One Night Love Devil

One Night Love Devil
Rela Mati


__ADS_3

"Siapa itu?!" Aku kembali berteriak untuk yang kedua kalinya.


Saat ini aku sudah berdiri di atas tempat tidur, bersiap untuk memasang kuda-kuda, jika yang datang itu adalah seorang penjahat, maka bersiap-siaplah, aku akan menghajarnya hingga babak belur. Aku memang sudah lama tidak mengasah kemampuan bela diriku untuk menghajar seorang penjahat.


Semakin lama sosok bayangan hitam itu semakin mendekat ke arahku, membuatku semakin waspada dan segera memasang kuda-kuda.


"Diam di situ! Kalau tidak, aku akan menghajarmu!" ancamku. Tapi sepertinya sosok hitam itu tidak mempedulikan peringatanku.


"Kalau begitu jangan salahkan aku kalau aku benar-benar menghajarmu. CIAAAT!!!" Dengan langkah cepat aku langsung berlari ke arah sosok hitam tersebut. Sebelum aku melompat, terlebih dahulu kedua kakiku aku tumpukan pada tepi tempat tidur. Dan dalam sekejap, sepasang kakiku sudah mendarat pada tubuh bagian depan atas sosok hitam tersebut. Aku menendang dadanya dengan sekuat tenaga menggunakan kedua kakiku.


Bruk!


Mendapat serangan tiba-tiba seperti itu, sosok bertubuh besar itu terpental hingga beberapa meter ke belakang. Sepertinya ukuran tubuhku yang saat ini sudah jauh lebih besar dari sebelumnya membuat seranganku juga semakin berbobot. Buktinya, sosok bayangan hitam itu terpental cukup jauh ke belakang sana. Jika saja kamar ini tidak cukup luas, akan lebih bagus jika tubuh bagian belakangnya terbentur pada dinding tembok, karena itu akan semakin memudahkan aku untuk melumpuhkannya.


Setelah aku menjatuhkan lawanku tanpa mendapatkan perlawanan sedikit pun, aku pun segera berjalan menghampiri saklar dan menyalakan lampu. Aku penasaran, siapa sebenarnya yang sudah berani masuk ke dalam kamarku tanpa ijin.


Tak. Dalam satu kali tekan, seisi kamarku sudah kembali terang. Ku lihat pria bertubuh besar yang baru saja aku hajar itu sudah tergeletak di lantai dengan posisi telentang, sehingga aku bisa melihat wajahnya dengan jelas.


"Kamu-"


Mataku seketika membulat ketika melihat siapa sebenarnya sosok hitam yang baru saja aku hajar tersebut. Mulutku seolah-olah terkunci rapat sehingga untuk saat ini aku tidak bisa lagi berkata-kata. Pantas saja tadi dia diam saja dan tidak melawan atau pun menghindar saat aku ingin menghajarnya. Kalau saja sejak awal aku tahu sosok hitam itu adalah dia, sudah pasti aku menghajarnya lebih kuat tanpa ampun hingga dia babak belur. Dasar pria menyebalkan.


"Auwh ... Sayang, seperti ini kah caramu menyambut kepulangan suamimu?" tanyanya sembari memegangi kepala, dada, dan bahunya secara bergantian.


Aku tersenyum sinis. "Cih, kamu memang pantas mendapatkannya. Yang tadi itu belum cukup, rasanya aku masih ingin menghajarmu sampai aku benar-benar puas."


Dia terdiam, lalu berusaha untuk bangkit. Sementara itu, aku menatapnya dengan tatapan tajam. Dadaku sudah bergemuruh menahan amarah, kekesalan, dan rindu sekaligus. Tapi sepertinya amarahku lebih mendominasi ketimbang rasa rinduku padanya.


Kali ini dia sudah berdiri dengan sempurna. "Kalau menghajarku bisa membuat kamu senang, maka lakukanlah. Aku rela, Istriku Sayang," ucapnya sembari merentangkan kedua tangannya.

__ADS_1


Dasar pria bermulut manis. Jangan harap aku akan mendekat ke arahmu, karena kamu pasti akan mencari kesempatan untuk memelukku. Aku tahu taktik licikmu itu.


"Kenapa diam saja Sayang? Ayo, hajar aku sampai kamu puas," ucapnya sembari berjalan ke arahku.


