
🏡Rumah Ujang
"Kamu jadi tanding?" tanya Fachri pada Ujang.
"Jadi lah coach..."
"Kemarin kan udah janji...."
"Kalian nanti wajib lihat..." jawab Ujang sambil menghabiskan makanan yang ada di piringnya.
"Udah... pada makan dulu..." sindir Diana.
"Ini makanan sepertinya biasa ya..."
"Tapi kok enak ya...?"
"Apa karena laper... atau tempat nya nyaman... atau masakannya enak...? ujar pak Sularjo.
"Kayaknya faktor berasnya pak Larjo..."
"Ditambah lagi masakannya yang fresh..." ujar Ujang.
"Oh... pantesan..." sahut pak Sularjo.
🌾"Beras Cianjur termasuk beras nomor satu di Indonesia..." bangga Ujang.
😴Usai makan siang mereka rebahan di bale depan rumah dan dibawah pepohonan yang rindang. Diiringi tiupan angin sepoi-sepoi, membuat mereka berempat tertidur pulas. Emak Ujang tak berani mengusik mereka.
Sejam kemudian seseorang datang.
"Jang... Ujang... bangun... Jang..." seseorang datang menghampiri Ujang yang sedang tertidur.
"Eh.... kamu Sep..." sahut Ujang yang terbangun karena Asep membangunkan nya.
"Kamu tidak lupakan Jang..."
"Jangan lupa ba'da Ashar kita ada pertandingan..." ujar Asep.
"Insya Allah... ane hadir..." sambut Ujang.
"Alhamdulillah... sampai ketemu nanti ya..." kata Asep sambil bergegas pergi.
🏟️Selepas Sholat Ashar Ujang, Fachri, Diana dan pak Sularjo bergegas menuju lapangan sepakbola stadion mini yang berlokasi dekat pondok.
"Lumayan lapangannya..."
"Udah pada datang nih..."
"Jang... itu lawannya dari mana?" tanya Fachri.
"Katanya dari Jakarta..." jawab Ujang.
"Mantab..."
"Kalau dilihat dari seragam nya... sepertinya dari tim Jakarta Timur..." tebak Fachri.
Kedua belah kesebelasan sudah siap dilapangan. Pertandingan hari itu antara Pemuda Karang Taruna Cugenang Cianjur melawan Sekolah Sepakbola Pondok Bambu Jakarta Timur.
"Mas Fachri mau minum air putih atau es teh...?" tanya Diana.
"Wah... kamu emang satu tiga dan lima..." jawab Fachri.
"Loh... maksudnya mas...?" tanya Diana bingung.
"Maksudnya coach Fachri..."
__ADS_1
"Tidak ada duanya..." jelas pak Sularjo.
😆Mereka pun tertawa
Ujang berada dikubu Pemuda Karang Taruna Cugenang Cianjur. Posisinya seperti yang kita tahu adalah kiper. Sebab Ujang adalah salah satu kiper berbakat di Jawa Barat. Sedangkan pemain lainnya tidak lebih dari beberapa pemain amatiran.
Sedangkan yang mereka lawan adalah sekolah sepakbola yang berasal dari Jakarta. Yang tentunya secara teknik lebih unggul daripada timnya Ujang.
Pada awal pertandingan kesebelasan Ujang dan teman-teman bermain santai. Berbeda dengan tim dari Jakarta. Tim dari Jakarta itu menyerang dengan pergerakan yang begitu lincah.
Bahkan sering sekali mampu menerobos barisan pertahanan Ujang dan kawan-kawan. Secara penilaian umum timnya Ujang dan kawan-kawan bermain sangat buruk. Baik secara organisasi serangan maupun bertahan.
🥅Beruntung mereka memiliki kiper setangguh Ujang. Sampai dengan menit ke tiga puluh, Ujang berhasil memblok enam tendangan berbahaya yang mengarah ke gawangnya.
Namun anehnya, di menit ke empat puluh, tim dari Jakarta seperti sudah kehilangan tenaga. Dan disaat itulah, Ujang dan kawan-kawan mulai memainkan kecepatan nya.
Polanya sederhana, ketika Ujang berhasil mendapatkan bola, tidak banyak berfikir, Ujang langsung menendang bola itu kedepan dan disana sudah siap striker yang bernama Asep untuk berlari.
Asep terjebak dari perangkat offside, dan berhasil lagi dan menjauh dari kejaran para pemain belakang SSB Pondok Bambu Jakarta Timur.
⚽Bukan hanya itu, Asep pun mampu menendang dengan keras sehingga merubah score menjadi satu kosong untuk keunggulan tim Ujang dan kawan-kawan.
PRIIIIIT....
Peluit berbunyi menandakan babak pertama selesai.
"Hebat kamu Jang..."
