
2 Minggu setelah kejadian waktu itu, keadaan suamiku akhirnya sudah jauh membaik. Sekarang tidak ada lagi perban yang yang menempel di kepala dan lengannya.
"Sayang," panggilnya.
"Ya, Dad."
"Kamu sudah siap Sayang?"
"Iya, aku sudah siap."
Saat ini aku baru saja selesai bersiap-siap karena katanya suamiku ingin mengajakku untuk keluar jalan-jalan. Dia ingin memberiku kejutan sebagai hadiah pernikahan kami, yang baru sempat dia tunjukkan padaku sekarang.
"Kalau begitu ayo kita berangkat sekarang Sayang."
Mumpung sekarang si kembar sedang tertidur, kami pun mengambil kesempatan untuk keluar berdua saja. Meski pun si kembar terbangun suamiku memang tidak berniat membawa mereka berdua. Entah ke mana suamiku ingin membawaku. Dia juga tidak mau memberitahukannya padaku.
.
.
Setelah beberapa saat Roy melajukan mobil yang kami tumpangi, mobil pun akhirnya terparkir rapi di ruang basemen Galaxy Hotel.
Setelah kami turun dari mobil, suamiku lalu menutup kedua mataku dengan kain.
"Kenapa kamu membawaku jalan-jalan ke hotel Dad? Pagi-pagi begini bukan saat yang tepat untuk kita berdua mesra-mesraan di dalam kamar hotel, nanti anak-anak bangun terus menangis karena mencari kita," ucapku. "Dan ini, ini kenapa mataku pakai ditutup segala?" tanyaku, sambil meraba kain yang menutupi mataku saat ini.
__ADS_1
Suamiku terkekeh. Entah apa yang lucu menurutnya. "Tidak usah banyak protes Sayang. Menurut sajalah. Nanti kamu akan tahu sendiri kita akan ke mana. Ayo."
Suamiku pun lalu menuntunku untuk berjalan.
Ting.
Dari suara itu aku bisa tahu dengan jelas bahwa saat ini suamiku sedang membawaku masuk ke dalam lift. Setelah pintu lift kembali tertutup, aku merasa lift mulai bergerak naik. Cukup lama hingga akhirnya lift mulai berhenti dan terbuka kembali.
Begitu keluar dari lift, aku mendengar suara bising yang entah berasal dari mana. Seperti bunyi sebuah helikopter. Apa jangan-jangan, sekarang kami sedang berada di rooftop hotel Galaxy? Tapi jika suara bising yang aku dengar itu benar-benar suara helikopter, suamiku ingin membawa aku ke mana? Aku jadi penasaran. Karena setiap aku bertanya padanya, dia pasti tidak mau menjawab. Katanya, bukan kejutan lagi kalau dia memberitahukan hal itu padaku.
Semakin kami melangkah ke depan, suara bising itu terdengar semakin keras, bahkan sekarang aku merasa rambut dan gaunku mulai berterbangan kemana-mana karena diterpa oleh angin yang cukup kencang. Pasti angin kencang ini dihasilkan oleh baling-baling helikopter.
"Hati-hati Sayang!" Suamiku berkata dengan sedikit berteriak, sambil menuntunku untuk naik. Karena jika dia tidak berteriak, aku pasti tidak bisa mendengar suaranya.
Begitu aku naik dan duduk di dalam helikopter tersebut, suamiku pun lalu memasangkan sesuatu di telingaku, begitu aku raba, bentuknya mirip seperti earphone. Mungkin memang earphone. Hanya saja aku tidak bisa melihatnya karena saat ini mataku masih tertutup.
Kurang lebih 15 menit setelah helikopter yang kami tumpangi mengudara. Aku mulai merasakan tangan suamiku bergerak membuka kain penutup yang sedari tadi menghalangi pandanganku.
Begitu aku membuka mata, aku akhirnya tersadar bahwa sekarang kami sedang berada di ketinggian di atas permukaan laut. Dari atas pemandangan di bawah sana terlihat sangat wow. Hamparan laut biru yang sangat luas dan indah, juga berbagai jenis burung yang terbang ke sana ke mari mencari mangsa. Aku benar-benar takjub melihat pemandangan ini.
"Sayang, lihat ke sana. Itu adalah hadiah pernikahan yang aku berikan untukmu." Suamiku berkata seraya menunjuk ke arah luar jendela helikopter. Sebuah pulau berbentuk hati yang berada di tengah-tengah laut. Dari atas terlihat seperti sebuah kota kecil, meski pun jumlah bangunannya belum seberapa.
Melihat hal itu, aku hanya bisa menutup mulutku dengan tangan. Tadinya aku pikir hadiah pernikahan kami adalah berkeliling naik helikopter untuk melihat pemandangan di bawah sana dari ketinggian. Rupanya lebih dari itu.
Aku benar-benar tidak pernah menyangka bahwa pria menyebalkan yang dulunya aku kenal kini berubah menjadi pria yang sangat lembut, penyayang, pemanja istri, dan sangat romantis. Aku benar-benar merasa diriku lah wanita yang paling beruntung di dunia karena bersuamikan seorang Kaaran Dirga.
__ADS_1
Saat ini aku tidak tahu harus berkata apa. Mataku sudah berkaca-kaca karena terharu sekaligus bahagia. Yang bisa aku lakukan sekarang hanyalah memeluk pria di sampingku dengan erat. Aku sama sekali tidak pernah menyangka bahwa suamiku akan menghadiahkan sebuah pulau sebagai hadiah pernikahan kami.
"Terima kasih, Dad! Terima kasih! Aku tidak tahu harus berkata apa selain mengucapkan kata terima kasih!"
"Tidak cukup jika kamu hanya mengucapkan terima kasih padaku sebagai balasan!" Dia berkata sambil tersenyum dan menatapku.
"Lalu apa yang harus aku lakukan, Dad?!" tanyaku.
"Kamu harus menebusnya dengan menghabiskan seluruh sisa hidupmu hanya bersamaku!"
Mendengar jawabannya, aku semakin memeluknya dengan erat. Tanpa dia minta pun aku akan tetap melakukannya dengan sukarela.
"Sayang, saat ini proses pemembangun infrastruktur di pulau itu sudah rampung 70 persen! 3 Bulan lagi pulau itu akan menjadi tempat tinggal baru kita bersama anak-anak beserta orang-orang terdekat kita! Di sana kita akan memulai kehidupan baru kita! Kehidupan yang tenteram dan damai!" ucapnya. "Kehidupan bebas yang selama ini kamu impi-impikan akan segera kamu dapatkan, Sayang!"
"Terima kasih, Dad! I love you so much!" (Aku sangat mencintaimu)
Untuk pertama kalinya aku mengucapkan kalimat yang menyatakan bahwa aku mencintai suamiku.
"I love you even more, Sayang!" (Aku lebih mencintaimu, Sayang)
Cup.
...The End~...
...______________________________________________...
__ADS_1
...Akhirnya novel ini tamat juga😇 Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang sudah mampir🙏 Berkat dukungan kalian semua, novel ini bisa masuk dalam daftar rangking novel populer dan rangking-rangking 200 besar novel yang lainnya🥰 ...
...Untuk pembaca sekalian, apa ada yang ingin menanyakan sesuatu? Jika ada, silahkan tulis di kolom komentar ya👇 Pertanyaan kalian akan aku jawab di bab sapa-sapa Author pada bab berikutnya. TQ😁...