
Pesta berlangsung dengan lancar. Hingga tiba waktunya sesi pemotretan foto keluarga.
"Dad, kenapa suster belum juga membawa anak-anak kemari? Apa mereka belum juga bangun jam segini? Ini 'kan sudah tiga jam yang lalu mereka tertidur," ucapku.
Sedari tadi aku merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatiku, tapi aku juga tidak tahu apa itu.
"Tunggu sebentar Sayang, aku akan menyuruh Roy untuk menghubungi suster Lili atau pun suster Ria." Suamiku berkata dan aku langsung menanggapi dengan anggukan.
Suamiku lalu melambaikan tangannya pada asisten Roy yang berdiri tidak jauh di depan pelaminan. Setelah itu pria kaku berbadan tegap dan atletis tersebut segera berjalan dengan cepat naik menghampiri kami.
"Tuan memanggil saya?" tanyanya.
"Roy, cepat hubungi babysitter nya anak-anak. Suruh mereka untuk membawa si kembar kemari jika anak-anak sudah bangun. Sebentar lagi kami akan melakukan sesi pemotretan foto keluarga," ucap suamiku.
"Baik, Tuan." Asisten Roy pun segera turun dari pelaminan. Setelah itu dia terlihat sedang menghubungi seseorang.
Berselang beberapa kali menelpon, panggilan asisten Roy terlihat tidak kunjung dijawab. Pria itu pun segera beranjak keluar dari ballroom hotel tempat resepsi diselenggarakan.
__ADS_1
"Loh Dad, kenapa asisten Roy malah pergi? Tadi kelihatannya suster Lili mau pun suster Ria tidak menjawab panggilannya. Sebenarnya apa yang terjadi, Dad? Entah mengapa perasaanku semakin tidak enak," bisikku pada suamiku.
"Tenang saja Sayang, jangan panik. Mungkin suster Lili dan suster Ria tidak menjawab panggilannya karena mereka tidak mendengar panggilan dari Roy. Atau mungkin anak-anak kembali melanjutkan tidurnya setelah diberi susu lagi oleh mereka."
Meski pun suamiku menyuruhku untuk tidak panik, entah mengapa aku tetap merasa ada sesuatu yang aneh. Aku takut terjadi apa-apa pada kedua anakku.
"Sayang ... kenapa wajahmu terlihat sangat tidak tenang seperti itu? Tenang, tempat ini sudah dijaga dengan sangat ketat oleh anak buah William. Lagi pula, di depan kamar anak-anak juga sudah dijaga dengan ketat, pasti aman kok Sayang," ucap suamiku lagi.
Aku mendongak menatap wajah suamiku. Bibirnya berkata menenangkanku, akan tetapi aku juga bisa membaca ekspresi kekhawatiran di wajahnya. Aku bisa melihatnya dengan jelas. Ini pertama kalinya aku melihatnya seperti ini.
"Ada apa, Kak? Kenapa Kak Nia terlihat gelisah?" tanya Rina.
"Iya Rania, ada apa? Sedari tadi kami melihat kamu sepertinya tidak tenang." Kali ini Audrey yang bertanya padaku.
"Tidak, tidak ada apa-apa. Aku hanya ... aku hanya sedikit khawatir karena sampai sekarang anak-anak belum juga dibawa kemari oleh suster Lili dan suster Ria," jawabku.
"Loh, bukankah tadi si kembar sedang tidur. Mungkin saja Zoe dan Zack tidurnya sangat nyenyak. Anak kecil 'kan biasanya begitu, saat terbangun dan diberi susu, mereka biasa melanjutkan kembali tidurnya." ucap Audrey. Ibu dua anak itu sedang berusaha untuk menenangkanku.
__ADS_1
"Kalau begitu, bagaimana kalau aku pergi cek, Kak, untuk memastikan?" ucap Rina.
Aku mengangguk. "Pergilah, Dek. Kakak baru bisa akan tenang setelah mengetahui bahwa anak-anak baik-baik saja."
Namun, baru saja beberapa langkah Rina turun dari pelaminan, terlihat asisten Roy tengah berjalan tergesa-gesa menuju pelaminan. Wajah pria kaku itu terlihat sangat pucat, dan itu membuat perasaanku semakin tidak enak. Jantungku sekarang sudah berdebar tidak karuan. Apa jangan-jangan, terjadi sesuatu pada kedua anakku?
B e r s a m b u n g ...
...__________________________________________...
جَعَلَنَا اللَّهُ وَاِيَّاكُمْ مِنَ العَائِدِيْنَ وَالفَائِزِيْنَ وَالمَقْبُوْلِيْنَ كُلُّ عَامٍ وَاَنْتُمْ بِخَيْرٍ
Ja'alanallohu wa iyyakum minal 'aaidin wal faaizin wal maqbuulin kullu 'aamin wa antum bikhoirin.
Artinya : Semoga Allah menjadikan kita semua tergolong orang-orang yang kembali fitrah dan berhasil mendapat surga. Selamat hari raya.🙏😇
...Mohon maaf lahir dan batin teman-teman.🙏😇...
__ADS_1