"Saya mencatat lebih dari enam tendangan berbahaya kamu tepis..." puji Fachri kepada Ujang.
"Terimakasih pujiannya coach..." sambut Ujang.
"Saya lihat diawal babak pertama permainan tidak seimbang..."
"Bahkan mereka sering sekali lolos dari jagaan pertahanan kesebelasan mu..."
"Diatas menit ke empat puluh mereka seperti kekurangan stamina..." kata Fachri yang terlihat heran.
Hehehehe....
Ditanya begitu oleh Fachri, Ujang hanya tertawa.
"Jawabnya satu coach..."
"Mereka kehabisan nafas..." kata Ujang.
"Kok bisa kehabisan nafas...?" tanya Fachri.
"Karena lapangan ini sangat tinggi dari permukaan air..."
"Dan oksigen disini sangat tipis..."
"Sehingga jika mereka tidak pintar untuk menyimpan energi..."
"Mereka mudah lelah karena rebutan oksigen..."
🏟️"Oh iya ya..."
"Sama seperti Estadio Hernandos Siles di Bolivia..."
"Stadion Hernandos itu berada di dataran tinggi..." kata Fachri sambil membandingkan lapangan bola di Cugenang Cianjur dengan Bolivia Amerika latin.
"Nah... Apakah coach Fachri punya tips untuk menghadapi situasi bermain bola di dataran tinggi....?" Tanya Ujang.
"Yang pertama... atur pernapasan..."
__ADS_1
"Yang kedua... Berenang atau berlari di air..."
"Yang ketiga... Lari progresif..."
"Yang keempat... Istirahat yang cukup..."
"Yang kelima... Menjaga nutrisi makanan..."
"Yang keenam... Maksimalkan posisi bermain..."jawab Fachri.
"Terimakasih atas analisanya coach..."
"Kita lanjut babak kedua..."
"Doain coach..."pinta Ujang.
"Siap..." jawab Diana, Fachri dan pak Sularjo.
PRIIIIIT...
Peluit berbunyi tanda pertandingan babak ke dua dimulai.
Lebih parah dari babak pertama, tim dari Jakarta itu dalam waktu lima belas menit sudah mengganti empat pemain cadangan. Rata-rata pergantian pemain dikarenakan kelelahan.
Sepertinya dibabak pertama, kekuatan Ujang dan kawan-kawan ada di kiper dan striker. Ujang dan Asep menjadi momok yang menakutkan tim dari Jakarta itu.
Asep menambah dua gol lagi dibabak kedua. Dimenit ke tujuh puluh dan delapan puluh dua. Dan diperhatikan Ujang dan kawan-kawan seperti tidak kehabisan nafas seperti tim dari Jakarta.
Ujang dan kawan-kawan seperti memiliki Nafas Kuda, dalam kata lain tidak ada capeknya. Berbeda dengan tim dari Jakarta yang sudah mulai tidak mampu bermain diatas lapangan sejak menit ketujuh puluh.
PRIIIIIT....
Peluit tanda berakhirnya babak kedua telah berbunyi. Ujang dan kawan-kawan menang menyakinkan dengan score tiga kosong untuk keunggulan Tim Pemuda Karang Taruna Cugenang Cianjur melawan Sekolah Sepakbola Pondok Bambu.
"Itulah sebabnya kami melakukan pertandingan persahabatan dengan Pemuda Karang Taruna Cugenang Cianjur dikarenakan Pasukan dari Cianjur ini seperti memiliki nafas kuda..." ujar pelatih dari SSB Pondok Bambu itu memberikan sepatah dua patah kata sambutan.
"Paman petani membawa sabit... Jalannya mundur menuju bukit... Mentari pagi beranjak terbit... Do'a kan kami segera bangkit..." pantun dari Pelatih dari SSB Pondok Bambu.
Aamiin....
Seluruh yang hadir semuanya mengamini.
"Selamat yang kang Ujang dan dan Asep..."
"Kalian bermain sangat bagus dan diatas rata-rata..." ucap Fachri.
"Sama-sama coach Fachri..."
"Semoga saya juga bermain di Harokah Football Club milik coach Fachri..." balas Asep yang mulai ingin berkarir sebagai pesepakbola profesional di Jakarta.
"Usiamu berapa Sep?" tanya Fachri pada Asep.
"Usia saya delapan belas tahun..." jawab Asep.
Tiba-tiba...
"Mas Fachri..."
"Diana boleh pegang tangan mas Fachri kah?"
"Loh emang kenapa?" Fachri bertanya balik.
"Diana cuma mau ngerasain aja sih gimana rasanya megang masa depan..." gombalan Diana.
"Asyik... sekarang udah jago ngegombal ya..." ujar Fachri.
__ADS_1
😆HAHAHA...
Mereka tertawa menikmati datangnya senja.