
Aku melingkarkan kedua tanganku dengan erat di lehernya, lalu kedua kakiku aku lingkaran di pinggangnya. Aku memeluknya seperti memanjat sebatang pohon. Aku benar-benar sangat takut pada anjing.
Kenapa mereka harus memelihara anjing sih? Aku sangat membenci dua ekor anjing itu beserta tuannya.
Aku melihat kedua pria menyebalkan itu menertawaiku. "Aku 'kan sudah bilang, tempat ini sangat berbahaya untukmu, jadi jangan coba-coba untuk kabur. Kamu ini keras kepala sekali," katanya, lalu kembali tertawa.
Aku melihat kedua anjing itu berdiri tidak jauh dari tuannya. Sepertinya kedua ekor hewan galak itu sedang mengancamku dengan memamerkan deretan gigi-giginya yang tajam.
Dasar. Anjing dan tuannya sama saja, sama-sama suka mengancam.
Aku semakin mempererat pelukanku saat pria pengancam ini mulai berjalan memasuki villa. Anehnya, kenapa kedua ekor hewan peliharaannya itu juga ikut mengantarku masuk. Membuatku semakin takut saja. Kalau begini 'kan aku tidak bisa berbuat apa-apa selain bergelantungan di leher tuannya seperti seorang anak yang sedang digendong oleh ayahnya.
Saat dia mulai menggendongku memasuki lift, si Kaaran brengsyek itu baru menyuruh anjingnya untuk berhenti mengikuti kami.
"Ringgo, Bingo, diam di situ," titah tuannya. Aku sangat takjub, kedua anjing itu langsung duduk dan memasang wajah imut ketika diperintah oleh tuannya. Tapi kenapa saat melihatku tadi, mereka sepertinya ingin menerkamku.
Setelah pintu lift tertutup rapat, aku merasa liftnya mulai bergerak naik. Hanya butuh waktu beberapa detik saja untuk kami sampai di lantai dua.
Ding. Pintu lift terbuka, dan sepertinya, kami sudah berada di dalam sebuah kamar.
Apa maksudnya ini? Aku yang masih merasa kebingungan belum berpikir untuk melepaskan tanganku yang melingkar erat di lehernya.
"Sampai kapan mau ku gendong?" tanyanya, membuatku malu dan langsung melompat turun ke lantai.
"Maaf, aku memang sangat takut pada anjing," ucapku malu-malu.
"Kamu aman disini, tidak akan bisa kemana-mana sebelum aku sendiri yang membiarkan kamu pergi." Aku melihatnya berjalan menuju tempat tidur sambil melepaskan jasnya.
Aku menyilangkan kedua tanganku di depan dada seraya berkata, "Jangan macam-macam! Aku belum menyetujui permintaanmu."
__ADS_1
Dia tersenyum miring, lalu kembali berjalan ke arahku sambil menggulung lengan kemejanya.
Pria yang benar-benar keren, tapi sayang, dia sangat brengsyek, dan aku sangat membencinya.
"Jangan panggil aku Kaaran Dirga kalau aku tidak bisa menikmatimu." Tiba-tiba saja dia menggendongku lalu melemparkan aku ke atas tempat tidur.
"Argh!" Aku memekik lalu beringsut mundur mencoba menjauh darinya. Aku sangat benci melihat wajah mesyumnya itu.
"Tolong, jangan lakukan itu padaku. Aku mohon." Aku menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhku. Aku benar-benar tidak rela dia merenggut mahkota yang selalu aku jaga dengan baik selama ini. Aku hanya ingin menyerahkan milikku yang berharga ini untuk seorang yang memang pantas mendapatkannya, yaitu suamiku kelak.
Aku mulai menangis memohon-mohon padanya agar tidak melanjutkan niat bejatnya itu. Tapi sepertinya dia tidak peduli sama sekali.
"Kamu tidak punya pilihan lain lagi selain melayaniku. Jika kamu ingin keluar dari tempat ini dengan selamat, serta membawa sejumlah uang yang kamu mau, maka menurutlah," katanya, lalu menggigit pelan daun telingaku, membuat bulu kudukku merinding saja.
