
"Mau apa kamu Zidan? Jangan macam-macam padaku!" ucapku memperingatinya.
"Sst ...." Dia menempelkan jari telunjuknya pada bibirnya. "Jangan ribut, nanti ada yang curiga pada kita."
Zidan berjalan dengan langkah pelan ke arahku, sementara aku mulai melangkahkan kakiku mundur. Aku harus waspada, jangan sampai dia berani berbuat macam-macam padaku. Aku tidak mau pria brengsyek ini menyentuhku walau sedikit pun.
"Nia, apa kamu tidak merindukanku? Kita sudah sangat lama tidak bertemu. 3 Tahun bukanlah waktu yang sebentar," ucapnya, sambil merentangkan kedua tangannya. Mungkin dia ingin agar aku memeluknya. Huweek. Menjijikkan.
"Mumpung sekarang hanya ada kita berdua di sini, kamu boleh melepas rindu sepuasnya denganku," ucapnya lagi.
Cih, melepas rindu apa? Benar-benar menjijikkan.
"Nia, aku tahu, dari dulu kamu hanya mencintaiku seorang, tidak ada yang lain. Kamu bersama dengan tuan Kaaran pasti karena kamu hanya mengincar hartanya saja. Iya, 'kan?" ucapnya, sambil terus berjalan ke arahku.
__ADS_1
Cih, jangan samakan aku denganmu brengsyek. Aku bukan kamu yang hanya mendekati seseorang karena ada maunya.
"1 Tahun lalu kamu sempat menghubungiku, maaf, karena aku tidak sempat menjawabnya. Waktu itu aku sedang sibuk Nia. Tapi tenang, waktu itu aku berusaha menghubungimu balik kok, tapi sayangnya nomormu sudah tidak aktif lagi, dan sampai sekarang sudah tidak bisa lagi dihubungi. Karena aku mengkhawatirkanmu, aku lalu menyuruh seseorang untuk mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi padamu? Kenapa kamu tiba-tiba menghubungiku? Tidak biasanya. Dan ternyata, waktu itu kamu sedang membutuhkan banyak uang untuk melunasi hutang keluargamu yang telah bangkrut. Bla ... bla ... bla."
Dia terus mengoceh membuatku semakin muak saja padanya. Aku sama sekali tidak membutuhkan penjelasan apa pun darinya. Waktu itu aku menghubunginya pun karena terpaksa, sebelum akhirnya aku meminta bantuan pada kak Aditya. Jadi, dia tidak perlu terlalu percaya diri.
"Nia, ayolah. Kenapa kamu diam saja? Cepat peluk aku, Nia. Aku juga sangat merindukanmu," ucapnya lagi. Kini dia semakin merentangkan tangannya lebar-lebar.
"Nia, aku tahu kamu masih marah padaku. Yang kamu dengar waktu itu hanya salah paham, Nia, aku sam sekali tidak bermaksud seperti itu."
"Aku tidak peduli! Cepat minggir! Kalau tidak, aku akan menghajarmu!" tegasku.
"Hahaha. Nia ... Nia. Kamu sudah berani rupanya. Memangnya kamu bisa apa? Kamu mau menghajarku pakai apa? Pakai kepalan tinjumu yang lemah itu, atau ... pakai high heels? Seperti yang kebanyakan wanita lakukan untuk membela diri, hm?" ujarnya, kali ini dia sudah menurunkan kedua tangannya, tidak lagi dia rentangkan seperti tadi.
__ADS_1
Cih, jangan terlalu memandangku remeh brengsyek. Aku belajar ilmu bela diri dari ayahku semua berkat kamu, karena kamu yang sudah membuatku kecewa dan sakit hati.
"Baik, akhirnya malam ini kita diberi kesempatan untuk bertemu berdua saja. Ku akui, aku sangat bahagia bisa berduaan denganmu di tempat sepi seperti ini, tidak ada siapa-siapa selain hanya kita berdua. Sepertinya kamu harus mencicipi sesuatu dariku, Zidan," ucapku tersenyum menggoda, sambil melepas high heels yang aku kenakan lalu melemparnya ke sudut ruangan.
Aku bersandar di dinding toilet sambil sedikit menaikkan ujung rokku sehingga menampakkan pemandangan yang disukai para pria hidung belang.
Melihat pemandangan yang aku suguhkan, Zidan semakin tersenyum lebar.
"Nia, kamu sudah banyak berubah. Dulu kamu sangat polos, berpegangan tangan saja kamu tidak mau. Sekarang kamu benar-benar berubah, kamu sudah menjadi wanita dewasa yang seksye dan hot. Aku suka Nia, aku suka." Mata Zidan terlihat berbinar, dia terlihat semakin bersemangat. Cih. Dasar laki-laki mesyum.
"Kemarilah," ucapku, sambil menggerakkan jari telunjukku padanya, memberi kode agar dia segera mendekat.
B e r s a m b u n g ...
__ADS_1