
Tidak terasa sudah satu bulan lamanya suamiku pergi namun belum juga ada tanda-tanda dia akan kembali. Padahal, jadwal persalinanku tinggal menghitung hari.
"Daddy, kapan kamu pulang? Kenapa urusan bisnismu tidak kunjung selesai juga sih? Ini 'kan sudah 1 bulan kamu di sana," tanyaku padanya saat kami sedang melakukan video call.
Pertanyaan itu hampir setiap hari aku tanyakan padanya, tapi jawabannya tetap sama. Membuatku jadi sedih dan semakin kesal saja padanya.
"Tidak lama lagi Sayang. Sabar ya."
Selama setengah bulan ini, jawabannya cuma itu-itu saja. Lama-lama aku jadi bosan mendengarnya.
"Daddy, tidak kah kamu mengingat bahwa jadwal persalinanku tinggal menghitung hari lagi? Apa kamu tidak ada niatan sama sekali untuk menemaniku saat aku berjuang melahirkan anak-anak kita nanti?" tanyaku padanya.
Seketika mataku mulai berkaca-kaca. Sepertinya aku akan menangis lagi. Entah mengapa jika aku membahas mengenai perjuangan antara hidup dan mati tersebut, perasaanku menjadi sangat sensitif. Apalagi jika membayangkan aku akan berjuang sendiri tanpa sosok seorang suami di sampingku.
"Akan aku usahakan Sayang. Tapi aku juga tidak bisa berjanji karena aku takut tidak bisa menepatinya," jawabnya.
__ADS_1
Mendengar jawaban suamiku, seketika membuat hatiku nyeri. Air mataku tidak bisa lagi aku bendung. Selama 1 bulan ini dia pergi, maka selama itu pula aku sering menagis setiap hari. Bahkan sebelum dia pergi pun aku memang sudah sering menangis diam-diam karena aku merasa dia sudah tidak perhatian lagi padaku.
Intinya, selama 2 bulan terakhir aku merasa perhatian dan kasih sayang suamiku sangat berkurang padaku.
"Sayang, kenapa kamu menangis lagi? Please ... jangan menangis lagi. Aku tidak sanggup melihatnya," ucapnya seraya memalingkan wajahnya.
"Ak-aku menangis jug-juga gara-gara ka-mu. Kalau ka-mu sudah tidak sa-yang lagi sama ak-aku, bilang sa-ja. Jangan ja-dikan bisnis se-bagai alasan." Gara-gara menagis, bicaraku sampai tersendat-sendat.
"Astaga Sayang ... harus berapa kali sih aku bilang? Aku mana berani mengkhianati kamu? Aku memang pergi karena ada urusan, bukan karena bosan sama kamu. Apalagi karena ingin mencari perempuan lain."
"Bo-hong. Aku ti-dak percaya."
"Sayang, please ... jangan menangis. Pikirkan anak-anak kita yang ada di dalam kandungan kamu. Kalau kamu sedih, mereka pasti juga akan sedih."
Sebelum membalas ucapannya, aku menyeka air mataku terlebih dahulu.
__ADS_1
"Lebih sedih lagi kalau mereka lahir tapi Daddy-nya tidak ada."
Meski pun selama ini komunikasi kami sangat lancar melalui video call, akan tetapi aku masih merasa ada yang kurang. Aku tetap saja merindukan suamiku. Aku menginginkan sosoknya kembali menemani hari-hariku seperti dulu. Aku merindukan kehangatan pelukannya, aku merindukan dimanja olehnya. Pokoknya segala hal tentang dia aku sangat merindukannya.
"Sayang, aku mohon mengertilah. Pekerjaan ini juga tidak kalah penting-" Aku langsung memotong ucapannya.
"Pokoknya aku tidak mau lagi menerima alasan. Kalau nanti kamu tidak pulang saat aku melahirkan, aku tidak mau bicara lagi sama kamu."
Tut tut tut.
Aku langsung mengakhiri sambungan telepon kami. Makin lama sikap suamiku semakin membuat aku kesal. Aku benci dia yang sekarang. Huhuhu.
B e r s a m b u n g ...
..._______________________________________...
__ADS_1
...Dikit banget. Aku udah ngantuk banget nih🥱 Bentar lagi tengah malam. Kalo siang rasanya agak susah ngetiknya. Loyo-loyo gimana gitu😅 Jadi habis buka baru bisa nyicil, yang penting up nya gak bolong....
...Jangan lupa dukungannya ya biar aku bisa semangat lagi nulisnya....