One Night Love Devil

One Night Love Devil
Beri Aku Kesempatan Bicara


__ADS_3

Hari demi hari berlalu, hingga tidak terasa sudah hampir 2 bulan semenjak suamiku kembali. Akan tetapi hubunganku dengannya masih belum kunjung membaik.


Bukan karena tidak adanya usaha untuk memperbaiki hubungan kami, akan tetapi aku yang tidak mau berbaikan dengannya.


Segala upaya dia lakukan agar aku mau memaafkannya, akan tetapi aku tetap tidak pernah mau peduli. Setiap kali dia ingin mengajakku berbicara dan meminta maaf padaku, aku selalu mencari cara untuk menghindar darinya.


Sebenarnya hatiku pun terkadang sedikit melunak melihat semua usaha yang dia lakukan selama hampir 2 bulan ini untuk berbaikan denganku. Dia selalu berusaha untuk menyenangkan aku. Akan tetapi aku tetap tidak mau memaafkannya begitu saja. Aku ingin memberinya pelajaran agar dia kapok dan tidak berani lagi mengulangi kesalahan yang sama untuk yang kedua kalinya. Ditambah lagi karena aku juga memang masih belum bisa sepenuhnya memaafkan semua kesalahannya yang terlalu menomor satukan bisnis ketimbang aku dan anak-anak.


Ya, aku tahu, dia bisa kaya raya seperti sekarang ini karena bisnisnya yang sangat sukses hingga menembus pasar internasional. Akan tetapi aku ini hanya seorang wanita biasa, aku membutuhkan perhatian suamiku, aku membutuhkan kasih sayang darinya, pelukan hangatnya, dimanja olehnya, juga aku sangat membutuhkan cinta yang banyak darinya, tidak peduli mau seberapa banyak kekayaan pun yang dia miliki.


Buat apa hidup bergelimang harta tapi hati terasa kosong dan hampa. Buat apa hidup bergelimang harta tapi hidup seperti di penjara.


Ya, hingga detik ini dia tidak kunjung memberiku kebebasan untuk melihat dunia luar. Hal itu membuat aku semakin kesal saja padanya. Entah apa alasannya sehingga dia terus-terusan saja mengurungku seperti seorang tahanan di dalam villa ini. Padahal, sudah hampir setengah tahun aku tidak melihat dunia luar. Tidak pernah kah dia berpikir betapa bosannya aku dikurung di sini terus-menerus?


Andai saja dia mau memberiku kebebasan, mungkin aku akan mempertimbangkan kesalahannya dan berusaha untuk memaafkan semua kesalahannya.


Semenjak menikah dengannya, sekali pun aku tidak pernah diajak jalan-jalan. Jangankan jalan-jalan ke taman wisata, pergi ke mall saja tidak pernah, apalagi ke luar negeri.

__ADS_1


Bisakah para pembaca sekalian membayangkan betapa bosan dan jenuhnya aku selama ini? Untuk apa memiliki harta yang melimpah, tapi tidak bisa dipakai untuk bersenang-senang? PERCUMA.


Sebenarnya aku pun sangat ingin jalan-jalan bersama suamiku seperti pasangan lain pada umumnya. Makan romantis di restoran berdua, menonton bioskop, jalan-jalan ke taman, dan lain sebagainya.


Pernah sekali aku merengek meminta ijin padanya untuk berbelanja pakaian di mall, karena waktu itu baju-bajuku sudah tidak muat lagi karena berat badanku naik drastis saat hamil si kembar. Bukannya dia membawaku ke mall untuk berbelanja, jalan-jalan sekaligus cuci mata, justru malah toko baju yang ada di mall yang dia pindahkan ke villa. Dasar. Apa pun dia lakukan seenaknya.


Oh iya, sekarang ini usia Zoe dan Zack sudah hampir menginjak usia 4 bulan. Semakin hari mereka tumbuh semakin besar dan semakin menggemaskan pula. Semakin hari wajah Zoe juga semakin mirip denganku, begitu pula dengan Zack, putraku itu semakin tumbuh dia semakin mirip dengan daddy-nya. Mereka benar-benar sangat menggemaskan.


Saat ini aku dan suamiku masing-masing menggendong si kembar untuk berjemur. Dia menggendong Zoe, sedangkan aku yang menggendong Zack.


"Zack, apa kamu dan Zoe tidak penasaran seperti apa dunia di luar sana, Sayang? Meski pun tempat di villa ini sangat indah dan nyaman untuk ditempati, akan tetapi di luar sana juga banyak tempat yang tidak kalah indahnya. Mommy berharap, suatu saat nanti kalian juga bisa melihat dunia luar yang Mommy bilang indah itu."


Aku mengajak putraku berbicara, tapi sebenarnya aku sedang menyindir daddy mereka. Saat ini dia sedang duduk di salah satu kursi teras tepat di belakangku sambil memangku Zoe.


Setelah mengatakan kalimat-kalimat sindiran itu, aku pun menggendong Zack masuk ke dalam kamar. Semoga saja suamiku bisa mengerti dan tidak terus mengurungku disini hingga bertahun-tahun lamanya bersama anak-anak, karena mungkin saja aku bisa berakhir menjadi gila jika dia terus-terusan menjadikanku tawanan di dalam villa ini.


.

__ADS_1


Setelah memandikan lalu menidurkan si kembar, aku pun kembali ke kamarku. Saat ini Zoe dan Zack sedang dijaga oleh suster Lili dan suster Ria, jadi aku tidak perlu khawatir meninggalkan mereka.


Saat aku hendak menutup pintu kamarku, tiba-tiba saja sebuah tangan besar menahannya. Tanpa melihat pemiliknya pun aku sudah tahu siapa orangnya.


"Ada apa lagi?" tanyaku dengan nada dingin.


"Sayang, izinkan aku masuk. Tolong beri aku kesempatan untuk berbicara denganmu," ucapnya.


"Aku rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Bukankah aku sudah pernah mengatakan sebelumnya bahwa aku butuh waktu 3 tahun untuk memaafkan semua kesalahanmu." Aku berkata sembari berusaha menutup hingga rapat.


"Sayang, tolong jangan bicara seperti itu." Dia berkata sembari menerobos masuk ke dalam kamarku.


"Eh, eh, eh! Siapa yang mengijinkamu masuk?! Keluar sana! Keluar!" Aku berkata dengan nada setengah berteriak sambil berusaha mendorongnya keluar dari kamarku. Tapi justru dia malah mendorong pintu hingga tertutup rapat lalu menguncinya dari dalam.


Melihat hal itu, aku langsung membulatkan mataku lebar-lebar. "Kamu mau apa?! Jangan berani macam-macam!"


B e r s a m b u n g ...

__ADS_1


__ADS_2