
Aku cukup terkejut mendengar pernyataannya. Seketika lidahku terasa keluh dan bibirku menjadi bungkam. Aku tidak tahu harus berkata apa untuk menanggapi ucapannya barusan. Dia bilang, dia mencintaiku. Tapi, apakah ucapannya itu bisa aku percaya? Siapa tahu dia hanya membohongiku agar aku mau menjadi pabrik untuk memproduksi keturunannya.
"Rania, dengarkan aku." Dia berkata sambil menangkup kedua pipiku dan menyeka air mata yang membasahi pipiku. "Aku tahu kamu sangat membenciku, aku tahu itu semua terjadi karena kesalahanku sendiri, dan aku juga tahu, kamu pasti tidak bisa percaya begitu saja saat aku mengatakan bahwa aku mencintaimu. Tapi jika kamu butuh bukti, aku pasti akan membuktikannya. Yang penting, kamu mau mempercayaiku dan belajar membuka hatimu untukku."
Aku masih terdiam dan tidak menjawab. Aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Ini begitu tiba-tiba, sebelumnya aku tidak pernah memikirkan hal ini sama sekali, bahwa dia akan jatuh cinta padaku. Selama ini aku hanya berpikir bahwa dia hanya ingin menjadikan aku sebagai bud*k na***nya semata menggunakan surat perjanjian terku*uk itu.
"Tadi kamu bilang 'kan kalau kamu hanya ingin menikah dengan laki-laki yang kamu cintai dan juga mencintai kamu. Aku mencintaimu Rania, sisa kamu yang belum mencintaiku. Demi anak kita, maukah kamu belajar mencintaiku juga? Demi anak kita Rania, aku mohon. Aku berjanji, aku pasti akan membahagiakan kamu beserta anak-anak kita kelak," pintanya.
Melihatnya memohon padaku seperti itu, aku mulai berpikir sambil balas menatapnya. Sepertinya dia memohon padaku dengan tulus dari lubuk hatinya yang paling dalam. Tapi entah mengapa, aku merasa ada yang aneh. Semenjak sore itu, saat aku menjadi sangat marah karena dia mengancamku menggunakan surat perjanjian sia*an itu untuk memaksaku menikah dengannya, dia tidak pernah lagi menggunakan surat perjanjian tersebut untuk mengancamku lagi. Begitu juga dengan asisten Roy, dia juga tidak pernah lagi membahas mengenai hal tersebut. Tapi entah mengapa, sekarang dia malah menggunakan anak yang ada di dalam kandunganku untuk memohon padaku agar aku mau menikah dengannya. Ini sebenarnya memang ada yang aneh, apa hanya perasaanku saja.
__ADS_1
"Rania, bicaralah. Jangan diam saja. Tolong beri aku jawaban yang tidak mengecewakan," pintanya dengan wajah memelas di hadapanku.
Sejenak aku menatapnya, hingga akhirnya aku kembali membuka suara setelah beberapa saat.
"Tadi kamu mengatakan kalau aku meminta bukti, kamu akan memberikannya."
"Aku tidak perlu banyak bukti, yang aku butuhkan hanya kesetiaanmu, karena aku tidak ingin menikah dengan laki-laki yang suka bermain serong dengan wanita lain, apalagi dengan banyak wanita," jelasku.
Selama ini yang membuat aku resah saat dia memintaku untuk menikah dengannya hanya hal yang satu itu saja. Meski pun aku belum mencintainya dan malah justru sebaliknya, tetapi tetap saja aku tidak mau membagi suamiku dengan wanita lain, apalagi dia ayah dari anakku. Lagi pula, wanita mana yang rela membagi cinta suaminya dengan wanita lain? Wanita mana yang rela dimadu? Wanita mana yang rela diselingkuhi? Jawabannya tidak ada.
__ADS_1
Tidak ada yang kurang dari seorang Kaaran Dirga, selain hanya sifat playb*y-nya yang satu itu saja. Dia tampan, kaya raya, dan punya segalanya. Jika saja bukan karena sifat play*oy dan sikapnya yang seenaknya, mungkin aku sudah lama jatuh cinta karena wajahnya yang sangat tampan dan mempesona.
Senyumnya terlihat mengembang saat mendengar permintaanku. "Jangan khawatir, hal itu tidak hanya akan aku janjikan, akan tetapi benar-benar akan aku buktikan padamu. Meski pun kamu bukan wanita pertama bagiku, tapi aku berani jamin, bahwa kamu adalah wanita terakhir di dalam hidupku. Tidak akan pernah ada lagi yang menggantikan."
B e r s a m b u n g ...
...___________________________________________...
...Jangan lupa untuk tetap mendukung😁...
__ADS_1