OFFSIDE - Diluar Batas

OFFSIDE - Diluar Batas
Mirip Euis


__ADS_3

๐ŸŒน"Ini kita mampir Taman Bunga Nusantara kan?" tanya Diana.


"Siap mba..."


"Paling dua puluh menit lagi sampai..." jawab Ujang.


"Trus kita bermalam dimana nanti..." Diana kembali bertanya.


"Pastinya dirumah saya atuh mba..."


"Mesti tidak sebagus rumah mba Diana..."


"Namun bisa saya pastikan nyaman dan indah dipandang mata..." jelas Ujang begitu bersemangat.


๐Ÿ“ธAkhirnya mereka tiba di Taman Bunga Nasional.


Semua tak luput dari bidikan kamera Diana yang memang punya hobby fotografi.


"Kan mas Fachri sudah pernah bilang..." kata Fachri.


"Bilang apa mas...?" tanya Diana bingung.


"Kamu jangan dekat-dekat sama tanaman berbunga yah..." ujar Fachri.


"Loh... emang kenapa?" tanya Diana makin bingung.


"Ntar bunganya layu..."


"Soalnya malu kalah cantik sama kamu..." gombalan Fachri.


Hahahaha....


"Asyik..."


"Lanjut boss..." sahut Ujang.


๐ŸคญDiana hanya bisa tersipu malu. Ketika Fachri, Ujang dan pak Sularjo berusaha memecah kesunyian dengan candaan mereka.


Selesai Sholat Ashar mereka bergegas untuk lanjut kekediaman Ujang yang tidak begitu jauh dari Taman Bunga Nasional.


๐Ÿž๏ธJalan menuju rumah Ujang sangat terjal dan menanjak, butuh skill mengemudi yang handal untuk melintasi jalanan itu. Bahkan meleset sedikit bisa terperosok ke jurang.


๐Ÿก "Alhamdulillah akhirnya kita sampai juga..." ujar Ujang sambil membuka pintu mobil.


"Sepi ya Jang?" tanya Fachri.


"Ya... karena menjelang Maghrib..."


"Kalau siang mah... cukup ramai..." jelas Ujang.


"Ayo kita masuk kerumah..." ajak Ujang.


TOK... TOK... TOK...


"Assalamualaikum..."


"Mak... Ujang pulang Mak..." salam Ujang sambil mengetuk pintu.


"Wa'alaikumussalam..."


"Masya Allah... Ujang..."


"Alhamdulillah... kamu sehat nak...?" tanya Emak Ujang.


"Alhamdulillah... sehat mak..." jawab Ujang.


"Subhanallah... Euis...?" tanya Emak Ujang kaget melihat Diana.


"Ini bukan Euis Mak..."


"Ini mba Diana dari Jakarta..."


"Ini pak Fachri... dan ini pak Sularjo..." jelas Ujang sambil memperkenalkan mereka satu persatu.


Emak cukup tercengang melihat sosok Diana, yang memang sangat mirip sekali dengan Euis tunangan Ujang yang sudah meninggal dunia itu.


Bahkan di dinding ruang tamu pun terdapat foto Euis. Emak Ujang memperlihatkan foto-foto Euis pada Diana. Emak sangat senang sekali dengan kehadiran Diana. Senyumnya menggambarkan kecintaan nya pada Euis saat itu.


"Kok dadakan Jang...?"


"Mak jadi ngga nyiapin makan buat kalian..." ujar Emak Ujang.


"Sengaja Mak..."


"Ini kita bawa kok untuk makan malam dan sarapan besok..." jelas Ujang sambil mengeluarkan oleh-oleh dan makanan yang mereka bawa dari Jakarta.


"Nanti mba Diana tidur di kamar depan..."


"Nah kita di kamar belakang bertiga..."


"Silahkan taro koper nya dulu..."


"Mandi... Sholat Maghrib..."

__ADS_1


"Setelah itu kita kumpul di teras untuk makan malam..." jelas Ujang sambil mengangkat koper Diana.


๐ŸŒŒMalam itu mereka bercengkrama dengan Emak Ujang yang sepertinya sangat kesepian ditinggal Ujang ke Jakarta. Panjang lebar Emak Ujang menceritakan kisah Ujang dan Euis.


"Oh... Jadi Euis itu dulu tinggal di pondok yatim piatu?" tanya Diana.


"Iya... besok saya antar ke sana..."


"Pasti semua mengira kamu itu Euis..." kata Ujang.


"Jadi penasaran..." ujar Diana.


๐Ÿฆ—KRIK... KRIK... KRIK...


Suara air gemericik dan suara jangkrik yang bersahut-sahutan menambah keindahan malam itu di Cianjur.


"Ini gitar kamu Jang...?" tanya pak Sularjo


"Iya... ya... biasa... anak muda..."


"Bisa ala kadarnya..." ujar Ujang.


"Sini... aku pinjam..."


"Aku mainkan gitarnya..."


"Kalian yang bernyanyi ya..."


๐ŸŽผEm A D....


Bm Em A D....


"Coach Fachri tau ngga lagunya...?" tanya pak Sularjo mengetes kemampuan Fachri saat diperdengarkan intronya.


