
Aku hanya bisa menangis meratapi nasibku. Kenapa hidupku jadi sangat sulit seperti ini, Tuhan? Cobaanmu sungguh berat, rasanya aku tidak sanggup.
Cukup lama aku menangis. Mungkin hampir setengah jam. Tiba-tiba aku teringat pada ibu. Tadi saat aku masih berada di lokasi stasiun, ibu sempat menelponku, tapi sayangnya daya ponselku habis.
Aku segera mengeluarkan ponsel beserta charger-nya dari dalam slingbagku. Ku lihat di salah satu sisi dinding ruangan ini ada colokan listrik, aku bisa mengisi daya ponselku di sana.
Sekitar 10 menit kemudian. Aku mulai menyalakan ponselku kembali tanpa melepaskannya dari charger. Aku ingin menelpon ibu balik dan menanyakan kenapa beliau menelponku pagi-pagi sekali seperti tadi.
"Halo, Bu," ucapku saat ibu menjawab panggilan teleponku di seberang sana.
"Halo, Nia ..." jawab ibu. Suaranya terdengar sangat lirih, tidak seperti biasanya. Seketika aku merasa khawatir pada beliau.
"Iya, Bu. Ibu tidak apa-apa, 'kan?" tanyaku, dan ibu malah terdiam.
"Bu, Ibu. Ibu masih di sana, 'kan?"
Seketika perasaanku menjadi tidak enak. Apa terjadi sesuatu pada ibu? Jika memang demikian, apa yang harus aku lakukan? Untuk keluar dari tempat ini saja aku tidak bisa.
"Halo, halo. Ibu bisa mendengar Nia 'kan, Bu?" ucapku lagi, namun masih belum ada sahutan.
Apa mungkin sinyalnya jelek? Pikirku. Namun setelah aku cek, sinyalnya penuh. Aku jadi semakin yakin, pasti terjadi sesuatu pada ibu, tapi beliau masih belum sanggup untuk memberitahukan hal itu padaku.
"Kak Nia ...." Tiba-tiba aku mendengar suara adikku, Rina, yang menyahut di seberang sana.
"Halo Dek, Ibu kenapa? Kenapa teleponnya ada di kamu?" tanyaku. Tidak salah lagi. Pasti terjadi sesuatu pada ibu.
"Kak Nia, Ibu ... Ibu masuk rumah sakit Kak."
Dug. Seketika jantungku berdetak kencang. Aku merasa sangat terkejut sekaligus khawatir mendengar kabar tersebut.
__ADS_1
"Apa Dek? Ibu sakit?"
"Iya, Kak. Semalam penyakit Ibu kambuh, jadi tadi pagi, saat Ibu menelpon Kak Nia, Ibu mau dibawa ke rumah sakit. Tapi tiba-tiba telepon Kak Nia mati, dan tidak bisa dihubungi setelahnya," jelas Rina.
Mendengar penjelasan adikku, aku hanya bisa menangis sambil menutupi mulutku dengan tangan. Ya Tuhan ... belum selesai masalahku yang satu, sekarang ditambah lagi dengan beban pikiran yang lainnya. Sepertinya masalah hidupku benar-benar tiada habisnya.
"Kak, Kak Nia. Kakak masih di sana, 'kan?" panggil Rina.
"I-iya. Kakak masih di sini kok, Dek. Jadi ... bagaimana keadaan Ibu sekarang? Apa dokter sudah memeriksanya?" tanyaku, sambil menyeka air mataku.
Aku sangat berharap, semoga saja penyakit ibu tidak parah dan bisa segera keluar dari rumah sakit.
"Mm ... anu, Kak."
"Eh, anu apa?"
"Kata dokter ... Ibu harus ... Ibu harus segera dioperasi Kak."
Plak! Seketika ponselku lepas dari genggaman tanganku, dan terjatuh ke lantai. Disaat seperti ini apa yang harus aku lakukan. Ibu harus segera dioperasi, sedangkan uang yang aku kumpulkan untuk membayar hutang saja belum cukup, masih kurang 100 juta. Jika ditambah dengan biaya operasi ibu dan biaya pengobatan setelahnya pasti jumlahnya tidak sedikit.
Aku menangis sejadi-jadinya sambil bersandar di tembok. Aku tidak sanggup lagi berbicara dengan adikku. Aku benar-benar putus asa dan sangat kacau. Tidak tahu harus berbuat apa lagi ke depannya.
Ting!
