One Night Love Devil

One Night Love Devil
Serangan Tiba-Tiba


__ADS_3

Melihatku sangat marah, entah mengapa dia malah tertawa. Sekarang sudah jelas, bahwa mereka memang sengaja menjebakku.


Sial. Dari mana aku bisa mendapatkan uang 10 kali lipat dari jumlah uang yang dia berikan padaku. Jangankan 10T, 10 juta saja aku harus bekerja selama beberapa bulan baru bisa mendapatkan uang sebanyak itu. Bekerja seumur hidup pun aku tetap tidak akan bisa menggantikan uangnya. Benar-benar sangat licik. Sepertinya dia memang sengaja ingin menjebakku menggunakan uangnya. Karena dia tahu persis bahwa aku tidak akan pernah mungkin bisa menggantinya.


"Bagaimana, apa kamu masih mau membatalkan surat perjanjian kita?" tanyanya sambil masih tertawa.


Dasar licik! Brengsyek! Menyebalkan! Aku sangat membencinya! Benar-benar sangat membencinya! Aku berteriak memakinya dalam hati.


"Kamu pasti sengaja 'kan ingin menjebakku? Mengaku sajalah." Kali ini aku tidak ingin lagi berbicara dengan sopan padanya. Tadinya aku tidak ingin lagi mengatai dan membencinya. Tapi sifat liciknya itu benar-benar membuat aku muak.


Dia kembali tertawa, lalu bangkit dari duduknya. Kedua tangannya dia masukkan ke dalam saku celana yang dia kenakan. Terlihat sangat keren, tapi sayang, hatinya busuk. Cuih. Aku sangat jijik melihat wajah menyebalkannya itu.


"Rania ... Rania .... Kamu ini sebenarnya polos atau bod*h? Siapa yang mau memberikan uang sebanyak itu padamu secara cuma-cuma. Apa kamu sama sekali tidak pernah memikirkan tentang isi dari surat perjanjian ini? Apa kamu sama sekali tidak curiga, kenapa sebelum kamu keluar dari villa waktu itu, kamu harus menanda tangani surat perjanjian ini dulu baru kamu bisa keluar dengan membawa serta uangnya?" Dia berkata sambil kembali tersenyum miring.


"Sepertinya kamu bukannya polos, tapi cenderung bo-doh."


Kurang ajar. Melihatnya mengataiku seperti itu, rasanya aku ingin sekali menghajarnya sekarang juga. Tapi ... tahan dulu Rania, kamu tidak boleh gegabah.


Pria brengsyek itu mulai berjalan mendekat ke arahku. Dia menatapku dengan tatapan mesyumnya. Kurang ajar. Sepertinya dia benar-benar minta dihajar rupanya.


"Sepertinya ... kamu terlihat semakin cantik saja, Baby." Dia berkata seraya berusaha menyentuh pipiku, tapi aku langsung menepis tangannya.


"Jangan sentuh aku!" teriakku.


"Apa?" tanyanya lalu terbahak. "Jangankan menyentuhmu, memakanmu sekarang juga pun aku bisa."


"Coba saja kalau berani," ucapku seraya langsung bersiap menghajarnya.

__ADS_1


"Ciaaak!"


Plak!


Bruk!


Dalam hitungan detik, tendanganku pada pipi kanannya langsung membuatnya terjatuh ke lantai. Dia tidak sempat melakukan perlawanan karena aku melakukan serangan tiba-tiba. Mungkin dia lupa kalau aku ini bisa bela diri. Waktu di restoran waktu itu, aku juga pernah membantingnya ke lantai.


"Auwh. ****!" Dia mengeluh sambil memegangi kepalanya yang terbentur di lantai, bergantian dengan pipinya yang kesakitan karena tendanganku. Ku lihat sudut bibirnya juga berdarah.


Aku tersenyum mengejek. Rasakan itu pria brengsyek. Memang enak.


"Tuan, Anda tidak apa-apa?" Baru saja Roy ingin membantunya untuk bangun, tapi dia malah menyuruh asistennya itu untuk keluar dari kamar ini.


"Keluar." Dia mengibas-ngibaskan tangannya mengusir asistennya itu.


"Tapi, Tuan-"


Melihat tuannya marah, asisten Roy pun segera meninggalkan kami setelah menunduk memberi hormat pada tuannya.


Dia menatapku dengan tajam sambil mengusap darah segar yang keluar dari sudut bibirnya. Aku yang tidak mau kalah justru melakukan hal yang sama, aku juga menatapnya dengan tatapan tajam. Kalau dia mau berkelahi, aku tidak takut sama sekali.


"Berani sekali kamu menghajarku," ucapnya seraya berjalan ke arahku. Dengan sigap aku memasang kuda-kuda, bersiap untuk menghajarnya kapan pun.


"Untuk apa lagi kamu mendekat? Apa kamu masih minta dihajar, hah?!" tanyaku, mencoba untuk menggertaknya.


"Punya nyali juga kamu. Menarik. Aku memang suka gadis pemberani sepertimu." Katanya sambil terus mendekat ke arahku.

__ADS_1


"Aku bilang jangan mendekat! Minta dihajar lagi kamu, ya?!" Aku mengancamnya sambil mulai bergerak mundur. Melihatnya terus menatapku dengan tatapan mesyumnya, tiba-tiba membuat nyaliku menciut. Sial.


"Sebaiknya kamu simpan saja tenangamu itu untuk membalas seranganku di atas ran****."


"Akh!!!" Dengan gerakan cepat dia langsung memanggulku. Lalu membawaku masuk menuju tempat tidur.


"Lepaskan aku! Dasar brengsyek! Lepaskan ...!" Aku memberontak di atas gendongnya.


Bug, bug, bug. Kedua tanganku aku gunakan untuk memukul punggungnya dari belakang. Tapi sepertinya pukulanku tidak ada apa-apanya baginya. Sepertinya dia tidak kesakitan sama sekali karena pukulanku.


Bruk!


"Akh!" Tubuhku langsung dia lemparkan ke atas tempat tidur.


...****************...


"Huhuhu ...." Sedari tadi aku tiada hentinya menangis. Dia benar-benar tidak memberiku ampun dan terus meng****** habis-habisan.


"Sudah, berhentilah menangis. Apa kamu tidak lelah menangis terus dari tadi? Hm," katanya sambil berusaha memelukku dari belakang.


"Jangan sentuh aku!" teriakku, tapi dia tidak memperdulikannya dan tetap memelukku dengan erat.


"Tidurlah. Besok pagi-pagi sekali aku akan mengantarmu pulang."


B e r s a m b u n g ...


..._____________________________________...

__ADS_1


...Guys, besok lagi ya, aku mau ngerjain tugas dulu dari kk Editor Noveltoon.๐Ÿ˜‰...


Jangan lupa untuk tetap kasih dukungan biar aku makin semangat nulisnya๐Ÿ˜‰ Terima kasih banyak buat kalian semua yang selalu setia ngasih dukungan buat karya ini๐Ÿ˜˜๐Ÿฅฐ Luv๐Ÿ’•๐Ÿ’•๐Ÿ’•


__ADS_2