
"Lepaskan tangannya! Jangan pernah berani-berani menyentuh wanitaku."
Suara yang sangat aku kenal itu begitu mengejutkan. Namun, aku langsung tersenyum saat mengetahui siapa yang datang.
"Lepaskan." Aku menghempaskan tanganku dari cengkeraman laki-laki kurang dihajar tersebut. Setelah tanganku lepas, aku segera berjalan menghampiri suamiku.
"Kamu tidak apa-apa, 'kan?" tanyanya setelah tangan kanannya berhasil merangkul bahuku. Dia terlihat sangat khawatir padaku, dan aku langsung menepis kekhawatirannya itu dengan berkata, "Aku tidak apa-apa dan aku baik-baik saja."
"Halo Kak, lama tidak bertemu." Pria itu berkata setelah dia berbalik menghadap ke arah kami.
Kak? Apa maksudnya ini? Aku benar-benar tidak mengerti. Malam ini aku benar-benar dibingungkan oleh dua hal. Ada seseorang yang dipanggil dengan sebutan 'Dad' oleh suamiku, tapi aku tidak mengenalnya sama sekali. Aku tidak habis pikir dengan hubungan pernikahan kami, bagaimana mungkin suamiku tidak mengenalkan aku pada orang tuanya, bukankah hal seperti itu wajib untuk dilakukan.
Dan hal yang kedua, sekarang pria yang aku anggap kurang dihajar tersebut ternyata memanggil suamiku dengan sebutan 'Kak'. Apa mungkin dia adik iparku? Tapi kenapa suamiku tidak mengenalkan aku pada anggota keluarganya? Padahal kami sudah menikah selama hampir sebulan. Seberapa pentingkah kami menyembunyikan status pernikahan kami sampai-sampai aku tidak diperkenalkan pada anggota keluarganya.
Tapi ... jika laki-laki kurang dihajar tadi adalah adik iparku, lalu kenapa dia ingin merebut wanita milik kakaknya sendiri? Huft ... hal ini benar-benar sangat membingungkan, dan aku benar-benar tidak mengerti. Sebenarnya apa yang dirahasiakan suamiku dariku.
"Sayang, sebaiknya kamu kembali saja ke mobil dan tunggu aku di sana." Dia berkata sambil berbisik padaku.
Tidak lama kemudian asisten Roy tiba-tiba saja datang menghampiri kami. "Nona, mari ikut saya."
Karena tidak punya pilihan lain, aku pun lebih memilih untuk menurut. Lagi pula, aku juga merasa tidak cocok untuk berada di tempat ini lebih lama. Aku takut kembali bertemu dengan orang yang sama seperti laki-laki kurang dihajar tadi.
.
Sekitar 1 jam aku menunggu bersama asisten Roy di dalam mobil, tapi suamiku tidak kunjung keluar juga. Apa mungkin dia ingin menunggu sampai acaranya itu selesai baru dia akan keluar. Lalu sampai kapan kami akan menunggunya di sini?
Aku yang ingin mengurangi kebosanan akhirnya memilih untuk mengajak asisten Roy mengobrol.
"Asisten Roy," panggilku pada asisten Roy yang duduk di jok depan di balik kemudi.
"Iya Nona, ada yang bisa saya bantu," tanyanya sambil menoleh ke arahku.
"Tidak apa-apa, aku hanya bosan saja menunggu di sini, jadi aku memutuskan untuk mengajakmu mengobrol," jawabku, dan asisten Roy hanya terdiam tidak menanggapi ucapanku.
"Asisten Roy, apa kamu tahu siapa orang tua suamiku?" tanyaku kemudian. Sebenarnya hal itu sudah membuat aku sangat penasaran sejak tadi.
__ADS_1
Asisten Roy yang aku tanyai malah terdiam dan tidak menanggapi ucapanku sama sekali.
"Asisten Roy, kamu dengar tidak? Kenapa diam saja?" tanyaku lagi.
"Maaf Nona, saya tidak mempunyai hak untuk menjawab pertanyaan tersebut. Jika Anda penasaran, sebaiknya Anda tanyakan sendiri langsung pada tuan Kaaran nanti," jawabnya.
Aku berdecak kesal. "Ck, kamu ini. Apa susahnya sih menjawab pertanyaan yang segampang itu?"
"Maaf Nona. Menjawab pertanyaan Anda tentang hal itu bukan bagian dari pekerjaan saya," jawabnya.
