One Night Love Devil

One Night Love Devil
Bermodalkan Sepiring Nasi Goreng


__ADS_3

Pagi sudah menjelang, dan sekarang si kembar sedang berjemur bersama daddy mereka. Semenjak daddy mereka kembali, sepertinya anak-anak mulai pilih kasih. Saat ini mereka hanya ingin bersama daddy mereka, bahkan Zoe yang biasanya suka menempel padaku kini hanya ingin bersama pria itu, eh maksudku daddy mereka, daddy-nya anak-anak.


Mungkin seperti itulah cara kedua bayi kembar berusia 2 bulan lebih itu mengobati kerinduan mereka terhadap ayah kandung mereka. Terlebih mereka baru saja bertemu semenjak mereka dilahirkan.


Aku diam-diam memperhatikan mereka bertiga dari balik jendela kamar. Aku tidak mendekat karena masih malas berbicara dengan suamiku. Aku masih sangat marah padanya.


Setelah lebih dari 10 menit berjemur, Zoe dan Zack pun akhirnya dibawa kembali masuk ke dalam kamar. Sebentar lagi suster Lili dan suster Ria akan memandikan mereka, setelah itu baru ditidurkan lagi.


Semenjak mereka terbangun tadi subuh, mereka belum pernah tidur lagi. Sepertinya mereka senang bertemu dengan daddy mereka, apalagi daddy mereka terus-terusan mengajak mereka berdua bermain dan berbicara.


Setelah si kembar tertidur, aku pun kembali ke kamarku. Aku ingin mandi dan berganti pakaian, setelah itu aku akan keluar sarapan di meja makan.


.


.


Setengah jam kemudian.


Aku akhirnya selesai mandi dan berganti pakaian. Saat aku keluar dari kamar mandi, aku dikejutkan oleh seseorang yang berdiri di depan pintu kamar mandi sambil membawa sepiring makanan. Siapa lagi kalau bukan pria menyebalkan itu, daddy-nya anak-anak.


Aku yakin, dia pasti mau membujukku dengan masakannya. Cih, jangan mimpi. Jangan pikir aku bisa luluh semudah itu hanya dengan sepiring nasi goreng buatannya.


"Sayang, sarapan dulu. Kamu pasti belum sarapan, 'kan? Aku membuat nasi goreng spesial kesukaan kamu." Dia berkata sembari tersenyum manis di hadapanku.


Aku tidak menggubris ucapannya, hanya berdiri mematung saja di depan pintu kamar mandi. Aku tidak bisa kemana-mana karena dia menghalangi jalanku.


"Sayang, ayo duduk dulu. Kita sarapan bersama." Dia berkata sembari menarik pergelangan tanganku menuju sofa, dan aku pun hanya menurut tanpa berkata sepatah kata pun padanya.


Begitu kami sama-sama duduk di sofa, dia pun lalu menyodorkan sesendok makanan ke mulutku. Dia ingin menyuapiku.


"Tidak usah, aku bisa sendiri" ucapku seraya merebut sendok dan piring nasi goreng dari tangannya.

__ADS_1


Aku lalu menyantap nasi goreng itu dengan lahap. Um ... masakan suamiku memang the best. Lidahku memang sudah sangat lama merindukan rasa dari setiap masakannya.


Beberapa saat kemudian. Satu piring penuh nasi goreng sudah ludes aku habiskan seorang diri, padahal porsinya cukup untuk dua orang, tapi aku tidak mau berbagi dengannya, biar pun dia sendiri yang memasak untukku.


Ah ... rasanya perutku mau meledak. Aku benar-benar kekenyangan. Padahal, di minggu kedua setelah aku melahirkan si kembar, aku mulai menjalani program diet. Apalagi saat mengetahui kedua bayiku tidak bisa menyusu padaku, aku pun memutuskan untuk menurunkan berat badanku hingga hasilnya sudah bisa terlihat sekarang. Aku sudah tidak segemuk 2 bulan yang lalu.


Padahal tadinya aku sangat menghindari makan nasi, tapi saat aku melihat nasi goreng buatannya, aku langsung tergoda. Aroma dan rasa masakannya membuatku khilaf dan menghabiskan nasi goreng sebanyak itu sendirian. Aku juga lupa kalau aku sebenarnya sedang diet.


Tiba-tiba saja suamiku berlutut di hadapanku dan menggenggam kedua tanganku.


"Sayang, terima kasih karena kamu sudah mau memaafkanku." Dia berkata sambil tersenyum sumringah, lalu mencium punggung tanganku secara bergantian.


"Aku berjanji, mulai sekarang aku tidak akan meninggalkan kamu bersama anak-anak kita lagi. Kita akan merawat dan membesarkan putra putri kita bersama-sama. Dan mulai sekarang, aku akan melakukan apa pun untuk membahagiakan kalian bertiga," ucapnya lagi sambil menatapku lekat-lekat.


