One Night Love Devil

One Night Love Devil
Jadi Jelek Karena Gemuk?


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian.


Tidak terasa waktu bergulir dengan cepat, dan sekarang usia kandunganku sudah menginjak usia 7 bulan.


Pagi ini saat aku membuka mata, yang pertama kali aku lihat adalah kepala suamiku yang sedang menempel di perutku yang sudah terlihat membesar.


Pagi-pagi begini sebelum dia meninggalkan tempat tidur, hal pertama yang akan dia lakukan adalah mengajak kedua anak kami yang masih bersembunyi di dalam perut berbicara.


Ya, aku hamil anak kembar, laki-laki dan perempuan. Mengetahui hal itu aku dan suamiku menjadi semakin bahagia. Sejak beberapa bulan lalu, saat suamiku tahu bahwa aku mengandung dua anaknya sekaligus, dia menjadi semakin memanjakanku.


Selama beberapa bulan ini, aku begitu puas mengerjainya. Seorang Kaaran Dirga, CEO nomor satu di negeri ini, yang terkenal kejam dan dingin, bisa tunduk dan rela melakukan apa saja demi aku dan kedua anaknya yang masih berada di dalam perutku.


Selama hamil, tidak jarang aku mengidam hal yang aneh-aneh dan lebih cenderung merepotkan bin menyebalkan. Akan tetapi dengan wajah tersenyum, suamiku akan tetap mengabulkan semuanya untukku.


Saat ini aku melihatnya tertawa sambil mencium perutku beberapa kali. Saat melihat anaknya merespon ucapannya dengan tendangan, dia pasti akan tertawa senang seperti sekarang ini.


"Daddy," panggilku.


"Iya, Sayang. Kamu sudah bangun. Apa aku mengganggu tidurmu?" Dia berkata sambil beralih dari perutku. Sekarang dia mencium keningku, kedua pipi, dan bibirku secara bergantian. Sepertinya hal itu sudah menjadi hal wajib yang tidak boleh dia lewatkan selama beberapa bulan ini kami menikah.


Aku menggeleng. "Tidak."


"Harin ini kamu mau makan apa Sayang?" tanyanya.

__ADS_1


Hal kedua yang sudah menjadi kegiatan rutinnya adalah, dia akan menyiapkan sarapan atau pun makanan untukku sebelum dia berangkat ke kantor.


Selama beberapa bulan ini, kemampuan memasaknya menjadi semakin baik. Dia bahkan pernah mendatangkan beberapa chef ternama dari dalam negeri mau pun dari luar negeri. Dia mengundang chef-chef itu untuk mengajarinya memasak. Dia belajar dengan cepat sekali, dan dalam waktu singkat, dia bisa menguasai beberapa jenis masakan. Seperti masakan nusantara, western, dan masakan Jepang.


Menurut asisten Roy, suamiku memiliki IQ 180, tidak heran jika dia bisa cepat menguasai setiap hal baru yang dia pelajari. Dan saat dia pertama kali memasak untukku waktu itu, dia bisa meniru resepnya dengan sangat baik dan sama persis. Rupanya, dia memiliki otak yang sangat cerdas.


Setelah suamiku turun ke dapur untuk memasak untukku, aku pun segera bangkit dari tempat tidur dan segera masuk ke kamar mandi.


Usai mandi di dalam kamar mandi, aku melihat pantulan diriku yang sudah berubah hampir 180° hanya dalam waktu beberapa bulan saja. Semenjak hamil, berat badanku sudah naik hampir 30 kg. Yang dulunya 50 kg sekarang sudah 78 kg. Peningkatan yang cukup drastis, dan kemungkinan besar meningkat lagi masih sangat besar sebelum akhirnya aku melahirkan.


Tiba-tiba aku insecure sendiri melihat bentuk tubuhku yang sekarang. Banyak lemak dimana-mana. Jangan-jangan, setelah aku melahirkan nanti, suamiku akan langsung membuangku karena aku sudah berubah menjadi perempuan jelek karena badanku yang gemuk? Oh tidak, jangan sampai hal itu terjadi.


Karena pikiran negatif itu, tiba-tiba aku menjadi badmood. Dan dengan wajah cemberut, aku berjalan keluar dari kamar mandi.


Aku duduk bersandar di sofa dengan wajah cemberut. Apa jangan-jangan selama ini badanku jadi gemuk karena aku kurang gerak dan jarang berolahraga.