"Jangan mendekat! Atau aku akan membunuhmu!" ancamku. Aku melihat ke kiri dan ke kanan, mencari sesuatu untuk aku lemparkan padanya. Saat ini aku masih tidak sudi dia menyentuhku. Aku masih sangat marah padanya.


"Jadi kamu ingin membunuh suamimu sendiri, hm? Ya sudah, kalau begitu lakukanlah. Aku rela mati asalkan mati di tanganmu." Dia berkata sambil terus berjalan ke arahku. Kedua tangannya masih saja dia rentangkan.


Bed*bah. Sepertinya dia sengaja melakukan itu.


"Jangan mendekat! Aku bilang jangan mendekat!" Aku berkata sambil terus berjalan mundur hingga tubuhku mentok di samping lemari. Pandanganku lalu terfokus pada laci lemari yang tidak terkunci.


Plak!


Aku melempar sebuah buku yang aku ambil di dalam laci tersebut, dan buku itu mendarat tepat di wajahnya. Begitu seterusnya, aku terus melemparnya hingga isi laci itu benar-benar kosong.


Sekarang sudah tidak ada lagi benda yang bisa aku lemparkan padanya, akan tetapi jaraknya sudah semakin dekat di hadapanku. Tidak ada pilihan lain, sepertinya sekarang aku harus menghajarnya sendiri menggunakan kedua tanganku.


"Sayang, aku benar-benar minta maaf. Aku tahu kamu marah padaku. Tolong maafkan aku," ucapnya.


Memang ini yang aku takutkan, makanya sedari tadi aku tidak mau mendekat padanya. Aku tahu, sedari tadi memang ini yang dia inginkan, memelukku dengan erat seperti ini.


"Lepaskan aku! Lepaskan! Berhenti memelukku! Aku benci padamu!" Aku berusaha memberontak untuk melepaskan diri, tapi sayangnya dia memelukku dengan sangat erat.


"Sayang, tolong jangan marah lagi. Sekarang aku sudah pulang, aku berjanji tidak akan pergi lagi. Ke depannya aku pasti akan selalu ada untuk kamu dan anak-anak kita. Maafkan aku."


"Tidak semudah itu."


Bug.

__ADS_1


"Argh! Auwh! F**k!"


Dia mengaduh kesakitan saat aku menghajar kedua bijinya menggunakan lututku. Karena kesakitan, otomatis dia langsung melepaskan pelukannya padaku. Tangannya yang tadinya memelukku dengan erat, kini beralih memegangi kedua telur puyuhnya yang mungkin saja sudah retak.


"Rasakan itu," ucapku seraya beranjak keluar dari kamar.


"Sayang, kamu mau ke mana?! Kenapa aku ditinggal?! Aku sangat merindukanmu Sayang?! Auwh!"


Dengan cepat aku melangkah masuk ke dalam kamar anak-anak. Malam ini aku akan tidur di sini bersama si kembar, suster Lili, dan suster Ria. Sementara dia, terserah dia mau tidur dimana saja. Aku tidak peduli.


Begitu aku masuk, aku langsung mengunci pintu kamar dari dalam. Huft. Aku akhirnya bisa bernapas lega karena berhasil lolos darinya.


Tok! Tok! Tok!


"Sayang! Buka pintunya! Aku juga ingin masuk! Aku ingin melihat anak-anak kita!" teriaknya sambil menggedor-gedor pintu.


Dasar pria menyebalkan. Kalau dibiarkan begini terus, bisa-bisa si kembar kembali terbangun. Aku tidak punya pilihan lain selain membuka pintu untuknya.


"Jangan ribut. Anak-anak baru saja tertidur. Jangan sampai kamu mengganggu mereka dan membuat mereka terbangun." Aku berkata padanya dengan nada setengah berbisik.


"Tapi Sayang aku-"


"Diam. Pergi sana."


Tak. Dengan cepat aku langsung menutup pintu kamar si kembar dan menguncinya dari dalam. Jangan harap kamu bisa masuk ke dalam sini. Dasar pria menyebalkan.


B e r s a m b u n g ...


...____________________________________________...

__ADS_1


...Aku udah usahain up pagi-pagi ya, jadi semoga tidak ada yang jerawatan🤧🤧🤣...


...Jangan lupa dukungannya😉...


__ADS_2