
"Itu karena ulah Johan yang sudah sangat melewati batas."
Seketika suara bariton seorang pria mengejutkanku. Rupanya, di dalam ruangan ini bukan hanya ada aku saja. Melainkan ada beberapa orang, seperti dad Robin, Audrey, dokter Raymond, juga ibuku. Mungkin mereka semua khawatir karena aku kembali dari markas dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Mendengar jawaban dad Robin, aku tidak berani lagi bertanya banyak hal mengenai Johan. Mungkin lebih baik jika sekarang aku pergi melihat bagaimana keadaan anak-anakku, karena itu jauh lebih penting dari apa pun di dunia ini.
"Dad, anak-anak mana? Apa mereka baik-baik saja?" tanyaku.
Akhirnya, masalah kematian Johan sudah tersingkir dari pikiranku, sekarang pikiranku hanya akan terfokus pada kedua buah hatiku. Saat ini aku sangat khawatir dan sudah sangat merindukan mereka berdua.
"Anak-anak baik-baik saja Sayang, jangan khawatir. Sekarang mereka sedang tertidur dengan lelap di dalam kamar mereka," jawab suamiku.
"Syukurlah, aku sangat lega mendengarnya. Kalau begitu, aku ingin melihat keadaan mereka berdua, Dad. Aku sangat merindukan si kembar," ucapku.
__ADS_1
"Pergilah Sayang. Maaf, untuk saat ini aku belum bisa menemanimu. Ada sesuatu yang sangat penting yang ingin aku bicarakan bersama Dad Robin, Raymond, Roy, juga William."
"Tidak apa-apa, Dad," ucapku. Aku pun lalu berjalan keluar dari kamar menuju kamar si kembar ditemani oleh ibu dan Audrey.
Oh iya, istri dokter Raymond ini adalah tipikal wanita yang baik hati dan lemah lembut. Beruntung sekali dokter Raymond bisa mempersuntingnya. Meski pun kami baru kenal kemarin, akan tetapi aku merasa sudah sangat akrab dengannya. Bahkan aku merasa seperti mempunyai kakak perempuan.
.
Sesampainya di kamar anak-anak, aku langsung memeluk dan mencium anakku yang sedang terlelap secara bergantian. Mengingat kejadian tadi siang seketika membuatku kembali menangis. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika seandainya terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan pada kedua buah hati yang teramat aku cintai dan sayangi selama ini.
Mendengar kata 'calon besan' yang keluar dari mulut Audrey berhasil membuatku terkejut dan bingung sekaligus. Apa maksud Audrey dengan kata 'calon besan' yang dia ucapkan barusan? Siapa yang akan berbesan dengan siapa?' Pikirku kebingungan.
"Calon besan? Apa maksudmu Kak Audrey?" tanyaku penasaran.
__ADS_1
Oh iya, aku memanggil Audrey dengan sebutan 'Kak' karena dia memang jauh lebih tua dariku. Dia bahkan seumuran dengan suamiku dan dokter Raymond, suaminya sendiri.
"Iya, sekarang kita adalah calon besan, Rania. Kaaran sudah menjodohkan putri kalian dengan putraku." Audrey menjawab sambil tersenyum.
"Apa?! Jangan bercanda Kak Audrey. Ini tidak lucu. Zoe bahkan masih sangat kecil," ucapku.
Bagaimana mungkin bayi yang baru berusia 4 bulan lebih sudah dijodohkan oleh ayah kandungnya sendiri? Apa, dan kenapa suamiku melakukan hal konyol seperti itu? Benar-benar tidak masuk akal.
"Aku tidak bercanda, Rania. Kaaran sendiri yang mengatakan hal itu padaku dan suamiku secara langsung saat kamu masih belum sadarkan diri tadi sore. Katanya, dia ingin hubungan persahabatan kami semakin erat sampai kapan pun, juga karena suamiku sudah berusaha dengan keras hingga mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk menyelamatkan Zoe dari kawanan penjahat itu."
Mendengar penjelasan Audrey, aku tidak bisa lagi berkata-kata. Apa pun keinginan suamiku, sudah pasti tidak bisa mendapatkan sanggahan apalagi bantahan dari siapa pun.
Lalu siapa yang menyelamatkan Zack? Apakah putraku Zack juga sudah dijodohkan oleh daddy mereka sama seperti Zoe? Batinku.
__ADS_1
B e r s a m b u n g ...