
Sekarang aku sudah siap dengan gaun malam yang senada dengan warna jas suamiku. Tidak lupa pula aku memoleskan make up tipis pada wajahku. Setelah benar-benar siap, aku pun segera keluar dari kamar dan segera menemui suamiku yang saat ini sedang menemani anak-anak bermain di kamar mereka.
Ceklek. Begitu aku membuka pintu kamar si kembar, suamiku langsung menoleh. Dia tersenyum begitu melihat aku sudah siap.
"Lihat Zoe, Zack, Mommy kalian benar-benar cantik, bagaimana Daddy tidak tergila-gila padanya."
"Ck, dasar gombal."
Dengan bibir mengerucut, aku berjalan menghampiri mereka bertiga. Aku benar-benar sangat terpaksa menghadiri acara itu.
"Kamu sudah siap Sayang?" tanya suamiku, dan aku hanya menjawabnya dengan gumaman.
"Hem."
"Kalau begitu ayo kita berangkat sekarang," ucapnya.
Sebelum kami berangkat, aku pun mencium pipi kedua anakku.
"Jangan nakal ya, Sayang. Mommy sama Daddy tidak akan lama," ucapku pada si kembar.
.
__ADS_1
.
Di dalam mobil, aku lebih memilih diam. Aku merasa sedikit kesal karena tadi suamiku terlalu memaksaku untuk ikut. Padahal, aku ingin pertemuan kami beberapa hari yang lalu dengan Zidan adalah pertemuan yang terakhir.
"Sayang, kamu marah?" Suamiku tiba-tiba saja bertanya padaku, dan aku memilih untuk tidak menggubris pertanyaannya.
Sepanjang perjalanan suamiku terus-menerus menggenggam sebelah tanganku. Sesekali dia juga mencium punggung tanganku. Mungkin dia sudah tahu kalau aku kesal padanya, jadi dia juga memilih untuk diam dan tidak membahas apa-apa lagi, takut aku malah membesar-besarkan masalah.
.
.
Kurang lebih setengah jam kemudian, kami akhirnya sampai di tempat tujuan, di salah satu hotel bintang 5 di ibukota.
"Sayang, jangan cemberut. Kamu membuatku gemas kalau kamu terus-terusan seperti itu," ucapnya sambil tertawa kecil.
Sementara itu aku memilih untuk tidak menggubris ucapannya, lalu menoleh dan menatapnya tajam.
Tiba-tiba saja, cup. Dengan gerakan cepat, suamiku langsung menempelkan bi*birnya sekilas pada bi*birku.
"Berhentilah cemberut Sayang. Nanti cantikmu ini luntur," ucapnya sambil mengelus pipiku menggunakan ibu caranya.
__ADS_1
"Tidak lucu," ketusku, tapi dia malah terkekeh.
"Ayo turun," ajaknya kemudian.
Setelah Roy membukakan pintu untukku, aku pun segera turun dari mobil.
.
.
Aku dan suamiku saling bergandengan tangan memasuki ruang acara. Kedatangan kami mengundang banyak perhatian orang. Apalagi beberapa hari yang lalu suamiku memang sudah mengumumkan status kami di depan publik.
"Selamat datang Tuan Kaaran dan Nyonya Rania," ucap Zidan. Dia bergegas menyambut kedatangan kami begitu kami sudah memasuki ballroom hotel.
Pria licik itu memasang wajah yang sangat ramah. Aku benar-benar muak melihatnya. Karena sudah cukup lama menemani suamiku mengobrol dengan Zidan, aku mulai merasa bosan mendengar ucapan omong kosong yang keluar dari mulut pria penjilat itu. Aku pun memutuskan untuk pergi ke toilet sebentar.
"Daddy, aku mau pergi ke toilet sebentar," ucapku pada suamiku.
"Iya Sayang. Jangan lama-lama, ya?" ucapnya, dan aku langsung membalasnya dengan anggukan.
Sekitar 10 menit kemudian, aku pun akhirnya selesai dengan aktivitasku di dalam toilet. Namun, saat aku hendak keluar dari dalam sana, tiba-tiba saja Zidan menerobos masuk dan mengunci pintu toiletnya dari dalam.
__ADS_1
Aku langsung membulatkan mataku melihat aksi nekatnya itu. "Zidan, apa yang kamu lakukan? Jangan gila kamu."
B e r s a m b u n g ...