One Night Love Devil

One Night Love Devil
Posesif Berlebihan


__ADS_3

Hari demi hari berlalu. Hingga tidak terasa sekarang sudah satu bulan lamanya suamiku sibuk dengan urusan kantornya, tapi hingga sekarang belum selesai-selesai juga. Entah masalah apa sebenarnya yang terjadi di perusahaan, dia juga tetap tidak mau cerita, katanya aku tidak mengerti apa-apa tentang bisnis. Dia jelaskan pun percuma.


Selama 1 bulan terakhir, setiap hari suamiku selalu pulang saat aku sudah tertidur di malam hari, dan hendak berangkat ke kantor saat aku baru saja terbangun di pagi hari, dan hari ini adalah puncaknya. Katanya, dia akan pergi ke luar negeri untuk waktu yang cukup lama dan dia sendiri belum bisa memastikan kapan dia akan kembali.


"Maksud kamu apa? Apa jangan-jangan, kamu sebenarnya sudah bosan sama aku, tapi kamu hanya mencari alasan seperti itu agar aku bisa percaya. Jangan-jangan selama ini kamu sering bermain dengan wanita la-" Tiba-tiba saja ucapanku langsung dipotong olehnya.


"Sayang, omong kosong macam apa itu? Mana mungkin aku bosan sama kamu. Aku cinta mati sama kamu, Rania. Percayalah, kamu satu-satunya perempuan yang akan mengisi hatiku sampai akhir hayatku," ucapnya.


"Kamu pikir aku akan percaya begitu saja? Asal kamu tahu, selama satu bulan ini aku sudah cukup bersabar menghadapi sikap kamu yang sudah tidak perhatian lagi sama aku. Sekarang, bukannya kamu kembali meluangkan waktu kamu buat aku, kamu malah mau meninggalkan aku dalam kurun waktu yang cukup lama."


"Aku mohon Sayang, percayalah. Aku berjanji, ini yang terakhir kalinya aku pergi jauh dari kamu. Setelahnya tidak akan lagi. Aku akan kembali meluangkan banyak waktuku untuk kamu," ucapnya lagi seraya menggenggam kedua tanganku.


Aku mendengus kasar seraya membuang pandanganku ke arah samping. Sejujurnya aku merasa sangat tidak rela membiarkan suamiku pergi jauh meninggalkan aku dalam kurun waktu yang dia sendiri tidak tahu entah sampai kapan. Apalagi dengan kondisiku yang sedang hamil besar seperti sekarang ini.


"Bagaimana kalau aku sudah mau melahirkan tapi kamu belum juga kembali? Apa kamu tega membiarkan aku berjuang seorang diri untuk melahirkan anak-anak kita?" tanyaku padanya. Tidak terasa bulir air mataku mulai menetes membasahi pipiku.

__ADS_1


"Sayang, jangan menagis. Aku mohon," pintanya sembari berusaha memelukku tapi aku langsung mendorongnya. Aku tidak mau dia menyentuhku. Aku benar-benar kesal dan marah padanya.


"Apa kamu tahu, bagaimana kesepiannya aku selama ini? Kamu melarangku untuk pergi ke mana pun. Kamu mengurungku di sini seperti seorang tawanan. Bahkan untuk keluar villa pun, kamu melarang. Apa kamu tahu bagaimana perasaanku selama ini? Aku sedih, aku kesepian, dan sebentar lagi mungkin aku akan stres." Aku menatapnya dengan air mata yang terus menerus mengalir di pipiku, dan akhirnya aku bisa mengeluarkan uneg-uneg yang selama ini aku pendam.


"Sayang, aku mohon maafkan aku. Aku tahu ini semua salahku. Aku melakukan semua ini bukan tanpa sebab, melainkan karena aku hanya ingin melindungi kamu dan anak kita," ucapnya seraya menggenggam tanganku dengan erat.


"Melindungi apa maksud kamu, hah?! Kamu sadar tidak?! Posesifmu itu terlalu berlebihan, lama-lama aku bisa gila kalau terus-terusan seperti ini! Huhuhu ...." Aku berkata dengan nada tinggi, dan seketika tangisanku langsung pecah.


Dengan gerakan cepat, suamiku langsung membawaku ke dalam pelukannya. Aku berusaha mendorongnya untuk yang kedua kalinya, tapi dia memelukku dengan sangat erat sehingga aku sulit melepaskan diri.


"Sayang, berhentilah menangis. Aku benar-benar minta maaf. Memang aku yang salah, aku sudah membuat kamu tertekan. Aku minta maaf karena selama ini aku terlalu sibuk sehingga perhatian yang aku berikan pada kamu sangat kurang. Aku sunguh- sungguh minta maaf soal itu." Dia berkata seraya mengelus punggungku dengan lembut, lalu sesekali mencium puncak kepalaku dengan penuh kasih sayang.


"Sayang, apa kamu tahu, agar kamu tidak kesepian lagi selama aku pergi, aku sudah menyuruh William untuk menjemput ibu dan Rina untuk menemani kamu di sini selama aku tidak ada," ucapnya lagi.


"Benarkah?" tanyaku seraya mendongak menatapnya.

__ADS_1


Seketika aku merasa sedikit lega. Setidaknya saat suamiku pergi dalam kurun waktu yang cukup lama, ada ibu dan adikku yang akan menemani dan menghiburku di sini. Aku memang sudah sangat merindukan mereka. Sudah sekitar 6 bulan lamanya kami tidak pernah bertemu. Selama ini kami hanya berkomunikasi lewat telepon saja.


"Iya Sayang. Mungkin sebentar lagi mereka akan sampai di sini. Tadinya kedatangan mereka ingin aku buat sebagai kejutan untuk kamu, tapi karena kamu marah, ya terpaksa aku harus membocorkan semuanya."


Aku akhirnya tersenyum, meski pun sebenarnya sedikit dipaksakan. Aku masih merasa sangat sedih karena suamiku akan pergi lama.


"Daddy ...." Aku memanggilnya dengan nada manja sambil balas memeluknya.


"Iya, Sayang."


"Kalau bisa ... kamu perginya jangan lama-lama. Kalau aku dan si kembar merindukan kamu bagaimana?"


Dia terdiam sejenak. Matanya terlihat berkaca-kaca. Dia lalu melepaskan pelukannya padaku lalu beralih mencium perutku cukup lama.


"Nak, jangan nakal, ya? Do'akan agar Daddy cepat kembali, dan bilang sama Mommy kalian, jangan pernah melanggar perintah Daddy, ya? Demi keselamatan kalian."

__ADS_1


B e r s a m b u n g ...


__ADS_2