One Night Love Devil

One Night Love Devil
STOOOP!!!


__ADS_3

"Janinnya dalam kondisi baik, Tuan, dan sudah memasuki usia 7 minggu. Dan sepertinya Nona Rania perlu banyak istirahat. Dia tidak boleh terlalu banyak pikiran apalagi sampai tertekan dan stres," jelas dokter tersebut setelah memeriksa kandunganku.


Aku akui, kalau selama beberapa hari ini aku memang cukup banyak pikiran. Setelah mengetahui kalau ternyata aku benar-benar hamil, aku jadi memikirkan nasib calon bayiku, apakah harus aku pertahankan ataukah harus aku gug*rkan.


Rupanya selama ini aku hanya terlalu banyak berpikir, karena sepertinya ayah dari bayi ini cukup peduli pada darah dagingnya sendiri.


Tapi ... tunggu dulu. Dari mana dia bisa tahu kalau saat ini aku sedang mengandung anaknya? Apa jangan-jangan, selama ini orang suruhannya tidak pernah berhenti memata-mataiku ke mana pun aku pergi? Sepertinya begitu.


"Kalau begitu, saya pamit dulu, Tuan. Resep vitaminnya akan saya berikan pada asisten Roy untuk ditebus," ucap dokter yang aku ketahui namanya barusan adalah Santi.


"Baik, Dok. Terima kasih," ucapnya.


Setelah dokter itu keluar, aku pun segera bangun dari posisi berbaringku.


"Jangan bergerak," titahnya tiba-tiba.


Ada apa lagi sih? Kenapa dia tiba-tiba saja melarangku untuk bergerak? Semakin ke sini kenapa sikapnya semakin menyebalkan dan suka mengaturku seenaknya.


Aku yang harus menuruti apa pun katanya hanya bisa duduk diam di atas tempat tidur. Dan tiba-tiba saja, dia membaringkan kepalanya dipangkuanku, lalu menenggelamkan wajahnya di perutku, kemudian mencium perutku berulang kali.


Geli rasanya, tapi aku harus menahannya. Takut dia marah dan kembali mengancamku. Apa jangan-jangan, di dalam surat perjanjian itu juga tertulis kalau aku tidak boleh marah saat dia mencium dan mengelus perutku? Hah? Omong kosong macam apa itu?


"Anak Daddy, sehat-sehat ya, Sayang di dalam perut Mommy kamu. Kamu harus tumbuh dengan baik dan menjadi anak yang hebat dan kuat saat kamu besar nanti," katanya sambil mengelus perutku yang masih rata.


Aku cukup terharu melihatnya. Rupanya dia sangat menginginkan kehadiran anak ini hingga kelak terlahir ke dunia. Tapi ... bagaimana ceritanya kami dipanggil 'Mommy dan Daddy' sedangkan kami tidak memiliki hubungan apa-apa selain hanya terikat oleh sebuah surat perjanjian yang sangat menyebalkan itu.


Ah, entahlah. Aku tidak tahu bagaimana cara memikirkannya. Serta mengenai ibuku dan Rina, sepertinya cepat atau lambat aku harus memberitahukan mereka tentang kehamilanku ini. Aku sudah mantap akan mempertahankan janin yang ada di dalam kandunganku ini meski pun tanpa seorang suami. Karena meski pun tanpa kehadiran sosok seorang suami, aku tetap bisa menghidupi anak ini hingga kelak dia tumbuh dewasa.


Aku menunduk menatap pria menyebalkan ini. Hah? Ternyata dia sudah tertidur. Secepat ini? Bagaimana mungkin? Apa jangan-jangan, dia hanya pura-pura tertidur?


Rasanya aku ingin membangunkannya karena posisi duduk seperti ini rasanya kurang nyaman. Apalagi dia tertidur sambil membenamkan wajahnya di perutku. Tapi aku takut, jangan sampai aku juga tidak boleh membangunkannya saat dia sedang tertidur, takut hal itu juga terkandung dalam pas*l sekian ay*t sekian dalam surat perjanjian, mengingat betapa tebalnya surat perjanjian g*la itu.


Bisa saja kan hal semacam itu juga tertulis di sana. Karena selama ini, apa pun hal yang menguntungkan baginya dan merugikan bagiku, pasti akan ikut tercatat di sana.

__ADS_1


...***...


1 Jam telah berlalu. Aku merasa kedua kakiku sudah kesemutan sejak tadi. Punggungku juga terasa sangat pegal duduk selama itu tanpa bergerak sedikit pun karena takut membangunkannya.


Aku menunduk menatap wajahnya yang tengah terlelap. Terlihat sangat tampan bak malaikat kala tertidur, namun sangat menyebalkan seperti iblis saat terbangun.