"Kalau ini saya tau..." jawab Fachri.


๐ŸŽผ"Kan kuingat di dalam hatiku..."


"Betapa indah semalam di Cianjur..."


"Janji kasih yang t'lah kau ucapkan..."


"Penuh kenangan yang takkan terlupakan..."


"Tapi sayang, hanya semalam..."


"Berat rasa perpisahan..."


"Namun ku telah berjanji..."


"Di suatu waktu kita bertemu lagi..."


"Tapi sayang, hanya semalam..."


"Berat rasa perpisahan..."


"Namun ku telah berjanji..."


"Di suatu waktu kita bertemu lagi..." semua bernyanyi lagu semalam di Cianjur.


โ„๏ธ Udara yang semakin malam semakin dingin, menyudahi kebersamaan mereka kala itu, untuk segera istirahat, meluruskan otot kaki badan dan kepala yang pegal karena jauhnya perjalanan siang tadi.


๐Ÿ“KUKURUYUK....


Suara ayam menyertai suara Adzan Subuh yang terdengar bersahutan dari masjid ke masjid.


Subuh itu mereka sudah terbangun dan sholat di Masjid. Ujang menjadi imam saat sholat Subuh. Yang pertama karena ternyata Ujang lulusan dari Pondok Pesantren di Cianjur. Yang kedua bacaan Qur'an nya cukup bagus. Yang ketiga Ujang memang ngajar ngaji di Masjid itu.


"Bacaan Qur'an mu bagus Jang..." puji Fachri kepada Ujang.


"Alhamdulillah, kebetulan memang saya lulusan dari pondok..." jelas Ujang.


๐ŸŒ„"Yuk kita jalan-jalan..."


"Mumpung cerah..." ajak Ujang.


"Siap..." sahut Diana.


"Semangat sekali..."


"Tidurnya pules semalem?" tanya Fachri.


"Pules lah..."


"Wong suara ngorok nya sampai ke kamar belakang..." ujar pak Sularjo.


HAHAHAHA....


Mereka tertawa terbahak-bahak


"Ah... masasih..."


"Waduh... ngga ada yang merekam kan...?" tanya Diana yang terlihat malu.

__ADS_1


"Tuh lihat kebun tehnya terlihat indah sekali..." kata Diana yang berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Kayaknya..."


"Ada yang ngalihin pembicaraan nih..." ejek Fachri.


๐Ÿคซ"Sttttt..."


"Wah... ada kang Ujang..." sapa beberapa anak muda yang sepantaran dengan Ujang.


"Apakabarnya...? tanya Ujang pada mereka.


"Loh... justru kami yang mau tanya kang..."


"Kang Ujang kemana saja...?"


"Apa kabarnya...?" mereka malah bertanya balik karena Ujang lama pergi tanpa kabar saat Euis meninggal dunia.


"Alhamdulillah..."


"Saya baik-baik saja..."


"Perkenalkan ini teman-teman saya dari Jakarta..." kata Ujang.


"Ini mirip Euis ya Jang?" tanya Asep salah satu dari teman Ujang tadi.


"Iya... namanya Mba Diana..."


"Ini pak Fachri... dan ini pak Sularjo..." Ujang memperkenalkan Fachri ke teman-teman nya.


"Pak Fachri..."


"Mereka teman-teman Ujang..."


"Mereka jago main bola..."


"Namun sayang... mereka lebih memilih bertani karena keluarga mereka menuntut mereka untuk mengurus sawah dan ladangnya..." jelas Ujang.


"Besok ada pertandingan antar kampung Jang..."


"Kamu itu ya...?" tanya Asep kepada Ujang.


Ujang melirik Fachri, dan Fachri memberikan isyarat kalau Ujang harus ikut pertandingan itu.


"Oke..."


"Besok saya ikut tanding..." ujar Ujang.


"Alhamdulillah..."


"Akhirnya tim kita lengkap..."


"Kalau begitu... sampai ketemu besok Jang..."


"Tong khilaf nya..." kata Asep.


"Apatuh tong khilaf Jang?" tanya Diana.


"Maksudnya..."


"Jangan Lupa..." jelas Ujang.


"Oh..." ujar Diana.


Tiba-tiba...


Terdengar suara Emak Ujang dari kejauhan.


"Ujaaaan..."


"Ayo pada pulang..."


"Sarapan dulu..."


"Sudah pada matang..." teriak Emak Ujang.


"Siap Mak..." sahut Ujang.


"Waw...."


"Sarapan yang sangat mewah..."


"Ikan Mas Goreng..."


"Sambel... Lalapan terong dan kemangi..."


"Tambah sayur asem..."


"Yang tak kalah dahsyat nya adalah..."


"Makan pakai beras Cianjur..."


"Nasinya masih ngebul..." ujar pak Sularjo.

__ADS_1


Selamat Makan...๐Ÿ˜‹


๐Ÿฅ—๐Ÿฒโ˜•๐Ÿฅš๐Ÿ—๐Ÿ†๐Ÿฅฆ๐Ÿฅ•๐Ÿ…๐Ÿ‰


__ADS_2