Setelah mengucapkan kalimat-kalimat manis panjang kali lebar tanpa sekali pun aku tanggapi, dia pun kemudian berkata, "Sayang, aku sangat merindukan kamu. 3 Bulan kita berpisah rasanya aku sudah tidak tahan lagi. Mumpung sekarang anak-anak masih tidur, bisakah sekarang kita-"


"Siapa bilang aku sudah memaafkan kamu? Enak saja," ucapku seraya menghempaskan kedua tangannya yang sedari tadi menggenggam kedua tanganku. Sekarang aku sudah berdiri dari dudukku dan menatapnya dengan tajam. Enak saja dia ingin meminta jatah hanya bermodalkan sepiring nasi goreng. Jangan mimpi.


"Ya jelas aku masih marah. Kapan aku mengatakan kalau aku sudah tidak marah lagi padamu? Kamu pikir aku bisa memaafkan semua kesalahanmu itu dengan mudah? Cih, jangan harap. Apalagi kamu hanya ingin menyogokku dengan sepiring nasi goreng. Mimpi."


"Tap-tapi Sayang, kalau kamu masih marah, lalu kenapa kamu menghabiskan nasi goreng buatanku? Kenapa kamu tidak menolaknya kalau kamu memang masih marah padaku?" tanyanya.


Oh, jadi ternyata dia berpikir, karena aku sudah memakan nasi goreng spesial buatannya, dia sudah menganggap bahwa aku sudah memaafkan kesalahannya. Cih, mana mungkin aku bisa memaafkannya semudah itu.


"Ya itu karena aku memakan nasi goreng buatanmu pakai sendok, bukan pakai hati, makanya aku tidak gampang baperan," jawabku.


"Kamu saja yang terlalu cepat mengambil kesimpulan, padahal aku tidak pernah mengatakan apa pun padamu tadi. Lagipula, untuk apa juga aku menolak makanan pemberianmu, aku memang lapar," tambahku lagi.


"Tapi Say-"


"Sudah, minggir sana. Aku mau lewat," ucapku lalu berjalan menuju pintu.

__ADS_1


Sebelum benar-benar keluar dari kamar, aku lalu berbalik ke arahnya.


"Oh iya, jangan harap aku bisa memaafkanmu dengan mudah, apalagi sampai memberimu jatah hanya dengan bermodalkan sepiring nasi goreng. 3 Bulan kamu pergi meninggalkan aku dan anak-anak, dan sekarang butuh waktu 3 tahun untuk aku bisa memaafkan kamu." Seketika wajahnya terlihat pias mendengar ucapanku.


"Sayang, jangan bercanda. 3 Tahun bukanlah waktu yang sebentar." Saat ini dia memasang wajah tidak berdaya sambil bersimpuh di lantai.


"Siapa bilang aku bercanda? Aku serius dengan ucapanku. Apa di matamu aku terlihat seperti orang yang sedang bercanda?" tanyaku. "Apa kamu tahu akibat dari perbuatanmu itu? Aku jadi tidak bisa menyusui si kembar karena terlalu stres memikirkan kamu."


"Sayang, tolong jangan bicara seperti itu. Aku benar-benar minta maaf. Lagi pula sebelum aku pergi waktu itu, aku 'kan sudah bilang padamu kalau aku akan pergi karena ada urusan penting dan dalam waktu yang tidak bisa aku tentukan. Kamu juga mengijinkannya waktu itu, 'kan?"


"Ya, aku akui aku memang memberimu ijin, tapi terpaksa. Lalu menurutmu, urusan bisnis apa yang jauh lebih penting dan lebih berharga dari aku dan anak-anak? Sebegitu berharga kah bisnismu itu sehingga kamu tidak bisa pulang biar sebentar pun untuk menemaniku berjuang melahirkan anak-anak kamu, hah?!" Mengingat hal itu seketika membuat aku semakin emosi. Bahkan sekarang aku sudah berteriak-teriak padanya.


"Jawab aku! Apa bisnismu itu lebih berharga dari aku dan anak-anak?!"


"Aku benar-benar minta maaf Sayang. Aku tahu aku salah. Aku benar-benar menyesal." Dia berkata sambil menunduk dan memasang wajah penuh penyesalan.


"Cih, kamu baru menyesal sekarang. Sudah terlambat."


BAM!!! Aku menutup pintu dengan keras setelah aku keluar dari kamar.


B e r s a m b u n g ...


...______________________________________________...


...Guys, yang merasa up nya masih kurang, bisa tengokin isi hati Babang Kaaran di novel 'Raniaku, Canduku' ya. Kedua novel ini saling berkaitan, yang ingin mengetahui kisah Kaaran dan Rania versi lengkapnya, wajib banget mampir ke sana.😆...


...Dan yang penasaran siapa sebenarnya Babang Kaaran, semuanya baru saja terjawab di novel 'Raniaku Canduku', kuy ditengokin guys.😁...


...Jangan lupa dukungannya ya dan follow juga authornya kalo ada yang mau😅🤭...


__ADS_1


__ADS_2