One Night Love Devil

One Night Love Devil
Batagor


__ADS_3

Keesokan paginya.


"Sayang."


"Hm."


"Hari ini jadwal kontrol kamu untuk periksa kandungan, 'kan?" tanyanya sambil masih memelukku dengan erat di balik selimut.


"He'em." Aku menjawab sembari mengangguk. Mataku masih terpejam karena aku masih merasa sangat mengantuk. Semalam tidurku sangat nyenyak sekali.


"Kalau begitu, ayo kita bangun." Dia berkata dengan sangat lembut padaku. Semenjak kami menikah, dia memperlakukanku dengan sangat baik dan sangat memanjakanku. Dia tidak pernah berkata tidak pada setiap keinginanku selama hal itu baik dan tidak merugikan untukku dan calon anak kami. Apalagi jika aku sudah membawa-bawa anak yang masih dalam kandungan, pasti dia tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi selain hanya menuruti apa saja keinginanku.


"Sebentar lagi ... aku masih sangat mengantuk," ucapku dengan nada manja.


"Ya sudah, kalau begitu aku bangun duluan ya, Sayang," ucapnya, lalu mencium kening, kedua pipi, beserta bibirku secara bergantian. Tidak lupa juga dia mencium perutku yang sudah terlihat sedikit buncit di bagian bawahnya, padahal baru 12 minggu.


.


Sekitar 10 menit kemudian. Dia kembali ke kamar sambil membawa segelas susu ibu hamil, beberapa potong sandwich, dan secangkir kopi untuk dirinya sendiri.


Begitulah kesehariannya setelah kami menikah dan tinggal di villa ini. Dia menggantikan bi Nining untuk meladeniku karena aku menolak untuk diladeni oleh bi Nining, apalagi dilayani oleh pelayan yang lainnya. Aku maunya dia yang meladeniku, bukan yang lain.


Hitung-hitung untuk menebus segala dosa yang pernah dia perbuat padaku dulu. Sekarang berbanding terbalik, bukan aku yang harus memenuhi semua keinginannya, melainkan dia yang harus memenuhi semua keinginanku. Aku harus memanfaatkan baik-baik moment kehamilanku ini, kapan lagi aku bisa memperbudak seorang Kaaran Dirga. Siapa tahu setelah melahirkan nanti, dia sudah tidak mau lagi aku suruh-suruh.


Setelah aku menenggak habis susu rasa cokelat yang dia buatkan untukku, tiba-tiba aku teringat dengan dua orang yang kami temui tadi malam.


"Siapa laki-laki paruh baya yang kamu panggil dengan sebutan 'Dad' tadi malam? Apa dia ayahmu?" tanyaku penasaran.


Saat ini aku sedang duduk di pinggir tempat tidur, sedangkan suamiku duduk di sofa sembari menikmati secangkir kopi hitam.


"Mm ... ya, dad Robinson adalah ayahku. Tapi lebih tepatnya ayah angkat," jawabnya, dan aku mengangguk mengerti.


"Lalu, laki-laki kurang dihajar yang mengangguku semalam siapa? Kenapa dia memanggilmu dengan sebutan 'Kak'?" tanyaku lagi.

__ADS_1


"Oh, itu Kevin Alexander. Kami sama-sama anak angkat dad Robin," jelasnya.


"Maksudnya? Memangnya dad Robin itu siapa? Kenapa dia memiliki beberapa orang anak angkat?" tanyaku, makin penasaran.


"Dad Robin itu memiliki peran yang cukup penting dalam dunia bisnis. Makanya, kebanyakan pengusaha-pengusaha sukses bekerja sama dengannya untuk mempertahankan kerajaan bisnis mereka masing-masing," jawabnya. Aku yang tidak mengerti dengan dunia bisnis langsung menyudahi pertanyaanku.


***


Saat menemaniku untuk periksa kandungan, suamiku sampai melakukan penyamaran. Dia sampai merubah cara berpakaiannya hanya untuk menemaniku memeriksakan kandunganku di rumah sakit. Dari yang biasanya selalu lengkap dengan jas formal sekarang hanya mengenakan celana jeans panjang dan jaket kulit. Tidak lupa juga dia mengenakan topi, serta masker dan kacamata untuk menutupi wajahnya.


