One Night Love Devil

One Night Love Devil
Hari H


__ADS_3

Aku berdiri di depan sebuah cermin besar menatap penampilanku yang sekarang. Benar-benar pangling. MUA itu sungguh menyulapku menyerupai seorang barbie hidup.


"Sayang, kamu sudah siap?" Suara pertanyaan suamiku tiba-tiba saja mengejutkanku, aku pun lalu menoleh dan tersenyum padanya.


"Sudah," jawabku.


"Kamu cantik sekali Sayang," ucapnya begitu sudah berdiri di hadapanku.


Aku tersenyum. "Terima kasih."


"Kalau begitu ayo kita keluar Sayang."


Ayo, tapi anak-anak dimana, Dad?" tanyaku. "Aku sudah 2 jam tidak melihat mereka."


"Mereka sedang minum susu di kamar sebelah," jawab suamiku.


Saat ini kami semua sedang berada di dalam hotel tempat kami melangsungkan resepsi.


"Kalau begitu aku ingin menemui mereka dulu sebelum kita keluar," ucapku.

__ADS_1


Aku dan suamiku pun segera beranjak menuju kamar dimana si kembar berada. Terlihat di sana ada ibu, Rina, suster Lili, suster Ria, juga Audrey, istrinya dokter Raymond.


...(Yang penasaran dokter Raymond itu siapa, bisa baca di novel Raniaku, Canduku)...


"Sayang, anak-anak Mommy. Kalian sudah kenyang, ya?" Aku mengajak keduanya berbicara, dan mereka hanya menanggapi ucapanku dengan memamerkan gusi-gusi mereka yang belum ditumbuhi gigi.


Aku lalu mencium kedua anakku dengan gemas secara bergantian, lalu menggendong Zoe yang sepertinya meminta untuk digendong olehku.


Saat ini aku menggendong putriku, sedangkan putraku digendong oleh daddy-nya.


"Loh loh loh, kok kalian malah mengantuk sih, Nak?" Aku berkata saat melihat Zoe dan Zack menguap secara bergantian.


"Maaf Nona, Tuan Muda Kecil dan Nona Muda Kecil memang belum tidur semenjak mereka bangun tadi pagi," ucap suster Lili.


"Baik, Nona."


Suster Lili pun lalu mengambil alih Zoe dari gendonganku, begitu juga dengan Zack yang sekarang sudah berada di dalam gendongan suster Ria.


"Kalau begitu, ayo kita ke ruang resepsi sekarang juga Sayang. Anak-anak nanti akan menyusul setelah mereka terbangun," ajak suamiku.

__ADS_1


Kami semua pun lalu meninggalkan anak-anak di sana bersama kedua babysitter mereka. Di depan kamar hotel tempat si kembar tidur, suamiku sudah menugaskan 5 orang pria berbadan besar untuk memastikan keamanan si kecil saat kami tinggal.


.


.


Sesampainya kami di ballroom hotel Galaxy, terlihat para tamu sudah memenuhi meja dan kursi tamu. Di kursi yang paling depan di depan sana sudah terlihat dad Robin, ayah angkat suamiku bersama dokter Raymond. Sebelum kami naik ke atas pelaminan, terlebih dahulu kami menyapa mereka beserta tamu-tamu yang lain.


"Selamat atas pernikahan kalian berdua," ucap dad Robin. Pria paruh baya yang masih terlihat bugar itu lalu berpelukan dengan suamiku. Sepertinya hubungan mereka sangat baik.


"Terima kasih, Dad," ucap suamiku. Sementara aku hanya tersenyum sambil mengangguk sopan dan mengucapkan terima kasih pula padanya.


"Selamat ya. Setelah sekian lama, kalian akhirnya bisa melangsungkan resepsi pernikahan." Kali ini dokter Raymond yang mengucapkan selamat pada kami.


"Terima kasih, Dok," ucapku.


"Terima kasih Ray atas semua bantuanmu selama ini. Aku berhutang budi banyak padamu. Suamiku berkata seraya memeluk sahabat baiknya tersebut.


"Ck, kenapa kamu berterima kasih lagi, bukankah aku sudah pernah bilang, bahwa sesama sahabat tidak seharusnya mengucapkan terima kasih. Aku melakukannya karena memang sudah seharusnya aku membantu sahabat yang sudah aku anggap sebagai saudaraku sendiri," kata dokter Raymond.

__ADS_1


Sementara itu aku hanya berdiri mematung menatap keduanya yang saling berpelukan. Aku sama sekali tidak mengerti arah pembicaraan kedua pria itu. Tapi sepertinya dokter Raymond sudah melakukan sesuatu hal yang sangat membantu suamiku. Aku jadi penasaran, kira-kira apa itu?


B e r s a m b u n g ...


__ADS_2