
Kini kapal nelayan yang Zoe tumpangi sudah terombang ambang di tengah lautan. Saat ini gadis cantik itu sedang dalam perjalanan untuk pergi meninggalkan pulau. Setelah merasa batinnya lelah karena terus dipaksa dan dikekang oleh mommy dan daddy-nya untuk menikah, Zoe akhirnya memutuskan untuk minggat dari rumah.
Seumur-umur, baru kali ini gadis cantik itu pergi keluar pulau menggunakan kapal nelayan dan tanpa dikawal oleh para bodyguard-nya biar satu orang pun. Itu karena dia mengancam akan melompat ke laut jika ada pengawal yang berani mencegahnya pergi atau pun mengikutinya. Karena para pengawal itu tidak ingin nona mudanya celaka, mereka pun akhirnya menurut dan lebih memilih untuk pulang melapor pada Kaaran.
"Apa?! Zoe kabur dari rumah, dan sekarang sudah pergi meninggalkan pulau?!" Suara Kaaran menggema memenuhi seisi ruang baca, membuat nyali para pengawal Zoe yang datang melapor padanya lansung menciut. "Kalian ini bagaimana?! Kenapa kerja kalian tidak becus! Mengatasi 1 gadis saja tidak bisa!"
Kaaran merasa sangat kesal dan emosi. Resepsi pernikahan Zoe dengan Aarav sisa 7 hari lagi, dan besok lusa, pihak keluarga mempelai pria beserta mempelai prianya itu sendiri akan segera tiba di pulau. Apa yang akan Kaaran katakan pada sahabatnya, dokter Raymond, jika putrinya tidak ada.
"Anak itu benar-benar keras kepala. Apa dia ingin membuatku malu?" kesal Kaaran. Pria yang tetap terlihat tampan, gagah, dan awet muda di usianya yang sudah hampir menginjak pertengahan usia 50-an itu lalu merogoh ponsel yang ada di dalam saku celananya. Dia ingin menghubungi seseorang.
.
__ADS_1
.
Sementara itu, Zoe duduk temenung sambil bersandar di atas kapal. Gadis itu baru saja berhenti menangis karena meratapi nasibnya yang menurutnya sangat menyedihkan. Bagaimana mungkin daddy-nya begitu tega mengatur perjodohan dan pernikahan untuknya seenaknya.
Kurang lebih 1 jam kemudian. Zoe akhirnya sampai di pelabuhan. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, tapi dia tidak menemukan sosok yang dia cari. Setengah jam lalu sebelum Zoe sampai, dia sempat menghubungi adik kembarnya, Zack, untuk menjemputnya.
Sekarang ini Zack sudah menetap di kota. Beberapa bulan lalu saat usianya tepat menginjak 22 tahun, dia resmi diangkat menjadi CEO yang baru menggantikan posisi Roy, sang calon mertua.
Zoe berjalan mondar-mandir ke sana kemari. Dia merasa sangat kesal karena adiknya terlambat untuk datang menjemputnya.
.
__ADS_1
.
Beberapa jam kemudian
Zoe mengerjap-ngerjapkan matanya menatap langit-langit kamar yang begitu akrab di matanya. Ya, sekarang dia sudah berada di dalam kamarnya sendiri.
Zoe berusaha untuk bangun dan duduk dari posisi berbaringnya. "Aduh, kenapa kepalaku tiba-tiba pusing?" Zoe langsung memegangi kepalanya. "Sepertinya tadi aku bermimpi kabur dari rumah setelah bertengkar dengan mommy?" gumamnya.
Ceklek. Pintu kamarnya terbuka dari luar, nampak seorang pelayan muncul dari balik pintu.
"Nona, Tuan besar dan nyonya besar sudah menunggu Anda untuk bergabung di meja makan," kata pelayan wanita tersebut.
__ADS_1
"Eh, rupanya sudah malam, ya? Aku pikir sekarang masih siang," gumam Zoe. Setelah tidak sadarkan diri selama beberapa jam, bangun-bangun dia sudah seperti orang linglung. "Baik, Bi. Katakan pada mereka untuk menungguku sebentar."
"Baik, Nona," jawab pelayan itu sebelum akhirnya meninggalkan kamar Zoe.