Tiba-tiba aku membayangkan, jika kelak janin yang ada di dalam kandunganku ini berjenis kelamin laki-laki, pasti akan sangat tampan sama seperti daddy-nya. Membayangkan hal itu membuatku senyum-senyum sendiri saking gemasnya. Rasanya aku sudah tidak sabar menunggu kelahiran buah hatiku.


"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri sambil menatapku seperti itu, hm?" Suara baritonnya itu membuatku terkejut dan aku langsung mengalihkan pandanganku melihat ke arah lain. Kepergok menatapnya benar-benar membuatku sangat malu.


...***...


Sore hari menjelang, mereka mengantarku pulang ke rumah. Saat aku turun dari mobil, aku heran saat melihat dia juga ikut turun bersama asisten Roy.


"Kalian mau apa? Kenapa ikut turun juga?" tanyaku, sambil menatap kedua pria itu bergantian.


"Tentu saja kami ingin masuk ke dalam," jawabnya santai, sambil berjalan menuju pintu masuk utama.


"Tentu saja untuk bertamu," jawabnya lagi.


"Jangan macam-macam, ibuku ada di dalam. Kalian tidak boleh masuk. Lebih baik sekarang, kalian cepat pergi dari sini."


"Siapa yang ingin macam-macam? Aku memang ingin masuk menemui ibumu, dan baguslah kalau ternyata dia ada di rumah."


"Tapi untuk apa kamu ingin menemui ibuku?"


"Aku ingin mengatakan padanya mengenai kabar membahagiakan ini. Dia harus tahu kalau sekarang dia sudah menjadi calon ne-"


"Diam!" Aku langsung menutup mulutnya dengan tanganku.


Aku tidak tahu bagaimana reaksi ibu nanti kalau beliau sampai mengetahui hal ini. Apalagi dia mengetahuinya langsung dari laki-laki yang sudah menghamiliku, bisa-bisa ibu menghantam kepala pria brengsyek ini dengan vas bunga sampai ber*****.


"Aku mohon, please ... pergilah dari sini. Aku bisa sendiri memberitahukan hal ini pada ibuku, tapi tidak sekarang. Aku masih butuh waktu. Dan dia tidak perlu tahu mengenai hal ini dari kamu, biar aku sendiri yang menjelaskannya nanti," jelasku, mencoba untuk membujuknya.

__ADS_1


"Apa maksudmu? Aku ini ayah dari janin yang tengah kamu kandung. Jadi aku juga yang harus bertanggung jawab."


"Tanggung jawab apa maksudmu? Jangan bilang kamu ingin menikahiku. Aku tidak mau. Aku tidak mau menikah dengan pria brengsyek sepertimu!" teriakku tanpa sengaja.


Aku baru sadar kalau aku sudah melakukan kesalahan saat dia menatapku dengan tajam.


Karena takut, aku langsung melepaskan cengkraman tanganku sambil bergerak mundur secara perlahan. Aku menelan ludahku dengan kasar saat dia terus-terusan saja menatapku seperti itu.


Sesaat kemudian, dia kembali berjalan menuju pintu utama, disusul oleh asisten Roy.


Tidak, ini tidak boleh terjadi. Aku tidak mau menikah dengan laki-laki seperti dia. Bisa-bisa setiap hari aku makan hati karena dia tiada hentinya berselingkuh dengan wanita lain.


Tidak, aku tidak mau. Sudah cukup aku hidup menderita selama ini. Aku tidak ingin menambah beban penderitaanku karena terus diselingkuhi olehnya.


Aku berlari pelan menyusul langkahnya, dan ingin kembali mencegahnya untuk masuk menemui ibu.


Aku kembali menarik tangannya dari arah belakang. "Tolong, jangan temui ibuku. Kamu juga tidak perlu bertanggung jawab padaku dan anak ini, karena aku bisa membesarkan anak ini seorang diri."


Entah mengapa setelah mendengarku berkata seperti itu, dia kembali menatapku dengan tajam. Kali ini bahkan lebih tajam dari sebelumnya. Dia juga terlihat sangat geram dan marah padaku. Aku jadi tidak mengerti, ada apa dengannya?


"Roy, jelaskan padanya," titahnya, sambil menghempaskan tanganku, lalu membuang pandangannya ke arah samping. Sepertinya saat ini dia sangat enggan menatapku.


"Nona, sebaiknya Anda tahu jelas mengenai isi dari pas*l 107 ay*t 1, bahwa jika Anda hamil dan Tuan Kaaran menginginkan pernikahan, mau tidak mau, Anda terpaksa harus setu-"


"STOOOP!!!" pekikku, sambil menutup kedua telingaku dengan tangan.


Aku benar-benar sudah sangat muak dengan isi surat perjanjian si*lan itu!


B e r s a m b u n g ...


...________________________________________...


...Guys, jangan bosan-bosan untuk selalu mendukung cerita ini ya, biar aku makin semangat melanjutkan cerita ini sampai tamat.😉😁...

__ADS_1


__ADS_2