Tiba-tiba, aku mendengar pintu lift terbuka. Sebisa mungkin aku berusaha untuk berhenti menangis. Aku takut, yang datang adalah pria brengsyek itu. Jika dia ingin memaksaku untuk melayaninya, maka aku harus bersiap-siap untuk melawan.
Aku bisa bernapas lega saat melihat yang datang malah seorang wanita paruh baya yang sepertinya seumuran dengan ibu, perawakannya juga mirip dengan beliau, tinggi badannya, juga postur tubuhnya. Dia membawa sebuah nampan berisi makanan beserta sebuah kotak kado.
Kotak kado? Untuk apa kotak kado itu. Pikirku.
__ADS_1
Wanita paruh baya itu sekarang sudah berdiri di hadapanku, sedangkan aku mulai menyeka air mataku yang masih tetap terjatuh meski pun sudah aku tahan.
"Nona, berhentilah menangis." Wanita paruh baya itu berkata dengan sangat lembut padaku.
Ah, aku jadi semakin teringat pada sosok ibu. Ibu juga sangat lembut seperti itu. Kenapa mereka berdua sangat mirip.
Ku lihat wanita paruh baya itu lanjut berjalan menuju tempat tidur. Dia meletakkan kotak kado yang dia bawa di atas tempat tidur, sedangkan makanannya dia letakkan di atas meja dekat sofa.
Wanita paruh baya yang belum aku ketahui namanya itu pun kembali mendekatiku. Dia kemudian berjongkok mensejajarkan posisinya denganku.
"Nona, berhentilah menangis. Sebaiknya sekarang Anda mandi dulu agar perasaan Anda bisa lebih baik. Oh iya, 1 jam lagi tuan Kaaran akan kembali lagi ke sini. Sebaiknya Anda segera bersiap-siap, Nona. Dan di dalam kotak itu, ada pakaian yang tuan Kaaran siapkan khusus untuk Anda." Dia bangkit dari posisinya setelah mengatakan hal itu padaku.
"Bb-Bu." Aku menahan pergelangan tangannya begitu dia berdiri.
Dia tersenyum hangat. Membuat hatiku terasa sedikit lebih baik dari sebelumnya. "Jangan panggil ibu. Panggil saja Bi Nining."
Aku mengangguk sambil balas tersenyum tipis. "Bi Nining, apa saya boleh minta tolong?"
Bi Nining kembali tersenyum dan berjongkok di hadapanku. Dia memegang tanganku menggunakan kedua tangannya.
"Jika Nona hanya ingin meminta tolong pada saya agar saya membantu Anda keluar dari sini, maaf Nona, saya tidak bisa. Saya di sini juga hanya menjalankan tugas."
Aku menunduk kecewa setelah mendengar ucapan bi Nining. Sepertinya dia bisa membaca isi dari pikiranku. Tadinya aku berharap banyak bahwa dia bisa membantuku keluar dari sini, nyatanya tidak. Aku sangat ingin kembali ke kota kelahiranku untuk menemui ibu di rumah sakit. Mengenai sisa uang untuk membayar hutang, itu nanti dipikirkan belakangan, yang penting sekarang ibu harus dioperasi dan sembuh dulu.
"Bi Nining, saya mohon ... ibu saya sekarang sedang ada di rumah sakit. Dia akan segera dioperasi, Bi. Saya ingin sekali kembali ke sana untuk melihat keadaannya. Tolong bantu saya keluar dari sini. Saya mohon ...." Aku memohon sembari menangis dan balas memegang kedua tangan Bi Nining menggunakan kedua tanganku.
"Maaf, Nona. Saya benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa. Jika memang saat ini Nona sedang mengalami kesulitan, sebaiknya Nona meminta bantuan pada tuan Kaaran saja. Tuan Kaaran itu orangnya sangat baik Nona, Nona saja yang belum mengenalnya dengan baik. Dan ... oh iya, ini pertama kalinya tuan Kaaran membawa seorang gadis ke villa ini. Saya pikir, Nona mungkin adalah gadis yang spesial," ucap Bi Nining.
"Kalau begitu, saya keluar dulu Nona. Saya masih banyak pekerjaan di bawah. Jangan lupa untuk memakai baju yang sudah tuan Kaaran siapkan setelah Anda mandi nanti," pesan bi Nining, lalu akhirnya beliau benar-benar pergi.
__ADS_1
Aku hanya bisa menatap kepergian bi Nining dengan tatapan nanar. Jika sudah seperti ini, apakah lebih baik jika aku menyerah saja pada pria brengsyek itu? Demi ibu, demi keluargaku.
B e r s a m b u n g ...