Selama aku tinggal di sini, suamiku memang sangat memanjakan aku dan rela melakukan apa saja demi aku. Tapi sayangnya, aku bagai dikurung di dalam sangkar emas. Aku tidak bebas pergi kemana pun yang aku mau. Aku tidak boleh keluar melewati pagar villa tanpa suamiku. Bisa dibilang, aku hanya melihat dunia luar sekali sebulan. Itu pun saat kami pergi ke rumah sakit untuk mengontrol kandunganku.


Ting. Lift terbuka, ku lihat suamiku keluar dari sana. Seperti biasa, dia membawa beberapa jenis makanan dan minuman dalam satu nampan. Melihatnya sudah seperti pelayan saja.


"Sayang, kenapa kamu cemberut? Apa terjadi sesuatu?" tanyanya seraya meletakkan nampan yang dia bawa di atas meja.


Bukannya menjawab, aku malah semakin memanyunkan bibirku.

__ADS_1


"Loh, kok makin cemberut? Ada apa? Katakan padaku? Apa kamu menginginkan sesuatu?" Dia bertanya sambil duduk di sampingku, lalu merangkulku bahuku dengan mesra.


Aku masih tidak menjawab. Sekarang aku malah menatap wajahnya dengan lekat sambil masih mengerucutkan bibirku.


"Sayang, apa aku melakukan kesalahan? Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanyanya lagi.


"Lihat aku. Apa sekarang aku sudah berubah jadi perempuan jelek?" kataku, balik bertanya.


"Sayang, apa yang kamu katakan?" tanyanya kebingungan. "Katakan padaku, apa ada orang yang mengataimu jelek? Katakan padaku siapa orangnya? Aku akan memberinya pelajaran. Berani-beraninya mengatai istriku jelek." Dia berkata dengan wajah kesal. Itu karena dia berpikir bahwa ada orang yang mengataiku jelek. Padahal, aku sendiri yang berpendapat seperti itu.


"Kalau semakin hari aku makin berubah menjadi semakin gemuk, apa kamu akan membuangku setelah aku melahirkan anak-anakmu nanti?" Bukannya menjawab pertanyaannya, aku malah balik bertanya pertanyaan yang aneh-aneh padanya.


"Sayang, kamu ini bicara apa? Kapan aku berkata seperti itu? Bukannya aku pernah bilang, bahwa kamu satu-satunya wanita yang aku pilih untuk menjadi ibu dari anak-anakku. Kamu lupa itu?" tanyanya sambil menangkup kedua pipiku, dan aku menjawab pertanyaan di akhir kalimatnya dengan gelengan kepala.


"Sebenarnya tidak ada yang mengataiku jelek, hanya saja ... aku sendiri yang berpikir seperti itu. Lihat saja tubuhku sekarang, sudah tidak ada bentuk. Makin hari aku makin bertambah gemuk. Lihat juga wajahku, sudah tidak tirus seperti dulu lagi. Lengan dan betisku malah lebih mirip dengan punya tukang pukul."


Dia tersenyum. "Siapa bilang kamu berubah menjadi jelek karena gemuk, hm? Justru ini pertanda bahwa aku sudah memberikan kehidupan yang layak untukmu. Dan juga bisa berarti kamu bahagia menikah denganku. Iya, 'kan?"


Dia menjeda sejenak ucapannya sebelum kembali melanjutkan.


"Sayang, tidak apa-apa kalau sekarang kamu memiliki badan yang gemuk. Kamu memang harus makan yang banyak untuk memenuhi nutrisi kedua anak kita yang masih ada di dalam perut kamu. Memangnya kamu mau, nanti kalau anak kita sudah lahir badannya kecil-kecil karena kurang gizi sejak dalam kandungan, tidak, 'kan? Lagi pula ... kamu malah terlihat semakin seksye dengan badan yang lebih berisi seperti sekarang ini," ucapnya lalu tertawa sambil membawaku ke dalam pelukannya.


Aku menyandarkan kepalaku pada dada bidang nan kokoh milik suamiku. Dulu, aku memang sangat membenci pria ini, tapi lama kelamaan aku merasa sangat nyaman berada di dekatnya. Ditambah lagi dia memperlakukanku bak Ratu. Padahal, biasanya dia yang diperlakukan bak raja oleh orang lain, tapi aku sendiri malah memperlakukannya seperti budak.

__ADS_1


B e r s a m b u n g ...


__ADS_2