
"Berarti kalian berdua memang sengaja menjebakku, iya?! Kalian memang sengaja menipuku! Kenapa hal seperti itu memang sudah tercatat di dalam surat perjanjian?! Berarti jauh sebelum kalian berdua menangkapku waktu itu, kalian berdua memang sudah menyediakan perangkap untuk menjebakku! Kalian benar-benar sangat licik!" Dengan sangat marah aku menuding kedua pria menyebalkan itu secara bergantian.
"Dan kamu!" Kali ini aku hanya menuding pria brengsyek itu. "Apa kamu memang sengaja mengham*liku dan sengaja ingin membuat hidupku makin sengsara? Apa kamu sebegitu senangnya melihat aku hidup menderita seperti ini, hah?!"
Tidak ada yang berani menjawab ucapanku, keduanya hanya terdiam.
"Begitu banyak perempuan lain di luar sana, kenapa harus aku yang kamu perlakukan seperti ini?! Kenapa?!!" Seketika air mataku terjatuh. Aku benar-benar sangat marah karena ulah mereka. Mereka berdua manfaatkan surat perjanjian sia*an itu untuk terus mengekang dan mengancamku setiap saat.
"Sudah, jangan emosi. Marah tidak baik untuk janin yang ada di dalam kandunganmu." Si brengsyek itu berjalan menghampiriku dan berusaha untuk memelukku. Mungkin dia berpikir, kalau dia bisa menenangkanku dengan cara seperti itu. Tidak, dia salah besar. Aku sudah terlanjur membencinya. Aku benar-benar sudah sangat muak padanya.
"Jangan sentuh aku! Dasar brengsyek! Aku sangat membencimu!"
Aku berlari masuk ke dalam rumah. Tidak peduli dia mau pergi atau pun masuk menemui ibuku. Aku sudah tidak peduli lagi. Biarkan saja mereka melakukan apa pun sesuka hati mereka.
.
Di dalam kamarku, aku hanya bisa menangis tersedu-sedu sambil meratapi nasibku yang selalu ditimpa kesia*an setelah bertemu dengan pria menyebalkan itu.
Cukup lama aku menangis, dan tidak terasa sudah lebih dari setengah jam lamanya aku menumpahkan air mata kesedihanku. Setelah lelah menangis, aku pun akhirnya tertidur.
...*** ...
__ADS_1
"Kak, ayo bangun. Kak Nia, bangun Kak."
"Em?" Aku mulai mengerjap-ngerjapkan mataku saat mendengar suara Rina membangunkanku.
"Ada apa, Dek?" tanyaku, sambil mengucek kedua mataku yang masih terasa sangat mengantuk.
"Kakak dipanggil ibu untuk untuk turun makan malam bersama," jawabnya.
"Makan malam?" Aku sempat berpikir sejenak, lupa kalau aku ketiduran tadi sore, dan baru bangun saat malam hari.
Aku kembali berkata seraya menepuk jidatku sendiri, "Oh iya. Maaf, Kakak lupa. Kakak ketiduran soalnya. Oh iya, Dek. Bilang sama ibu kalau Kakak akan turun setelah ganti baju."
"Siap, Kak."
"Kenapa Kak Nia lama sekali sih?" Rina langsung protes begitu melihatku tiba di meja makan. Jelas saja lama, karena aku mandi dulu sebelum turun.
Aku tertawa melihat wajah cemberut adikku. "Tidak lama kok, Dek. Cuma 20 menit."
"20 Menit dibilang cuma? Godaan besar nih, Kak .... Perut aku sudah keroncongan sejak tadi." Rina menunjuk makanan yang sudah tersaji di atas meja makan.
"Em ... kelihatannya enak. Tumben bi Lastri masak banyak makanan enak seperti ini? Oh iya, Dek. Ibu mana, kok belum gabung?" tanyaku, sambil duduk di seberang meja Rina.
__ADS_1
Samar-samar aku mendengar suara beberapa orang pria sedang mengobrol, dan lama kelamaan suara itu terdengar semakin dekat. Aku langsung menoleh, tapi tidak melihat siapa-siapa. Mungkin yang sedang mengobrol itu Alex dan Ryan yang sedang berjalan ke sini juga untuk makan malam bersama.
"Shut. Kak Nia, pacar Kakak tampan sekali," bisik Rina.
"Hah, pacar?" Ucapan Rina barusan sedikit membuatku kebingungan. Perasaan selama ini aku tidak pernah berpacaran, apalagi sampai punya pacar. Pacar dari mana coba?
Ting. Seketika mataku membulat, teringat akan sesuatu. Apa jangan-jangan .... Aku langsung menoleh untuk memastikan dugaanku.
"Tuh, yang datang bersama ibu dan Tuan Baik," ucap Rina, bersamaan saat aku menoleh.
Dag dig dug. Jantungku seketika berdetak tidak karuan. Ternyata memang mereka. Kenapa mereka masih ada di sini, aku pikir mereka sudah pergi. Dan ... apa tadi yang Rina katakan? Apa tadi Rina berkata 'Tuan Baik'? Siapa 'Tuan Baik'? Kedengarannya seperti tidak asing. Aku seperti pernah mendengar julukan itu sebelumnya. Dan di antara kedua pria menyebalkan itu, siapa di antara mereka berdua yang dimaksud oleh Rina dengan julukan 'Tuan Baik' tersebut.
"Dek, tadi kamu bilang Tuan Baik. Siapa 'Tuan Baik' itu? Soalnya Kakak sepertinya sudah lupa," tanyaku penasaran. Entah mengapa aku bisa lupa dimana aku pernah mendengar julukan tersebut.
"Itu loh Kak, orang misterius yang pernah melunasi biaya operasi dan pengobatan ibu waktu ibu di rawat di rumah sakit," jawab Rina, membuat jantungku semakin berdebar hebat.
Apa? Jadi ternyata mereka yang sudah membantu keluargaku secara diam-diam. Tapi kenapa mereka melakukannya? Dan apa alasannya?
B e r s a m b u n g ...
..._________________________________________...
__ADS_1
...Marhaban Ya Ramadhan😇 Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Di bulan yang penuh berkah ini, jangan lupa untuk tetap berbagi dukungan😁...