
Setelah keduanya kembali sama-sama siap, kini mereka mulai bertarung dengan tangan kosong. Dilihat dari tendangan dan pukulan yang diberikan, suamiku sedikit lebih unggul dari si Johan itu. Buktinya si Johan itu berkali-kali terjatuh karena pukulan yang diberikan oleh suamiku. Hingga tiba pada satu pukulan yang terlihat sangat keras, suamiku berhasil menjatuhkan si Johan itu sampai si Johan itu terkapar tidak berdaya di atas tanah.
Ku lihat suamiku mulai berjalan mendekati si Johan itu. Dia menginjak dada pria yang menjadi lawan duelnya tersebut, tapi sayang, yang diinjak tidak lagi memberikan reaksi sedikit pun. Mungkin dia benar-benar sudah pingsan. Pikirku.
Ku lihat suamiku mulai menekan tombol pada jam tangan canggih yang melingkar di pergelangan tangannya dan berbicara sambil mendekatkan jam tangan tersebut ke arah mulutnya.
Seketika aku juga teringat pada jam tangan yang sama yang melingkar pada pergelangan tanganku. Kenapa aku tidak kepikiran untuk menggunakan alat ini sedari tadi. Sebelum aku tekan, jam tangan canggih ini sudah berbunyi duluan. Tampilan layarnya mirip dengan layar ponsel saat ada panggilan masuk, hanya saja ukurannya berlipat-lipat kali lebih kecil.
"Halo," ucapku setelah menekan tombol gagang hijau pada layar jam tangan canggih tersebut.
"Sayang."
"Dad, bagaimana keadaan anak-anak?" tanyaku. Sedari tadi aku paling membuat aku khawatir adalah kedua anakku.
"Anak-anak sekarang aman bersama William dan Raymond, Sayang. Tunggu saja mereka keluar. Mereka hanya menunggu aku mengalahkan Johan lalu mereka akan membawa anak-anak keluar menuju mobil," jelas suamiku.
__ADS_1
"Syukurlah. Aku merasa sangat lega mendengarnya Dad," ucapku. Air mata bahagia penuh kelegaan mulai mengalir menjauhi pelupuk mataku. Akhirnya, masalah menegangkan ini berakhir juga. Huft.
Namun, baru saja aku merasa bernapas lega, tiba-tiba saja aku melihat pria yang terbaring di belakang suamiku mulai bangkit kembali. Sepertinya dia ingin memukul suamiku dengan sebuah balok kayu.
"Dad, awas!!!" teriakku.
Bug.
"Akh!!!"
Tapi sayangnya, pria itu sudah terlanjur memukul kepala suamiku menggunakan balok kayu dari belakang. Gerakan pria itu sangat cepat, sehingga tidak memberikan kesempatan bagi suamiku untuk mengelak. Dan dalam hitungan detik, kini gantian suamiku yang jatuh tersungkur di atas tanah.
"Hahaha! Jangan salah. Siapa bilang aku sudah kalah." Jam tangan canggih milik suamiku berhasil merekam suara pria itu meski pun suaranya terdengar tidak begitu keras.
Mataku seketika membulat, jantungku berdetak semakin tidak karuan saat melihat pria itu memungut kembali ce*urit yang tadi pernah dia lemparkan ke tanah. Jangan-jangan, dia ingin menyakiti suamiku menggunakan senjata tajam itu.
__ADS_1
"Dad! Bangun Dad! Awas! Dia ingin menikammu dari belakang!" Aku kembali berteriak dengan keras berharap suamiku akan bangun dan melawan.
"Sa-Sayang. Ma-maafkan a-ku," ucapnya dengan suara yang sangat lirih.
"Tidak Dad, kamu harus bangun! Kamu harus melawan dia! Kamu pasti bisa Dad! Kamu pasti bisa!" teriakku lagi.
"Hahaha! Kaaran Dirga! Hari ini nyawamu akan lenyap di tanganku. Hahaha! Cepat ucapkan selamat tinggal pada orang-orang tersayangmu. Hahaha!"
Suamiku mulai beringsut mundur saat melihat si Johan semakin mendekat ke arahnya. Celu*it yang ada di tangan pria jahat itu sudah dia angkat tinggi-tinggi dan siap untuk dia tancapkan pada bagian tubuh suamiku.
Tidak. Aku tidak bisa duduk diam di sini saja. Aku harus menyelamatkan suamiku. Aku tidak rela suamiku dihabisi oleh pria terkutuk itu.
Dengan cepat aku mengeluarkan pis*olku lalu keluar dari dalam mobil.
"Hei pria brengsyek! Jangan pernah berani-berani menyakiti suamiku!" teriakku sambil menodongkan pis*ol ke arahnya, dan seketika perhatian pria itu langsung beralih ke arahku.
__ADS_1
DOR! DOR!
B e r s a m b u n g ...