One Night Love Devil

One Night Love Devil
Ikatan Batin Antara Ayah Dan Anak


__ADS_3

Tidak tahu sudah berapa jam lamanya aku tertidur. Apakah tubuhku sebegitu lelahnya sehingga rasanya sangat sulit untuk digerakkan. Begitu pikirku dalam hati.


Eh, tunggu dulu. Dalam keadaan setengah sadar, hidungku mulai mengendus sesuatu. Aroma ini ... indra penciumanku tidak mungkin salah. Tidak mungkin 'kan guling memiliki aroma yang sama dengan parfum suamiku. Apa jangan-jangan ....


Dengan cepat aku langsung membuka mataku lebar-lebar, rasa kantukku menjadi hilang seketika. Dan benar saja, saat ini dia tertidur sambil memelukku dengan erat. Seperti kebiasaan kami dulu, dia selalu tertidur sambil memelukku dan membenamkan wajahku pada dada bidangnya. Entah bagaimana caranya dia bisa masuk ke dalam sini, bukankah tadi aku sudah mengunci pintu kamar dari dalam.


Aku memutar kepalaku melihat ke arah langit-langit kamar, dan memang benar, saat ini kami masih berada di dalam kamar anak-anak. Yang masih membuat aku heran, bagaimana caranya dia bisa masuk ke dalam sini. Apakah mungkin dia meminta bantuan suster untuk membukakan pintu untuknya. Atau ... dia meminta kunci cadangan pada bi Nining.


Ah, sudahlah. Saat ini itu tidak begitu penting untuk dipikirkan, sekarang aku harus lepas dulu dari pelukannya.


"Lepaskan aku." Dengan cepat aku langsung mendorongnya agar dia bisa segera melepaskan pelukannya dariku. Aku tidak terima dia memelukku tanpa seijin dariku terlebih dahulu. Aku masih sangat marah padanya dan belum memaafkan semua kesalahannya.


"Ada apa sih, Sayang?" tanyanya dengan suara berat khas bangun tidur.


"Jangan sentuh aku. Lepaskan," ucapku sambil masih berusaha mendorong dadanya.


Bukannya melepaskan pelukannya, dia malah semakin memelukku dengan erat.


"Tidur lagi lah Sayang. Kenapa kamu bangun sepagi ini? Kamu 'kan baru tidur sekitar 1 setengah jam yang lalu," ucapnya sambil masih memejamkan matanya.


"Aku tidak peduli. Lepaskan aku."


"Tidurlah Sayang. Jangan ribut. Nanti anak-anak bisa terbangun," katanya, tanpa melonggarkan pelukannya sedikit pun.

__ADS_1


Apa pedulimu? Kemana kamu saat mereka dilahirkan. Batinku.


Karena kesal, aku langsung menggigit dadanya hingga dia berteriak kesakitan, "Aargh! Sayang, apa yang kamu lakukan?"


Setelah merasa pelukannya mulai melonggar, aku langsung mendorongnya dengan keras hingga dia terjatuh dari tempat tidur. Tempat tidur yang kami tempati saat ini merupakan tipe single bed, tidak muat jika dipakai oleh 2 orang, jadi aku bisa dengan mudah menjatuhkannya.


Bruk.


"Auwh ... auwh ...."


"Rasakan itu." Aku segera bangkit dari posisiku. Aku menyapukan pandanganku ke sekeliling ruangan. Suster Lili dan suster Ria sudah tidak ada di sini. Sedangkan si kembar masih tertidur dengan pulas di dalam box bayi mereka masing-masing.


Pasti dia yang sudah mengusir kedua perawat itu agar dia bisa bermesraan denganku. Jangan mimpi. Tidak semudah itu aku akan luluh padamu.


Aku melipat kedua tanganku di depan dada sambil tersenyum sinis. "Cih, jadi selama ini kamu masih menganggap dirimu sebagai suamiku? Suami yang bagaimana maksudmu, hah? Suami yang tidak bertanggung jawab? Begitu?"


"Sayang, jangan berkata seperti itu. Aku tahu, aku salah. Aku juga tahu kalau kamu masih marah padaku. Aku minta maaf Sayang, aku benar-benar minta maaf." Dia berkata sambil berjalan ke arahku lalu berusaha memelukku.


"Jangan pernah berani-berani menyentuhku! Aku benci padamu!" ucapku sambil menatapnya dengan tajam.


"Oe ... oe ...!" Seketika tangisan keras si kembar terdengar. Mungkin mereka terkejut mendengar suara bentakanku pada daddy mereka.


Tadi karena tersulut emosi, aku jadi tidak bisa berbicara pelan-pelan. Aku lupa, nada bicaraku yang tinggi seperti itu bisa membuat bayi-bayiku terbangun karena terkejut.

__ADS_1


Dengan cepat aku langsung berlari ke arah Zoe, tapi sayangnya aku didului oleh daddy mereka. Karena Zack juga menangis, aku pun memutuskan untuk menenangkan putraku.


Aku ingin melihat, sekuat apa ikatan batin pria ini dengan putrinya. Apakah dia bisa menenangkan Zoe? Jika dia berhasil, itu artinya, ikatan batin antara mereka memang cukup kuat meski pun baru bertemu beberapa jam yang lalu, karena biasanya Zoe itu yang paling rewel, dia tidak mau tenang jika bukan aku yang menggendongnya, sangat berbeda dengan Zack yang lebih penyabar.


Dan benar saja, Zoe langsung terdiam di dalam gendong daddy-nya. Justru kini malah Zack yang tidak bisa tenang. Entah apa yang terjadi dengan putra kecilku, tidak biasanya dia seperti ini.


"Cup cup cup ... jangan menangis Sayang. Mommy minta maaf karena sudah mengganggu tidur kalian," ucapku seraya berusaha menenangkan putraku di dalam gendonganku.


"Cup cup cup. Kamu lapar, ya? Mommy panggilkan suster ya Nak, untuk membuatkan kalian susu."


Beberapa menit kemudian. Suster Lili sudah selesai membuatkan susu untuk si kembar. Tapi sayangnya, Zack masih saja menagis meski pun sudah diberi susu, berbanding terbalik dengan Zoe yang saat ini sedang anteng berada di dalam gendongan daddy nya.


"Kenapa Zack tidak mau berhenti menangis? Apa dia memang sering rewel seperti itu?" Daddy-nya anak-anak bertanya padaku.


"Aku juga tidak tahu. Baru kali ini Zack seperti ini, karena biasanya yang rewel hanya Zoe," jawabku.


Demi anak-anak, sejenak aku menepis egoku untuk marah pada daddy mereka. Nanti setelah mereka kembali tertidur, marahku pada suamiku baru akan kembali ku lanjutkan.


"Kalau begitu, coba berikan padaku," ucapnya. Dia meletakkan Zoe yang semula berada di dalam gendongnya di atas tempat tidur.


Ajaibnya, Zack langsung terdiam saat diambil alih oleh daddy-nya. Apa jangan-jangan, anak-anak merindukan daddy mereka?


B e r s a m b u n g ...

__ADS_1


__ADS_2