One Night Love Devil

One Night Love Devil
Pria Dari Masa Lalu


__ADS_3

Aku belum berani menoleh, takut jika ternyata dugaanku benar.


"Sayang, siapa pria itu? Sepertinya dia sangat mengenalmu," ucap suamiku. Saat ini tatapannya sudah tertuju pada seseorang yang aku pikir adalah orang yang sangat ingin aku hindari selama ini.


"Ah, mm ... ma-mana?" tanyaku sedikit gugup.


Mau tidak mau aku pun segera mengarahkan pandanganku ke arah seorang pria yang saat ini sedang berjalan menghampiri kami. Pria itu berpenampilan sama seperti suamiku, lengkap dengan setelan jas yang rapi dan modis.


Memang benar dugaanku, ternyata memang dia. Kenapa dia nekat sekali? Apakah dia belum melihat berita bahwa pria yang sedang bersamaku saat ini adalah suamiku, Kaaran Dirga. Tidak mungkin seorang pebisnis seperti dia tidak mengenal siapa suamiku. Dan apakah dia tidak takut menyapaku saat melihatku sedang bersamanya.


Dengan kedua sudut bibirnya yang tertarik ke atas, pria itu berjalan menghampiri kami.


"Nia, apa kabar? Kita sudah sangat lama tidak bertemu," ucapnya sambil mengulurkan tangan padaku. Dari ekspresinya dia terlihat sangat bersemangat sekali.


Sebelum memutuskan untuk membalas uluran tangan pria itu, terlebih dahulu aku mendongak menatap suamiku, takut daddy-nya anak-anak tiba-tiba marah karena pria asing ini terlihat begitu akrab denganku. Padahal sebenarnya tidak, karena pria ini adalah pria yang sangat ingin aku hindari sejak dulu.

__ADS_1


Memang, dulu kami sangat dekat dan akrab, bahkan saat aku masih remaja. Orang-orang dulu banyak yang mengira kalau kami berpacaran selama bertahun-tahun, saking dekat dan akrabnya kami, hanya saja ... tanpa adanya kejelasan status. Ku akui, Zidan adalah cinta pertamaku, dan aku pikir dia dulu juga mencintaiku. Tapi karena sebuah masalah yang terjadi di antara kami, hubungan kami pun jadi merenggang. Bisa aku katakan bahwa hingga sekarang aku masih marah dan membencinya. Berkali-kali dia meminta maaf padaku tapi aku tetap tidak mau peduli. Aku benci orang munafik seperti dia.


Ketika aku mendongak menatap suamiku, aku bisa menangkap raut tidak suka di wajahnya.


"Maaf, saya tidak suka istri saya bersentuhan dengan pria lain." Suamiku berkata seraya membalas uluran tangan pria itu. Namanya adalah ... Zidan.


...(Apakah ada pembaca yang ingat inisial 'Z' yang dihubungi oleh Rania di awal bab saat ingin meminjam uang? Dialah orangnya, Zidan) ...


"Oh, ah ... ya. Salam kenal Tuan Kaaran, perkenalkan, nama saya adalah Zidan, Zidan Abraham, kakak sepupunya Nia," ucapnya. Dia terlihat sedikit salah tingkah.


"Oh, ya? Kalau begitu senang bertemu denganmu saudara ipar." Suamiku berkata sambil tersenyum ramah.


Rasanya aku ingin menepuk jidatku sendiri. Sepertinya suamiku langsung mempercayai begitu saja ucapan bohong Zidan. Bisa-bisanya dia dibodoh-bodohi oleh pria penipu itu.


"Oh iya, saya mengucapkan selamat atas pernikahan kalian," ucap Zidan lagi. Pria ini benar-benar jago sekali bersandiwara, masih sama seperti dulu.

__ADS_1


Sial. Kenapa kami harus dipertemukan disaat seperti ini sih? Dan lagi, sejak kapan dia kembali dari luar negeri. Bukankah semenjak 3 tahun lalu dia sudah menetap dan mengembangkan bisnisnya di sana.


Setelah kedua pria itu berbasa-basi, suamiku pun akhirnya mengajak Zidan untuk makan siang bersama kami. Sebenarnya aku sangat tidak setuju jika suamiku mengajak Zidan untuk ikut bergabung bersama kami, tapi aku juga tidak bisa berbuat apa-apa dan belum bisa membongkar kebohongan Zidan pada suamiku saat ini. Apalagi saat melihat suamiku sudah begitu akrab dengan Zidan, padahal seingatku mereka baru saja berkenalan beberapa menit yang lalu. Mungkin suamiku berpikir bahwa Zidan adalah kerabatku. Aku berharap, semoga saja ini adalah pertemuan terakhir kami bersama dengan pria licik ini.


Saat ini kami bertiga sudah sama-sama berada di ruang VIP restoran, sambil menikmati menu makan siang kami masing-masing. Semenjak kehadiran Zidan di tengah-tengah kami, aku menjadi lebih banyak diam. Ditambah lagi pembahasan diantara kedua pria itu juga tidak begitu aku mengerti. Mereka membahas tentang bisnis.


"Oh iya, malam minggu nanti saya akan mengadakan sebuah pesta, saya ingin mengundang Tuan Kaaran dan Nia untuk hadir di pesta saya. Ya, itu pun kalau Tuan Kaaran tidak keberatan," ucap Zidan di sela obrolannya dengan suamiku.


"Tentu, tentu saja kami akan hadir. Kita 'kan sekarang adalah keluarga. Iya, 'kan Sayang?" jawab suamiku, lalu beralih bertanya padaku.


Tidak ada yang bisa aku katakan selain hanya mengangguk dan tersenyum paksa. Disaat waktu itu tiba, aku akan mencari alasan agar tidak sampai hadir ke acara pesta itu. Jangan harap kamu bisa lagi masuk ke dalam kehidupanku, Zidan. Ini adalah pertemuan terakhir kita.


B e r s a m b u n g ...


..._____________________________________________...

__ADS_1


...Karena bab yang kemarin tidak mencapai target 200 like, jadi bab ini baru diupload sekarang.😄...


__ADS_2