
Zoe yakin, jika mommy dan daddy-nya tahu perihal cincin tunangannya yang sengaja dia berikan pada orang lain, keduanya pasti akan marah besar padanya. Jadi sebelum hal itu ketahuan, Zoe harus mencari akal untuk menutupinya.
Tadinya Zoe pikir, saat dia berhasil kabur dari rumah dan meninggalkan pulau, maka perjodohan itu sudah pasti akan berakhir. Pernikahannya dengan Aarav tidak akan pernah terjadi seumur hidupnya. Karena rencananya, setelah dia berhasil kabur meninggalkan pulau, dia akan pergi jauh ke luar negeri, ke tempat yang tidak bisa dijangkau dan ditemukan oleh orang-orang suruhan daddy-nya. Dan mengenai cincin tunangannya itu, dia memang sengaja memberikan cincin berharga itu kepada orang yang menurutnya paling berjasa dalam membantunya memperjuangkan masa depan pilihannya sendiri. Meski pun nelayan itu sempat menolak, akan tetapi Zoe terus memaksa agar pria paruh baya itu mau menerima pemberiannya.
"Berjanjilah pada Daddy bahwa kamu tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi." Kaaran menatap Zoe yang duduk di hadapannya dengan intens.
"Dad, apakah aku memiliki hak untuk menolak? Ini tentang masa depanku, Dad, dan aku sendiri yang akan menjalaninya nanti. Kalau boleh jujur, aku sama sekali tidak mau menikah dengan orang itu. Aku ... aku tidak mencintainya dan aku sama sekali belum siap menikah." Zoe akhirnya memiliki keberanian untuk mengungkapkan isi hatinya yang selama ini dia pendam pada daddy-nya.
Mendengar penolakan yang keluar dari mulut Zoe secara langsung, tentu saja membuat Kaaran semakin emosi. Tapi dia berusaha menahannya agar putri kesayangannya itu tidak melihat sisi lain dari dirinya.
Zoe benar-benar keras kepala dan sulit diatur. Persis seperti mommy-nya saat masih muda dulu. Batin Kaaran.
Meski pun marah, tapi nada suara Kaaran masih terdengar normal seperti biasanya. "Katakan pada Daddy, apa alasannya sehingga kamu menolak dan tidak ingin menikah dengan Aarav? Jika alasan yang kamu berikan kuat dan masuk akal, maka malam ini Daddy akan menelepon uncle Raymond untuk membatalkan pernikahan kalian, tapi jika alasanmu tidak meyakinkan dan tidak masuk akal, mau tidak mau, suka atau pun tidak suka, kamu tetap harus menuruti keinginan Daddy untuk menikah dengannya."
"Daddy serius?" tanya Zoe dengan wajah berbinar. Kedua sudut bibirnya seketika terangkat. Dia sangat yakin bisa meyakinkan Kaaran dan membuat daddy-nya itu membatalkan pernikahan mereka.
"Tentu saja," jawab Kaaran. "Apakah selama ini ucapan Daddy tidak dapat dipercaya?"
Zoe menggeleng. Dari dulu, omongan daddy-nya memang selalu bisa dipegang. Jika berjanji, Kaaran pasti akan menepati. Karena itulah Zoe sangat mengidolakan daddy-nya. Dia ingin memiliki suami yang sama seperti daddy-nya. Tampan, manly, bertanggung jawab, dan dapat dipercaya. Namun sayangnya, daddy-nya malah menjodohkan dirinya dengan seorang pria setengah matang. Zoe benar-benar kecewa dan tidak bisa menerima hal itu. Andai saja calon suaminya seperti yang dia harapkan, dia pasti tidak akan bersikeras menolak seperti sekarang.
__ADS_1
"Sekarang jelaskan pada Daddy, apa yang menjadi alasan terkuatmu sehingga kamu sangat ingin membatalkan pernikahanmu dengan Aarav?" tanya Kaaran.
