
Saat dalam perjalanan menuju tempat yang mereka sebut sebagai markas lama, aku pun mulai menanyakan pertanyaan yang sedari tadi melayang-layang di otakku.
"Dad, sebenarnya siapa yang menculik anak-anak? Dan sebenarnya apa yang diinginkan oleh orang itu darimu?" tanyaku.
"Ceritanya panjang Sayang. Maaf, karena untuk saat ini aku belum bisa menceritakan semuanya padamu," jawab suamiku.
"Dad! Tolong jangan sembunyikan apa-apa lagi dariku. Selama ini kamu sudah terlalu banyak memiliki rahasia yang tidak aku ketahui. Memangnya kamu menganggap aku apa, hah? Kenapa kamu selalu merahasiakan banyak hal dariku?" Aku menatap suamiku dengan tatapan penuh tanya bercampur kekesalan.
"Say-"
"Dad! Aku ini istrimu. Aku bukan orang lain. Jadi tolong, berhenti menyembunyikan banyak fakta dariku," ucapku memotong pembicaraannya.
Mendengar ucapanku, suamiku lalu menghembuskan napasnya dengan kasar.
__ADS_1
"Baiklah Sayang, aku akan mengatakannya. Tapi aku mohon, jangan terkejut ketika aku menceritakan semuanya. Dan aku mohon, tolong jangan takut ketika kamu mengetahui siapa aku sebenarnya." Suamiku berkata sambil menggenggam tanganku dengan erat, lalu menatap kedua manik mataku dengan dalam.
"Dad, untuk apa aku takut padamu? Apakah kamu semenyeramkan itu?" tanyaku, sambil balas menatapnya dengan lekat.
"Tidak Sayang, hanya saja aku sedikit khawatir akan hal itu," ucapnya.
"Oh, ya? Sekarang, coba ceritakan semuanya padaku."
Sebelum mulai bercerita, terlebih dahulu suamiku terdiam sambil masih menatapku dengan lekat.
Sudah ku duga. Batinku.
"Lalu? Siapa yang menculik anak-anak? Dan apa yang mereka inginkan darimu?" tanyaku lagi.
__ADS_1
"Yang menculik anak-anak bernama Johan. Aku dan Johan dulunya sama-sama anak angkat dad Robin. Dulu, saat kami masih kecil, kami sesama anak angkat dad Robin biasa memanggil Johan dengan sebutan kakak pertama. Dia adalah anak angkat tertua dari dad Robin, sedangkan yang lain biasa memanggilku dengan panggilan kakak kedua," jelas suamiku.
"Dad Robin? Sebenarnya dad Robin itu siapa?" tanyaku penasaran.
"Dad Robin itu adalah ketua mafia klan Elang Merah. Klan mafia tertua di negeri ini."
"Lalu, si Johan itu siapa?"
"Dia adalah ketua mafia klan Black Mamba. Seperti namanya, dia sangat ganas dan berbahaya."
"Lalu apa yang diinginkan si Johan itu darimu?" tanyaku, sangat penasaran.
"Dulu, sebelum kami membentuk klan mafia kami masing-masing dan mendapat bagian daerah kekuasaan dari dad Robin, dad Robin terlebih dahulu menguji kekuatan, kecerdasan, dan kejujuran kami para anak angkatnya. Singkat cerita, dari kelima anak angkat dad Robin, aku adalah pemenangnya. Maka dari itu beliau memberikan aku bagian daerah kekuasaan yang paling luas. Dan hanya berselang beberapa tahun kemudian, aku bisa menjadi sangat sukses dengan kerajaan bisnis yang aku bangun. Hal itu membuat kakak pertama Johan menjadi iri padaku. Awalnya dia terang-terangan meminta daerah kekuasaanku, tapi karena aku menolak, dia pun mengajakku bermusuhan. Hingga sekarang sudah berlalu selama lebih dari 7 tahun kami bermusuhan, dan aku pikir hari ini adalah puncak peperangan kami karena dia sudah berani menyentuh anak-anakku, anak-anak kita Sayang."
__ADS_1
Suamiku menjelaskan dengan panjang lebar, aku pun hanya diam menyimak semua yang dia ucapkan. Akhirnya, segala pertanyaan-pertanyaan yang bermunculan di otakku kini sudah memiliki jawabannya masing-masing. Segala rasa penasaranku kini terurai sudah. Sekarang aku menjadi semakin mengerti, kenapa suamiku selama ini begitu posesif padaku dan selalu berusaha melatih istrinya agar menjadi wanita yang tangguh.
B e r s a m b u n g ...