One Night Love Devil

One Night Love Devil
Kelemahan Kaaran Dirga


__ADS_3

"Ak-aku?" tanyaku sambil menunjuk diriku sendiri.


Aku lalu melihat ke arah ketiga pria yang saat ini sedang berdiri di belakangku. Aku malu berganti pakaian di sini karena ada mereka.


Hanya dalam satu kali kode dari suamiku, ketiga pria itu lalu beranjak keluar dari ruangan ini dan meninggalkan aku berdua saja bersama suamiku.


"Sayang, pakai ini. Ini namanya baju anti peluru," ucapnya sembari memberikan sebuah baju berwarna hitam padaku.


Dengan tangan gemetar, aku mulai menerima baju tersebut. Sepertinya keputusanku untuk ikut mencari kedua anakku akan memberikan pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan seumur hidupku.


"Berat Dad," ucapku.


"Memang berat Sayang, tapi ini untuk menjamin keselamatan kamu. Pakailah," ucapnya.


Aku pun lalu menuruti apa kata suamiku, mulai mengganti gaun pengantinku dengan baju anti peluru yang dia berikan.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian. Aku sudah lengkap dengan pakaian yang sama seperti yang dikenakan oleh keempat pria itu.


"Sayang, ambil ini. Ini untuk berjaga-jaga." Suamiku berkata sembari memberikan satu buah pis*ol dan satu buah cel**it untukku, beserta beberapa butir peluru yang dia masukkan ke dalam saku rompiku.


Aku benar-benar terkejut saat melihat dia memberikan kedua benda itu padaku, juga aku tidak menyangka sama sekali.


"Sayang, aku memberikan kedua benda ini bukan agar kamu juga ikut turun dari mobil bersama kami. Tidak sama sekali. Aku hanya ingin kamu menggunakan kedua benda ini untuk membela diri disaat kamu dalam keadaan genting. Mengerti?" Suamiku berkata sambil menangkup kedua pipiku.


Aku mengangguk. "Ya, aku mengerti, Dad."


Suamiku lalu mencium keningku dalam-dalam lalu memelukku dengan erat.


"Sayang, jangan pernah berani melanggar ucapanku, kecuali dalam keadaan yang tidak memungkinkan. Aku tahu kamu bukan wanita yang lemah, tapi membawamu ikut ke sana sudah cukup membuat ketakutanku semakin bertambah. Aku tidak ingin terjadi apa-apa padamu, Sayang. Aku tidak ingin mereka akan menyakitimu juga."


"Maafkan aku yang begitu keras kepala Dad, aku berjanji tidak akan menambah bebanmu. Aku akan menurut apa pun yang kamu katakan, asalkan kamu membawaku ikut untuk mencari anak-anak. Karena aku tidak bisa tunggal diam saja, memikirkan anak-anak yang saat ini sedang dalam bahaya rasanya ingin membuat aku gila," ucapku sambil balas memeluk suamiku dengan erat. Seketika air mataku kembali meleleh.

__ADS_1


"Aku pun begitu Sayang. Kamu tahu, kalian bertiga adalah kelemahanku. Makanya musuh-musuhku ingin menggunakan kalian bertiga untuk menghancurkanku."


.


.


Begitu aku benar-benar sudah siap, ketiga pria itu pun lalu kembali masuk ke dalam ruangan rahasia ini. Mereka semua melakukan persiapan dengan sangat matang dan dalam waktu singkat. Bahkan mereka mengenakan sebuah helm untuk melindungi kepala mereka masing-masing.


"Apa kalian semua sudah siap?" Suamiku bertanya pada mereka bertiga.


"Siap!" Ketiga pria itu menjawab serempak dan dengan suara yang lantang.


"Bagus. Kalau begitu, ayo kita berangkat sekarang," ucap suamiku. "Ray, kamu pergi bersama William, sedangkan aku, biarkan aku bersama Roy dan istriku," katanya lagi dan dijawab anggukan oleh dokter Raymond dan William.


Sebelum keluar dari ruangan itu, suamiku lalu memberikan sebuah jam tangan canggih yang bisa digunakan untuk saling berkomunikasi dan melacak posisi masing-masing anggota. Tidak terkecuali aku.

__ADS_1


B e r s a m b u n g ...


__ADS_2