
"Sayang, ayo kita pulang. Jangan sampai si kembar rewel sebelum kita kembali," ucap suamiku, dan aku pun hanya menurut apa katanya.
Begitu kami keluar menuju parkiran, aku tidak melihat asisten Roy di mana pun.
"Daddy, asisten Roy ke mana?" tanyaku.
Bukan tanpa sebab aku mencarinya, itu karena asisten Roy tadinya yang menyetir saat kami berangkat ke pesta ini. Apakah dia yang turun tangan mengurus Zidan? Entahlah.
"Tidak usah mencarinya Sayang, malam ini dia punya tugas penting." Suamiku menjawab sembari membukakan pintu mobil untukku.
"Masuklah, aku yang akan menyetir mobilnya kembali ke villa," ucapnya lagi.
Tanpa berkata apa-apa lagi, aku pun segera masuk ke dalam mobil.
.
Sesampainya kami di villa.
"Masuklah duluan Sayang. Cek keadaan anak kita, siapa tahu mereka belum tidur dan menangis karena mencarimu," ucap suamiku.
Aku pun lalu masuk duluan ke dalam villa. Sebelum memeriksa keadaan si kembar, aku terlebih dahulu masuk ke dalam kamarku untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Usai berganti pakaian, aku pun segera beranjak menuju kamar anak-anak.
"Sus, anak-anak sudah tidur?" tanyaku pada suster Lili.
__ADS_1
"Sudah, Nona. Baru saja," jawabnya.
"Apa mereka tidak rewel selama kami pergi?" tanyaku lagi.
"Tidak Nona."
"Oh, ya sudah. Kalau begitu Suster istirahatlah, saya ingin melihat mereka sebentar," ucapku, lalu berjalan menghampiri box kedua bayiku.
Aku menatap wajah terlelap kedua anakku secara bergantian sambil tersenyum hangat. Mereka berdua selalu saja terlihat lucu dalam keadaan apa pun. Entah itu saat mereka terbangun atau pun saat sedang tertidur.
"Kapan ya kalian tumbuh besar Sayang? Mommy sudah tidak sabar," ucapku, sembari mencium pipi keduanya secara bergantian.
Cukup lama aku duduk menatap wajah tertidur mereka, setelah merasa mengantuk, aku pun kembali ke kamar.
Mungkin saja.
Ah, sudahlah. Lebih baik sekarang aku tidur duluan. Aku sudah sangat mengantuk.
.......
.......
Semenjak kejadian bersama Zidan beberapa waktu lalu, suamiku memutuskan untuk memantapkan ilmu bela diriku. Dia melatihku agar aku semakin tangguh, karena ke depannya dia akan membiarkan aku bebas keluar ke mana pun. Dan tidak menutup kemungkinan saat aku keluar seorang diri, aku akan kembali bertemu dengan orang-orang kurang dihajar seperti Zidan.
__ADS_1
Jika kemarin suamiku mengajariku ilmu bela diri, hari ini dia membawaku ke lapangan tembak, dia ingin mengajariku cara menembak.
"Dad, kamu ini aneh sekali, kenapa kamu memaksaku belajar hal seperti ini? Aku juga mana berani membawa senjata api," tanyaku dengan bibir mengerucut. Aku sebenarnya malas belajar hal seperti ini.
Saat ini suamiku sedang berdiri di belakangku, sambil mengajariku bagaimana cara memegang senjata dengan benar dan trik mengunci sasaran atau biasa disebut dengan target.
"Ini sangat penting Sayang, aku harus sering-sering melatih kekuatan dan kemampuanmu. Siapa tahu ke depannya kamu bisa menjadi queen of mafia," ucapnya, lalu terkekeh.
"Enak saja. Aku sama sekali tidak tertarik dengan hal seperti itu. Aku dulu belajar ilmu bela diri hanya untuk melindungi diriku, bukan untuk hal semacam itu."
Suamiku kembali terkekeh. "Aku memang hanya bercanda Sayang. Tidak mungkin aku membiarkan istriku masuk ke dunia hitam yang sangat berbahaya dan penuh resiko seperti itu."
"Oke, sebelum kamu menekan pelatuknya, lebih baik kamu pasang dulu penutup telingamu. Begitu aku menepuk pundakmu nanti, maka tem*aklah," ucapnya memberiku instruksi.
Aku pun kemudian mengikuti apa yang diinstruksikan olehnya. Begitu merasa dia menepuk pundakku dari belakang, aku pun langsung menekan pelatuk pis*olnya.
DOR!!!
"Yah ... meleset," ucapku.
"Perbanyak latihan Sayang, aku akan mengawasimu dari belakang. Kamu sudah mengerti 'kan bagaimana caranya?" tanyanya.
"Sedikit," jawabku disertai anggukan.
__ADS_1
B e r s a m b u n g ...