Setelah selesai, kami pun segera meninggalkan rumah sakit. Kali ini suamiku yang menyetir mobilnya sendiri. Dia bahkan menggunakan mobil lain saking tidak maunya ada curiga kalau itu adalah dirinya.


"Eh, berhenti-berhenti," ucapku tiba-tiba.


"Ada apa Sayang?" tanyanya.


"Itu, ada penjual batagor langganan aku dulu waktu masih ngekost di daerah sini," jawabku, sambil menunjuk gerobak abang-abang yang ada di pinggir jalan.


"Batagor? Apa itu? Nama makanan?" tanyanya.


"Iya, tentu saja nama makanan. Kamu pikir apa lagi?" ucapku.


Dia terdiam sejenak, sambil memelankan laju mobilnya dan memperhatikan gerobak batagor milik abang itu baik-baik.


"Sayang, kamu yakin ingin memakan jajanan pinggir jalan seperti itu?" tanyanya.


"Iya, kenapa?" ucapku, balik bertanya.


"Tapi makanan seperti itu tidak higienis Sayang, tidak baik untuk janin yang ada di dalam kandungan kamu."


"Iya, tapi sekali-kali kan tidak apa-apa. Boleh, ya?" bujukku.


"Tidak boleh Sayang, makanannya tidak higienis, tidak sehat. Kalau kamu sakit perut bagaimana?" Ini pertama kalinya dia berkata tidak pada keinginanku.

__ADS_1


"Tapi aku mau ... anak kita juga mau. Boleh ya, ya?" Aku merengek padanya seperti anak kecil sambil memeluk lengan kekarnya.


Dia mendengus kasar lalu berkata, "Ya sudah, tapi hanya sekali ini saja, ya? Lain kali aku tidak akan mengijinkannya lagi."


Aku tersenyum senang sambil mengangguk setuju, setelah itu aku turun dari mobil untuk membeli salah satu jajanan favoritku tersebut.


Aku membeli cukup banyak, karena rasanya tidak sah jika hanya memakan sedikit, apalagi katanya dia tidak akan mengijinkanku untuk membeli jajanan seperti ini lagi.


"Kenapa belinya banyak sekali Sayang?" tanyanya saat aku sudah masuk kembali ke dalam mobil.


"Aku 'kan makannya banyak, apalagi sekarang aku makannya berdua sama anak kita. Hehe," jawabku beralasan, lalu cengengesan.


Memang dasar aku yang rakus, malah sekarang menjadikan anak sebagai alasan. Pantas saja semakin hari badanku semakin berisi, porsi makanku 2 kali lipat lebih banyak dari manusia dewasa normal.


Dia mendengus kasar, lalu kembali melajukan mobilnya menyusuri jalan pulang menuju villa. Sementara itu, aku mulai menikmati potong demi potong, suap demi suap batagor milikku sambil tersenyum senang.


"Mau?" tawarku padanya, tapi dia malah menggeleng.


"Ini enak sekali loh. Coba, buka mulutmu," kataku sembari menyodorkan sepotong batagor ke arah mulutnya.


Awalnya dia menolak, tapi setelah aku memaksa, dia akhirnya mau membuka mulutnya juga.


"Bagiamana? Enak, 'kan?" tanyaku.


Dia tidak menjawab, tapi terus mengunyah batagor yang ada di dalam mulutnya tanpa ekspresi.


Tapi tiba-tiba saja dengan gerakan cepat tangannya menjangkau 2 bungkus batagor yang belum terbuka yang tadinya aku letakkan di atas dash board tepat di hadapanku.


"Eh, eh, itu punyaku."


"Sayang, makanan ini tidak higienis, kamu tidak boleh makan terlalu banyak," ucapnya, sambil menyembunyikan batagor itu jauh dari jangkauanku.


Bilang saja kamu suka, tidak usah sok sok melarangku. Dasar.

__ADS_1


B e r s a m b u n g ...


__ADS_2