Sebenarnya Zoe malu mengatakannya, tapi demi membatalkan pernikahan mereka, Zoe harus berani mengungkapkannya di hadapan daddy-nya secara langsung. "Karena ... karena dia bukan laki-laki normal, Dad."
"Bukan laki-laki normal?" tanya Kaaran ingin memastikan bahwa dia tidak salah dengar dengan ucapan putrinya barusan, dan Zoe hanya menjawabnya dengan anggukan, mengiyakan pertanyaan sang daddy. "Zoe, bagaimana bisa kamu mengatakan bahwa Aarav itu bukan laki-laki normal?"
"Tentu saja dia bukan laki-laki normal, Dad. Lihat saja penampilannya, dia suka sekali tampil di hadapan media dengan riasan tebal di wajahnya, seperti seorang perempuan. Lebih tepatnya sih ... seperti wanita tiruan," jelas Zoe berapi-api.
Kaaran tersenyum. "Zoe ... Zoe. Apa kamu pernah mendengar pepatah yang mengatakan bahwa, dont judge a book by its cover. Sebaiknya kamu jangan menilai seseorang dari penampilan luarnya saja," kata Kaaran. "Sekarang Daddy tanya sama kamu, apa kamu tahu apa pekerjaan calon suamimu?"
Zoe mengangguk. "MUA, Dad. Make up artist." Zoe menjawab dengan nada suara melemah. Entah mengapa dia tiba-tiba memiliki firasat bahwa usahanya untuk meyakinkan daddy-nya akan sia-sia saja.
"Daddy!" Seketika wajah Zoe jadi memerah. Hal tabu seperti itu tidak sepatutnya dia bahas bersama daddy-nya. Rasanya sangat memalukan sekali.
"Kenapa kamu berteriak pada Daddy, Zoe? Kamu itu sudah dewasa, Nak, jadi tidak perlu malu pada Daddy," jelas Kaaran. "Dan bukankah alasan kamu tidak menyukai Aarav karena hal yang satu itu? Lebih baik Daddy perjelas, bahwa pria it-"
"CUKUP!!!" Zoe langsung memotong ucapan Daddy-nya dengan cepat. Rasanya akan semakin memalukan jika membiarkan daddy-nya terus membahas lebih jauh lagi.
"Daddy benar-benar menyebalkan!" Zoe berjalan cepat menuju pintu keluar ruang baca sambil menghentak-hentakan kakinya. Bibirnya yang ranum sekarang sudah maju beberapa senti.
__ADS_1
"Zoe! Kamu mau kemana?! Daddy belum selesai bicara!" teriak Kaaran.
"Bodo amat!" balas Zoe.
Gadis itu terus berjalan menuju tangga untuk naik ke kamarnya di lantai atas sambil terus mengomel.
"Kalau Daddy sangat menyukai ban*ci itu, lebih baik Daddy saja yang menikah dengannya. Karena mau sampai kapan pun, aku tetap tidak mau menikah dengannya," gumam Zoe berbicara sendiri. Malam ini dia sudah berencana untuk kabur lagi.
"Hahaha!"
Tiba-tiba suara tawa mengejek terdengar di belakang Zoe. Karena terkejut, Zoe sontak menghentikan langkahnya, tapi dia malas untuk menoleh karena sudah tahu bahwa ini pasti ulah kedua adiknya. Siapa lagi yang berani menertawakannya kecuali kedua adik lucknutnya itu.
Zoe memutar bola matanya dengan malas, lalu meneruskan langkah naik ke kamarnya. Dia malas meladeni kedua adiknya yang suka sekali membuatnya kesal.
"Kakak Zoe, kami akan mengadukan ucapanmu pada mommy dan daddy, bahwa kamu menyuruh daddy yang menikah dengan kak Aarav saja," kata Raka.
"Terserah kalian! Aku tidak takut!" balas Zoe sambil berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Malam ini dia benar-benar kesal, ditambah lagi Zack dan Raka yang suka sekali membuat dirinya kesal.
Malam ini aku harus kabur dari sini bagaimana pun caranya. Batin Zoe.
__ADS_1