One Night Love Devil

One Night Love Devil
Pembohong Besar!


__ADS_3

"Permisi, Bung? Apa, Bung pernah melihat gadis ini?" tanya seorang pria bertubuh tinggi tegap yang lengkap dengan setelan jas hitamnya.


Aku langsung menggeleng, sehingga membuat pria itu langsung menanyai pengunjung-pengunjung lain yang mengantri bersamaku.


Gawat, gawat, gawat. Darimana mereka mendapatkan fotoku? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Orang suruhan pria ******* itu benar-benar sudah datang mencariku. Untungnya tadi dia berpikir kalau aku ini seorang laki-laki, jadi aku masih bisa selamat.


Belum juga aku mendapatkan sarapan, orang itu tiba-tiba saja datang mencariku. Aku harus segera pergi dari tempat ini, sebelum aku ketahuan.


Aku memutar badanku berbalik menuju pintu keluar. Mataku tiba-tiba membulat melihat sosok seorang pria tampan sedang berdiri sambil bersandar pada pintu mobil mewahnya. Kedua tangannya dia lipat di depan dada. Ekspresinya terlihat datar, dan tatapannya sangat dingin, seperti sedang menahan kekesalan.


Sial. Demi menangkapku, pria ******* ini bahkan sampai turun tangan sendiri. Apa dia tidak punya pekerjaan lain apa, jam segini sudah keluar mencari orang.


Aku berjalan dengan tenang keluar dari warung makan itu. Aku takut, saat aku terlihat terburu-buru dan tergesa-gesa, mereka akan curiga dan segera menangkapku.


Aku sempat melihat tadi, saat aku keluar, pria ******* itu tidak memperhatikanku sama sekali. Untung saja, kalau tidak, aku pasti akan segera menjadi mangsanya.


Setelah aku sampai di lorong dan merasa sudah cukup aman, aku segera berlari menuju kost-anku. Aku ingin mengambil barang-barang yang menurutku lumayan penting untuk dibawa kemudian segera meninggalkan tempat ini. Tempat ini sudah tidak aman lagi untukku, sepertinya ada yang memberi tahu mereka kalau aku tinggal disekitar sini.


Aku mengambil slingbag berwarna abu-abu tua di dalam lemari kemudian memasukkan kartu identitas, buku tabungan, ponsel, charger, dan beberapa jumlah uang. Benda-benda ini yang paling wajib aku bawa, urusan pakaian, ditinggalkan ditempat ini juga tidak apa-apa. Kalau aku punya waktu dan kesempatan, aku bisa kembali mengambilnya saat keadaan sudah lebih aman.


Dengan langkah tergesa, aku keluar dari kamar kost-an. Kali ini aku berjalan menuju arah berlawanan dari lorong jalan tadi agar aku tidak bertemu dengan pria itu bersama pengawalnya.


Saat aku sampai di jalan poros, aku segera menghentikan taxi, sebenarnya aku juga bingung, harus pergi kemana disaat seperti ini. Aku masih belum tahu banyak tempat di kota ini, karena selama hampir 3 bulan aku tinggal disini, aku hanya fokus bekerja dan tidak pernah keluar jalan-jalan.


"Mau diantar kemana, Mbak?" tanya si bapak sopir taxi.


"Jalan saja dulu, Pak, nanti saya kasih tau," jawabku.


Perasaanku sedikit lebih lega saat taxi mulai melaju. Tapi aku juga bingung, kemana aku meminta sopir taxi ini mengantarku.


Sekitar 15 menit taxi yang aku tumpangi melaju, tiba-tiba aku terpikir untuk pergi ke stasiun kereta. Aku sudah tidak aman lagi tinggal di kota ini, jadi lebih baik aku segera pulang ke rumah saja, ke kota kelahiranku.

__ADS_1


"Pak, Pak! Antar saya ke stasiun, Pak."


"Aduh, Mbak ... Mbak. Kenapa baru bilang sekarang? Kita ini jalan ke arah yang berlawanan dengan tempat tujuan, Mbak," ujarnya, sambil menggelengkan kepalanya.


"Maaf, Pak. Saya baru kepikiran soalnya."


.


45 Menit kemudian, sampailah taxi yang aku tumpangi di stasiun, setelah membayar ongkos taxi dan turun dari mobil, aku segera berlari kecil menuju loket penjualan tiket kereta menuju kota kelahiranku.


"Apakah ada kereta yang berangkat lebih pagi, Kak?" tanyaku pada petugas perempuan yang sedang berjaga.


"Maaf, Mbak, ini sudah kereta yang berangkat paling pagi, dua kereta yang lainnya akan berangkat siang dan sore nanti," jawab petugas tersebut.