"Hem, bau asam. Aku tidak suka bermain dengan wanita yang bau keringat." Dia lalu bangkit dari atas tempat tidur dan mulai menjauh dariku. "Menurutlah, ayo bangun. Kita mandi bersama sebelum mulai membuka acara kita pagi ini."
Aku menggelengkan kepalaku menolak ajakannya. Aku benar-benar belum siap sama sekali. Aku bahkan belum menyetujui permintaannya, kenapa kesannya dia memutuskan kesimpulan secara sepihak.
"Oh, ayolah Baby. Aku tidak suka bermain kasar, tolong, jangan memancing amarahku, aku paling tidak suka di tolak." Dia menarik sebelah tanganku agar aku mau ikut dengannya untuk mandi bersama di dalam kamar mandi.
Membayangkan mandi berdua dengan seorang laki-laki benar-benar bisa membuat aku gila. Kenapa aku harus ditakdirkan bertemu dengan laki-laki seperti ini.
"Ayolah." Aku menepis tangannya ketika dia kembali menarik tanganku.
Dia mendengus kasar, lalu duduk membelakangiku. Sepertinya mulai emosi karena aku tidak kunjung mau menurut padanya. Tapi biarkan saja dia marah, aku tidak takut sama sekali. Kalau dia ingin bertindak kasar, aku pasti akan melawannya nanti.
"Kenapa kamu keras kepala sekali?" tanyanya, lalu mengacak rambutnya dengan kasar, lalu berbalik menatapku.
Aku tidak menjawab, malah memilih untuk bersembunyi di balik selimut.
__ADS_1
"Aku tahu, saat ini kamu sedang butuh uang, aku bisa memberikan berapa pun yang kamu minta, berapa pun. Asalkan, kamu mau menurut dan melayaniku dengan baik. Aku juga pasti akan memberikan lebih kalau servismu memuaskan."
Aku memilih diam dan tidak menggubris ucapannya. Servis apa maksudnya? Aku tidak mengerti dengan hal begituan.
"Ayolah, Rania. Kamu hanya tinggal menyebutkan berapa banyak uang yang kamu inginkan. Sebutkanlah, aku pasti akan memberikan sebanyak yang kamu minta," katanya, sambil menatapku lekat-lekat.
"Apakah kamu berpikir aku sangat membutuhkan uangmu?" tanyaku, memberanikan diri untuk berbicara dengannya.
"Tentu saja. Aku tahu, hutang keluargamu akan jatuh tempo minggu depan. Iya 'kan?"
"Darimana kamu tahu? Oh aku tahu, kamu pasti bekerja sama dengan kak Aditya untuk menjebakku. Iya 'kan?"
"Jangan bawa-bawa Aditya, dia tidak bersalah. Jika saja Roy tidak mengancamnya untuk menggusur cafenya, dia pasti tidak akan buka mulut."
"Apakah kamu pikir, kamu bisa merendahkan harga diriku dengan uangmu?"
"Hei, Rania. Siapa yang ingin merendahkan harga dirimu? Harga dirimu ada di tanganmu sendiri. Kamu yang menentukannya, seberapa mahal harga dirimu itu." Aku melihatnya bangkit dari duduknya, lalu berdiri dan menghadap ke arahku.
"Aku beri kamu waktu untuk mempersiapkan diri. Mau tidak mau, kamu tetap harus melayaniku nanti. Asal kamu tahu, aku paling tidak suka ditolak. Jika kamu masih berpikir untuk menolakku nanti, aku tidak akan segan-segan berbuat kasar padamu." Dia berjalan menuju lift dan turun ke bawah setelah mengatakan itu padaku.
Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?
B e r s a m b u n g ...
..._____________________________________________...
...Dalam sehari 4 bab yaðŸ¤...
...Biar aku makin semangat nulis, jangan lupa tinggalkan jejak like dan komentar kalian ya😉 Kalau mau ngasih vote dan hadiah juga gak apa-apa.🤣🤠Aku malah makin seneng.😂ðŸ¤âœŒ...
__ADS_1