
Tiba-tiba ponsel suamiku berdering. Panggilan dari nomor asing. Sejenak dia menatap layar ponselnya sebelum akhirnya menjawab.
Suamiku menggeser gagang hijau yang tertera pada layar ponselnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Tuan, nyalakan loudspeaker nya," ucap Roy. Suamiku pun lalu menuruti apa kata asistennya tersebut.
"Kaaran Dirga. Hahaha!" Terdengar suara seorang pria dengan tawa menggelegar di seberang telepon sana.
"Kamu." Seketika suamiku terlihat sangat marah. Dia langsung menggenggam ponselnya dengan sangat erat.
"Iya, ini aku. Hahaha! Kamu tidak mungkin lupa padaku 'kan?" ucap pria misterius tersebut.
"Apa maumu?!" Suamiku berkata dengan nada tinggi.
"Hahaha! Tidak banyak. Mauku masih sama seperti dulu," jawabnya. "Sepertinya ... kamu sudah menganggap bahwa aku sudah mati, ya? Hahaha! Jadi sekarang kamu sedang mencoba untuk menjalani kehidupan yang tenang dan bahagia bersama istri dan anak-anakmu. Hng, jangan mimpi."
__ADS_1
Suamiku terlihat semakin geram. Sementara kami yang ada di dalam ruangan ini semakin merasa tegang. Sepertinya orang yang sedang berbicara dengan suamiku di telepon saat ini adalah dalang dari penculikan si kembar, dan pria misterius itu merupakan musuh besar suamiku.
"Jangan sakiti anak-anakku. Aku akan memberikan apa yang kamu mau," ucap suamiku.
"Hahaha! Bagus ... bagus. Memang itu yang aku inginkan," ucap pria itu lagi.
"Sekarang katakan, di mana kalian membawa kedua anakku?" Suamiku kembali bertanya pada pria itu.
"Jangan khawatir, mereka aman bersamaku," jawabnya. "Gundul, bawa mereka kemari. Aku ingin orang tuanya mendengar suara tangisan anak-anaknya."
"Hoek ... hoek!" Seketika suara tangisan kedua anakku terdengar.
"Berhenti membuat anak-anakku menangis!" bentak suamiku. "Sekarang katakan padaku, ke mana kalian membawa mereka?!"
"Hahaha! Aku akan mengatakannya jika kamu benar-benar berjanji akan memberikan apa yang aku minta."
__ADS_1
"Iya, aku berjanji akan memberikan semuanya. Tapi sekarang katakan, di mana kalian membawa anak-anakku?! Aku tidak akan memberikan kalian ampun jika kalian berani menyakiti mereka walau goresan kecil sedikit pun," geram suamiku.
"Hahaha! Bagus ... bagus. Aku tahu seorang Kaaran Dirga tidak mungkin mengingkari janjinya," ucap pria itu. "Oke, 1 jam lagi aku akan menunggumu di markas lama. Tapi ingat, jangan pernah membawa anak buahmu untuk mengepung tempat ini. Karena kalau tidak, nyawa anak-anakmu yang akan menjadi taruhannya." Pria misterius itu berkata sembari mengancam suamiku.
Setelah mengucapkan kalimat itu, pria jahat itu pun langsung memutus sambungan telepon mereka.
"Dad, ayo cepat kita cari anak-anak. Aku tidak mau terjadi apa-apa pada mereka," ucapku.
"Tidak Sayang, kamu di sini saja bersama Ibu, Rina, juga Audrey. Mereka akan menemani kamu di sini. Tunggu aku pulang membawa anak-anak, ya."
Aku kembali menangis sambil menggelengkan kepalaku pelan. "Tidak, Dad. Aku harus ikut mencari mereka. Aku tidak mau diam saja di sini sambil menunggu kalian pulang."
"Sayang ...."
"Daddy .... Meski pun kamu melarang, aku akan tetap pergi."
__ADS_1
Suamiku kembali mengusap wajahnya dengan kasar. "Rania Blanco ... kamu ini benar-benar sangat keras kepala."
B e r s a m b u n g ...