
Semakin Zidan melangkah, dia semakin mendekat ke arahku.
"Nia, kamu terlihat semakin cantik saja sekarang. Badanmu sekarang lebih berisi, dan itu membuat kamu terlihat semakin seksye dan menggoda," ucapnya, dan aku hanya menanggapinya dengan senyuman.
Sekarang ini Zidan sudah berdiri tepat di hadapanku dengan jarak yang sangat dekat. Saat tangannya ingin menyentuh wajahku, aku langsung mencekal pergelangan tangannya.
"Jangan terburu-buru, Zidan. Sebelum kita bermain, terlebih dahulu aku harus memeriksa seberapa perk*sa kah dirimu. Lebih kuat mana, kamu, atau suamiku, hm?" ucapku sambil tersenyum genit dan mengedipkan sebelah mataku padanya.
"Ah? A-pa maksudmu-" Belum selesai dia mengucapkan kata-katanya, aku langsung memotong ucapannya.
"Maksudku ini."
Bug.
"Argh! Auwh ...!" Zidan menjatuhkan dirinya ke lantai. Dia meringis kesakitan sambil memegangi telur-telurnya. Disaat seperti ini, lututku adalah senjata andalanku.
"RANIA!!! Awas kamu ...! Argh!!!" Wajah Zidan memerah. Mungkin memerah karena marah sekaligus kesakitan.
__ADS_1
Aku tersenyum miring sambil berjongkok tidak jauh di samping Zidan.
"Kenapa kamu marah Zidan? Aku 'kan tadi sudah bilang, sebelum kita bermain, aku harus memeriksamu terlebih dahulu, lebih perka*sa mana, kamu atau suamiku. Nyatanya setelah aku periksa, kamu tidak apa-apanya jika harus dibandingkan dengan seorang Kaaran Dirga. Dasar payah, cemen." Aku berkata sambil tersenyum mengejek.
"Nia ...! Dasar perempuan ja*ang! Awas saja kamu, aku tidak akan membiarkanmu keluar dengan selamat dari sini! Ecamkan itu!"
"Oh, ya? Coba saja kalau berani," ucapku. Aku sama sekali tidak takut dengan ancamannya.
Saat melihat Zidan berusaha bangkit dengan sekuat tenaga, aku pun ikut berdiri. Aku ingin melihat, apa yang akan pria brengsyek ini lakukan padaku.
"Lihat saja, aku tidak akan membiarkanmu lolos! Dan setelah ini, aku akan membuat suamimu membuangmu, perempuan si alan ...!" ancamannya lagi.
"Si alan kamu, Nia. Berani sekali kamu meledekku. Rasakan ini." Zidan berkata seraya berusaha meraih lenganku, tapi aku berhasil menghindar. Dan sekarang, malah aku yang kembali menangkap pergelangan tangannya, dan dalam sekejap, aku langsung membanting tubuhnya ke lantai.
Bruak!
"Argh!!!"
__ADS_1
"Rasakan itu. Jangan pikir aku masih sama seperti Rania yang dulu kamu kenal. Sekarang aku sudah berubah, dan semua itu berkat kamu. Terima kasih banyak, ya," ucapku, sambil menepuk-nepuk pipinya.
"Oh iya, kamu baru saja mencicipi 2 jurus andalanku. Bagaimana rasanya, hm? Apakah enak?" tanyaku padanya, tapi dia tidak menjawab, dia malah fokus meringis kesakitan.
"Sakit, ya? Tapi itu belum seberapa jika harus dibandingkan dengan rasa sakit hati yang aku rasakan dulu akibat perbuatanmu."
"Dan satu lagi, masih ada satu jurus andalanku yang belum kamu coba. Apa kamu juga ingin mencobanya?" tanyaku. Lagi-lagi dia terdiam. Dia masih belum menggubris ucapanku. Mungkin dia tengah fokus pada rasa sakit yang tengah dia rasakan saat ini.
"Zidan, apa kamu mau tahu sebuah rahasia besar? Bahkan rahasia ini tidak pernah aku katakan pada suamiku. Takut dia marah dan cemburu," ucapku.
"Aku sebenarnya belajar ilmu bela diri gara-gara kamu. Gara-gara kamu yang sudah membuatku sakit hati dan kecewa."
"Oh iya, masih ada satu hal lagi yang harus kamu ketahui, bahwa sebenarnya aku memang sudah bertahun-tahun menantikan moment seperti sekarang ini bersamamu, dimana aku bisa mempraktekkan semua jurus-jurus yang aku pelajari untuk menghajarmu sepuasnya."
Zidan masih belum berkata apa-apa, tapi dia mengepalkan tangannya dengan kuat. Dia terlihat sangat geram dan marah.
Tiba-tiba saja dengan gerakan cepat, sebelah tangannya langsung mencengkeram pergelangan kakiku dengan kuat.
__ADS_1
B e r s a m b u n g ...