
Sekarang pria brengsyek itu sudah berdiri tepat di hadapanku. Dia menatapku dengan tatapan lapar. Sementara aku, hanya bisa berdiri mematung dan bersandar di dinding tembok, sambil memegang pengikat handuk kimonoku erat-erat. Tadinya aku sudah siap untuk memberikan apa yang dia minta, tapi entah mengapa saat dia berada di hadapanku, aku malah merasa takut dan deg-degan.
"Melihatmu yang seperti sekarang ini membuatku sangat senang. Aku merasa sangat senang karena kamu benar-benar sudah mempersiapkan diri untuk menyambut kedatanganku." Dia berkata seraya terus berjalan mendekatiku dan mulai membuka kancing kemejanya satu per satu.
Aku semakin gugup saat di hadapanku aku disuguhi pemandangan indah nan menggoda iman. Otot perutnya, dada bidangnya, lengan kekarnya, wajah tampannya, semua itu benar-benar idaman para wanita. Pria yang benar-benar sangat sempurna dari segi fisik, tapi tidak dengan kelakuannya.
Saat ini dia berjalan menghampiriku dalam keadaan tidak mema kai baju. Dia hanya mengenakan celana jeans berwarna hitam untuk menutupi tubuh bagian bawahnya.
"Cantik. Aku suka." Dia berkata seraya membelai pipiku dengan lembut. Kemudian menyelipkan rambutku di daun telingaku, membuat bulu kudukku seketika meremang.
Aku yang merasa sangat gugup sekaligus takut hanya bisa menunduk dan tidak berani menatapnya.
Tangan yang tadinya dia pakai untuk membelai wajah dan rambutku sekarang berpindah mengangkat daguku.
"Tatap aku," titahnya, tapi aku masih belum berani. Aku takut terlena saat melihat ketampanannya dari jarak yang sangat dekat.
"Aku bilang, tatap aku. Kenapa kamu sepertinya takut padaku? Aku tidak makan orang, justru nanti kamu yang akan menelanku mentah-mentah," ucapnya lalu tertawa.
Dasar laki-laki mesyum. Jika saja aku tidak membutuhkan uangmu, sudah pasti aku pecahkan telur burungmu itu, biar tidak bisa lagi menetas dimana-mana.
Saat aku memberanikan diri untuk menatapnya, iris mataku dan matanya saling bertemu. Sejenak kami saling menatap, lalu kemudian ku lihat dia mulai mendekatkan wajahnya hendak menci umku.
"Tunggu dulu." Aku menahan bibirnya menggunakan jari telunjukku.
"Ada apa?"
"Kita ... kita belum membicarakan mengenai-"
__ADS_1
"Berapa banyak uang yang kamu minta? Cepat sebutkan nominalnya sekarang." Dia berkata dengan tidak sabar. Sampai-sampai ucapanku tadi dia potong.
Aku terdiam dan mulai memikirkan berapa banyak uang yang akan aku minta. Sebenarnya tadi aku sudah mengambil keputusan, tapi setelah dia berada di hadapanku, aku takut nominal yang sudah aku putuskan tadi terlalu besar dan dia tidak mau membayarku sebanyak itu.
"Kenapa diam saja? Cepat sebutkan. Jangan membuat aku semakin lama menunggumu."
"Ba-baiklah, Tuan. Akan saya sebutkan. Saya ... saya mau ... saya mau meminta bayaran 100 M, Tuan," jawabku, lalu kembali menunduk. Aku benar-benar takut dia akan menolak.
"Cih, gadis bodoh. Hanya ingin meminta segitu saja dia sudah berani membuatku berpuasa selama 8 hari. Menyebalkan sekali," gumamnya, tapi aku masih bisa mendengarnya dengan jelas.
Aku kembali mengangkat wajahku, sedikit terkejut mendengar ucapannya itu. Aku tahu dia sangat kaya, tapi apa menurutnya 100 M itu tidak seberapa? Apa jangan-jangan, dia mengira kalau aku hanya meminta uang 100 juta saja padanya? Karena kata 'juta' dalam bahasa inggris itu artinya adalah 'million' dan biasanya disingkat dengan 'M'.
"Maksud saya bukan 100 juta Tuan, tapi 100 miliar," jelasku, takut dia ternyata salah paham.
"Aku tahu. Kamu pikir aku bodoh? Lagi pula, untuk apa juga kamu meminta uang 100 juta padaku. Itu bahkan tidak cukup untuk membayar semua hutang keluargamu."
"Tu-Tuan, dari mana Anda tahu kalau keluarga saya memiliki banyak hutang?" tanyaku penasaran. Tidak mungkin 'kan dia menyuruh orang untuk menyelidiki keluargaku? Apa dia kurang kerjaan?
Dia kembali tersenyum menyeringai. "Itu tidaklah penting. Yang penting sekarang, cepat kamu layani aku dengan baik, maka aku akan memberikan lebih dari yang kamu minta."
Dengan gerakan cepat dia meraih tengkukku kemudian mulai melu mat bi birku dengan rakus. Ini bukan ciu man kami yang pertama, melainkan adalah ciu man kami yang kedua. Ciu man pertamaku dia ambil dengan paksa saat kami bertemu di restoran beberapa hari yang lalu.
Setelah menci umku selama beberapa saat, dia mulai membopong tubuhku ala bridal menuju tempat tidur. Lalu dia mulai membaringkan tubuhku dengan sangat pelan di atas tempat tidur yang sangat empuk tersebut.
Saat tangannya ingin membuka pengikat handuk kimonoku, tiba-tiba aku mencegahnya.
"Tunggu dulu, Tuan."
__ADS_1
"Ada apa lagi?" Wajahnya seketika terlihat kesal.
"Apa ... Tuan bisa dipercaya?" tanyaku.
"Apa maksudmu? Kamu pikir aku penipu. Aku pasti akan memberikan bayaran seperti yang kamu minta. Jangan khawatir."
"Bukan itu, Tuan. Maksud saya ... apa Tuan akan benar-benar melepaskan saya dan membiarkan saya keluar dari sini setelah saya melayani Anda nanti?"
Itu adalah hal penting yang harus aku pastikan. Tapi setahuku, dia tidak pernah meniduri wanita yang sama lebih dari satu kali. Maka dari itu, aku memberinya julukan 'Iblis Cinta Satu Malam' waktu itu.
"Tentu saja. Bukannya aku sudah mengatakannya tadi pagi. Pokoknya kamu tenang saja. Aku ini orangnya bisa dipercaya, aku tidak suka ingkar janji," jawabnya.
Aku merasa cukup lega mendengarnya. Berarti setelah ini, aku bisa kembali ke kotaku untuk menemui ibu di rumah sakit.
"Kalau begitu, silahkan Tuan lanjutkan kembali," ucapku dengan pasrah. Aku akan membiarkan dia melakukan apa pun pada tubuhku ini.
Ku lihat senyuman kembali merekah di bibirnya. Dalam satu kali tarikan, dia berhasil membuka pengikat handuk kimono yang sedari tadi membungkus tubuhku, menampakkan pemandangan indah yang membuatnya semakin melebarkan senyumannya.
"Tub uhmu benar-benar indah, Baby."
B e r s a m b u n g ...
...______________________________________...
...Besok lagi ya😉😊...
...Semakin banyak dukungan,...
__ADS_1
...semakin semangat aku menulis.ðŸ¤...