Seketika aku menjadi kesal pada asisten Roy, rasanya aku ingin melempar kepalanya menggunakan kotak tissu. Dasar pria menyebalkan, dingin, dan berwajah datar.
"Ya sudah, kalau begitu bawa aku pergi dari sini. Carikan aku makanan. Aku lapar." Aku berkata dengan nada ketus. Padahal, aku baru saja selesai makan sekitar 1 jam yang lalu, tapi entah mengapa aku merasa lapar lagi.
"Tunggu sebentar Nona, saya harus minta ijin terlebih dahulu pada tuan Kaaran. Kalau tuan Kaaran tidak mengijinkan, kita tidak boleh meninggalkan tempat ini," jawabnya yang langsung membuatku mendengus kesal.
"Ya sudah, cepat hubungi sekarang juga," titahku.
"Baik, Nona."
"Nona, tuan Kaaran berkata, kita tidak boleh meninggalkan tempat ini tanpanya," kata asisten Roy setelah menghubungi suamiku.
"Apa?! Apa kamu tidak bilang padanya kalau aku sekarang sedang lapar?"
Aku yang saat ini sedang dalam mode sensitif karena bosan menunggu sekaligus kelaparan hanya bisa melampiaskan kekesalanku pada asisten Roy.
Entah mungkin karena pengaruh hormon kehamilan, akhir-akhir ini aku jadi gampang sekali emosi, apalagi kalau sudah kelaparan seperti sekarang ini.
"Saya sudah mengatakannya Nona, tapi tuan Kaaran berkata, sebentar lagi dia akan keluar dari sana," jelasnya, dan membuatku kembali mendengus kesal.
Berselang 5 menit kemudian, suamiku akhirnya datang dengan langkah terburu-buru.
"Maaf Sayang, aku membuatmu menunggu lama." Dia langsung memelukku begitu dia masuk ke dalam mobil.
"Kenapa kamu lama sekali? Aku sudah bosan sekali menunggu, dan sekarang aku lapar," ucapku seraya cemberut.
__ADS_1
Cup. Dia mengecup bibirku sekilas sambil tersenyum.
"Jangan marah Sayang. Aku benar-benar minta maaf. Tadi aku bertemu dengan banyak orang penting, aku tidak bisa meninggalkan mereka begitu saja di dalam sana. Jangan marah ya," jelasnya lagi.
"Ya sudah, kalau begitu, kita pulang sekarang. Aku mau makan masakan kamu lagi."
Sejenak dia terdiam, lalu berkata padaku, "Sayang, kamu serius ingin memakan masakanku jam segini? Ini sudah hampir jam 10 malam loh, dan kita juga butuh waktu setengah jam untuk sampai di rumah."
"Aku tidak peduli. Pokoknya anak kita maunya makan masakan kamu," aku berkata sambil memanyunkan bibirku.
"Ya sudah. Memangnya kamu mau makan apa?" tanyanya.
"Bukan aku, tapi anak kita," protesku.
"I-iya Sayang, anak kita," ucapnya lalu tangan kanannya beralih mengelus perutku. "Sayang, anak Daddy. Anak Daddy mau makan apa? Nanti Daddy buatkan."
"Mm ... anak kita mau makan sate katanya," jawabku sambil mengulum senyum. Dengan menggunakan alasan anak yang ada di dalam perutku, dia pasti rela diperintah ini itu.
Setengah jam kemudian. Kami akhirnya sampai di villa. Suamiku langsung berjalan menuju dapur untuk bersiap-siap membuatkan sate untukku. Sementara aku, aku langsung naik ke kamar karena sudah merasa sangat kelelahan dan mengantuk. Aku juga ingin segera berganti pakaian karena aku merasa kurang nyaman memakai pakaian seperti ini.
Setelah membersihkan riasanku dan mengganti gaun pestaku dengan piyama tidur, aku pun langsung merebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Rasa laparku sudah hilang saat tadi aku menenggak air minum saat dalam perjalanan pulang menuju ke sini.
.
.
"Sayang, bangun Sayang. Satenya sudah jadi," katanya sembari berusaha membangunkanku yang sudah tertidur nyenyak sejak tadi.
"Tidak mau, kamu saja yang makan. Aku sangat mengantuk, mau tidur," jawabku lalu kembali melanjutkan tidurku.
B e r s a m b u n g ...
...__________________________________________...
...Makin kesini makin sepi ya guys😅😭...
__ADS_1