka tetap stand by di rumah sakit menemani Diana.
Diana yang senantiasa ceria, saat itu menjadi murung, dia lebih banyak diam dan sering memandangi wajah ayahnya yang sedang berbaring di ICU.
Diana tidak kuasa menahan kantuk, dia tertidur di kursi ruang tunggu.
Fachri dan Pak Sularjo masih terjaga.
"Mas Fachri kenapa gelisah...?"
"Sudahlah... mending istirahat dulu..." kata Pak Sularjo.
"Jadi begini pak Larjo..."
"Besok itu adalah batas waktu pendaftaran..."
"Semua berkas sudah lengkap... tinggal dananya..."
"Saya tidak berani membahas ini semua kepada Diana... apalagi Diana pasti sangat membutuhkan banyak uang untuk perawatan ayahnya..." jelas Fachri.
"Iya Mas... benar... tidak elok rasanya kalau kita nggak bahas masalah uang kepada Diana saat ini..." ujar Pak Sularjo sambil termenung.
__ADS_1
"Ya sudah... kita istirahat dulu... semoga besok ada solusinya..." harap Fachri.
π Keesokan harinya sehabis sarapan Fachri dan Pak Sularjo kembali ke Markas Harokah FC.
"Gimana coach... kabar Pak Andi...?" tanya Ujang dan kawan-kawan.
beliau masih di ICU belum sadar mohon doanya untuk semua dari semua teman-teman.
"Lalu untuk pendaftaran jadinya gimana coach...?" tanya Asep yang berusaha untuk mengingatkan Fachri.
"Nah... itulah yang saya pikirkan dari kemarin... semua berkas sudah lengkap... namun uang pendaftarannya yang belum ada..." kata Fachri.
"Belum ada bagaimana maksudnya coach...?" tanya Ujang.
"Sebenarnya sudah ada... bahkan Pak Andi dan Diana pun kemarin kan memang sudah mau mendaftar... namun karena kecelakaan itu... membuat mba Diana dan Pak Andi pasti membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk kesembuhannya..." jawab Fachri.
"Terus terang saya belum berani untuk membahas masalah uang kepada mba Diana dalam waktu dekat ini..."
"Terlebih kepada Pak Andi yang memang sampai saat ini masih belum sadar..."
Semua duduk terdiam di depan kantin, wajah mereka terlihat sangat lesu mendengar berita itu.
"Hai teman-teman... sebelum kita latihan... ada baiknya kita shalat Dhuha terlebih dahulu... lanjut shalat hajat... dan mari berdoa kepada Allah subhanahu wa ta'ala... Semoga Pak Andi diberikan kesembuhan dan Kita semua diberi kekuatan dan kesempatan untuk mendaftarkan Harokah FC ke Liga Tiga tahun ini..."
"Ayo segera kita ambil wudhu dan kumpul di mushola..." ujar Ujang.
Setelah shalat Dhuha dan shalat hajat, Ujang memimpin do'a pada pagi hari itu. Selepas berdoa, Ujang dan kawan-kawan pun tetap bersemangat latihan seperti biasa.
Seakan-akan mereka tidak terjadi apa-apa sebelumnya.
π Tiba-tiba masuk sebuah mobil Alphard hitam ke dalam Markas Harokah FC.
"Ayaaaah Fachriiiii..." teriak dua orang anak kecil yang berlari ke arah Fachri sambil memanggil dengan sebutan ayah.
"Assalamualaikum ayah..."
"wa'alaikumsalam... Dona Doni apa kabar...?" sambut Fachri sambil memeluk Dona dan Doni.
"Akhirnya kalian sampai juga ke sini ya...!" seru Fachri.
"Apa kabar Mas...?" tanya Giea.
"Alhamdulillah kabar mas baik-baik saja..."
"Giea gimana kabarnya...?" Fachri balik bertanya.
"Aku juga baik Mas..."
"Mas Fachri tidak kangen aku ya...?"
"Kangen dong...!"
"Kok nggak pernah telepon...?"
"Iya nih... maaf... Mas Fachri lagi sok sibuk nih... hehehe..." kata Fachri sambil mencoba sedikit tersenyum.
__ADS_1