"Oh, ya sudah. Terima kasih ya, Kak." Aku mengambil tiket yang sudah aku beli lalu memasukkannya ke dalam slingbagku.


Sekitar 2 jam lagi kereta yang akan aku tumpangi berangkat, aku harus mencari tempat makan dulu untuk mengisi perutku yang sudah berbunyi minta diisi sedari tadi.


Setengah jam kemudian, aku akhirnya sudah selesai sarapan dengan nasi kuning. Aku bernapas lega karena tampung tengahku sudah terisi. Dengan perut kenyang, aku bisa berpikir lebih baik dan lebih jernih dari sebelumnya.


"Nia-" Aku mendengar suara ibu dibalik telepon, namun tiba-tiba saja panggilannya terputus.


Tit tot tit tot tit tot.


Sial. Baterainya habis. Disaat seperti ini, kenapa semuanya selalu berjalan tidak sesuai dengan apa yang aku harapkan. Ternyata tadi malam aku lupa mengisi daya ponselku.


Huft .... Aku mendengus kasar sambil memasukkan kembali ponselku ke dalam tas, lalu kembali melanjutkan langkahku.


Namun saat aku tengah berjalan, tiba-tiba saja aku merasa ada sesuatu yang menahan kepalaku, hingga membuatku menghentikan langkah.


Aku meraba-rabanya, ternyata sebuah tangan yang besar. Aku yakin, ini pasti tangan milik seorang laki-laki, terbukti dari ukurannya yang besar. Dengan mengandalkan ilmu bela diri yang aku punya, aku mulai meraih pergelangan tangan tersebut dan berusaha untuk mengkilirnya, tapi tiba-tiba saja tanganku yang dikilir, hingga aku masuk ke dalam pelukan seorang pria.

__ADS_1


"Auwh!" Aku merasakan pergelangan tanganku sedikit sakit.


Tiba-tiba saja pria itu menurunkan topi hoodie yang aku kenakan kemudian menurunkan maskerku juga.


"Kena kamu. Berani-beraninya mau kabur dariku."


Sial. Habislah aku kali ini. Ternyata si ******** itu. Kenapa dia tiba-tiba bisa ada disini dan menangkapku?


Aku berusaha melawan namun tenaganya perpuluh-puluh kali lebih kuat dari tenagaku. Aku benar-benar tidak bisa melawannya.


"Lepaskan!" Aku berusaha memberontak untuk melepaskan diri.


"Jangan mimpi, kali ini kamu tidak akan bisa lolos dariku," bisiknya di dekat telingaku.


"Lepaskan aku. Kalau tidak, aku akan berteriak," ancamku.


"Teriak saja sampai suaramu habis. Kalau pun ada yang mendekat ingin menolongmu, aku hanya tinggal bilang, kalau istriku kabur dari rumah karena cemburu pada wanita lain."


"Laki-laki brengsek, lepaskan!" Aku masih berusaha memberontak sekuat tenaga, tapi tiba-tiba saja dia menggendongku ala bridal.


"Aah! Lepaskan! Lepaskan aku! Pria *******!" Aku terus meronta-ronta sambil terus memukul-mukul dadanya. Berharap bisa membuatnya kesakitan kemudian melepaskanku.


Aku melihat ada beberapa orang yang sedang memperhatikan kami, aku pun berusaha meminta pertolongan pada orang-orang tersebut. "Pak!!! Tolong Saya, Pak!!! Tolong, saya mau diculik!!!"


"Jangan percaya, Pak. Istri saya memang begitu kalau cemburu. Dia langsung kabur dari rumah," ucapnya, tentu saja membuat orang-orang mengurungkan niat mereka untuk datang menolongku.


"Sebaiknya masalah keluarga itu dibicarakan baik-baik. Kalau ada masalah, tinggal diselesaikan di atas tempat tidur," kata seorang bapak yang menyaksikan kami sedari tadi sambil tertawa.


"Betul sekali. Saya suka saran, Bapak," katanya, lalu tertawa renyah.


Dasar brengsyek! Aku benci melihatnya tertawa seperti itu. Rasakan ini. Aku menggigit dadanya kuat-kuat, semoga saja dia akan merasa kesakitan. Tapi nyatanya, dia terlihat biasa-biasa saja, malah terus menggendongku menuju mobilnya. Apa mungkin pakaiannya terlalu tebal, sehingga gigitanku tidak begitu terasa?

__ADS_1


"Pembohong! Pembohong besar! Jangan harap kamu bisa menyentuhku! Jangan mimpi! Aargh!!!" Aku terus meronta di dalam gendongannya sambil terus memukulnya.


B e r s a m b u n g ...


__ADS_2