
Semenjak saat itu, aku tidak mau lagi berbicara dengan suamiku. Aku sudah memblokir nomornya sehingga dia tidak bisa lagi menghubungiku.
Sepanjang siang dan malam aku terus mengurung diri di dalam kamar. Tidak mau makan, tidak mau minum, dan tidak mau bertemu siapa pun. Yang aku lakukan hanya menangis hingga aku benar-benar stres memikirkan betapa teganya suamiku membiarkan aku menghadapi semua ini seorang diri tanpa kehadirannya.
Sepenting apakah bisnisnya itu sehingga menemaniku untuk bersalin saja dia tidak sempat? Apakah baginya bisnisnya itu jauh lebih berharga daripada aku dan anak-anaknya? Apakah menurutnya mengandung dan melahirkan dua anak sekaligus itu perkara muda? Omong kosong. Mengandung satu anak saja banyak wanita yang mengeluh ini dan itu, apalagi jika seperti aku, dua sekaligus. Apakah dia tidak pernah memikirkan hal itu sedikit pun?
Disaat seperti ini aku sangat membutuhkan dirinya, bukan lagi uangnya yang melimpah ruah yang tiada habisnya itu. Bukan juga para pria berbadan kekar yang berlalu lalang siang dan malam yang dia tugaskan untuk berjaga di bawah sana. Untuk apa semua itu, benar-benar tidak ada gunanya untukku.
Meski pun ada ibu, Rina, dan juga bi Nining, akan tetapi keberadaan suamiku tidak bisa disamakan dengan kehadiran mereka bertiga. Tetap saja aku lebih membutuhkan sosoknya lebih daripada yang lain, meski pun sebenarnya yang lain juga penting. Tapi tetap saja aku lebih membutuhkan suamiku yang menemaniku di saat-saat seperti ini. Wanita mana sih yang tidak sedih jika berada di posisi yang sama sepertiku.
Kemana kah tanggung jawabnya sebagai seorang suami? Kemana kah tanggung jawabnya sebagai seorang ayah dari sepasang benih anak kembar yang dia tanamankan di dalam rahimku? Apakah dia sebegitu pengecutnya sehingga dia ingin lepas dari tanggung jawabnya begitu saja?
Oke. Tidak apa-apa jika dia tidak memikirkan aku dan bagaimana perasaanku. Mungkin memang benar dia sudah bosan padaku. Apalagi sekarang penampilanku tidak semenarik dulu lagi. Tapi, apakah dia tidak memikirkan kedua calon anaknya? Bagaimana kalau nanti sampai terjadi apa-apa karena dia sudah membuat aku stres seperti sekarang ini? Ayah macam apa sebenarnya dia?
Ting. Saat aku masih saja menangis hingga mataku sangat bengkak dan terasa sipit, pintu lift tiba-tiba saja terbuka. Ternyata ibu, Rina, dan juga bi Nining yang datang. Mungkin mereka sangat khawatir padaku. Mereka bahkan masuk ke dalam kamar ini tanpa seijinku. Padahal, kemarin siang aku sudah melarang mereka untuk masuk ke dalam sini.
"Astaga Nia ...."
"Kak Nia!"
"Ya ampun, Nona Rania."
Ketiga-tiganya langsung berlari menghampiriku. Tidak tahu sekacau apa penampilanku saat ini. Kenapa ekspresi mereka bertiga seperti itu saat melihatku?
__ADS_1
Begitu mereka mendekat, ibu dan Rina langsung memelukku sambil menangis. Aku tidak tahu kenapa mereka berdua menangis? Apakah aku terlihat begitu menyedihkan sekarang? Jujur, aku sama sekali tidak pernah bercermin dan melihat penampilanku semenjak kemarin siang.
"Nak ... kenapa kamu menyiksa dirimu seperti ini? Apa kamu tidak memikirkan bayi yang ada di dalam kandunganmu sekarang, hm?" Ibu berkata disela-sela tangisannya, membuat tangisanku seketika kembali pecah.
Ibu dan Rina semakin memelukku dengan erat saat aku menangis dengan keras. Cukup lama mereka membujukku hingga akhirnya aku pun mulai merasa lebih tenang. Tapi tiba-tiba saja aku merasa ada yang aneh, perutku tiba-tiba saja terasa sakit.
"Auwh."
"Ada apa Nak?"
"Ada apa Kak Nia?"
"Ada apa, Nona?"
"Perutku, perutku rasanya sangat sakit," ucapku seraya mengelus perutku yang ukurannya sudah sangat membesar. Aku ingin berdiri tapi rasanya sangat susah sekali karena perutku rasanya sangat berat. Ditambah lagi badanku terasa sangat lemas dan kepalaku rasanya sangat pusing. Pasti ini gara-gara sejak kemarin aku tidak mau makan, tidak mau minum, dan terus-terusan saja menangis.
"Apa, perut kamu sakit? Jangan-jangan kamu mau melahirkan, Nak?" ucap ibu semakin panik.
"Iya Bu, sepertinya Kak Nia memang mau melahirkan," tambah Rina.
"Astaga, Nona Rania. Tunggu sebentar saya hubungi dokter Santi dulu," ucap bi Nining tidak kalah paniknya.
Dokter Santi adalah, dokter spesialis kandungan yang dipercayakan oleh suamiku untuk menanganiku hingga aku melahirkan.
__ADS_1
"Halo Dok, cepat datang kemari, Nona Rania sepertinya mau melahirkan," ucap bi Nining.
Ditengah kepanikan orang-orang, aku merasa perasaanku semakin tidak enak. Aku merasa semakin lemas, perutku juga rasanya semakin sakit. Rasanya aku tidak sanggup lagi menahannya.
Jangan-jangan, terjadi apa-apa pada bayiku?
Perasaan khawatir mulai merasuk ke dalam hatiku. Sekarang aku baru menyesali tindakan bodohku yang terlalu egois dan tidak memikirkan nasib kedua bayi yang ada di dalam kandunganku.
Maafkan Mommy, nak. Maafkan Mommy. Mommy sangat egois. Mommy hanya memikirkan diri Mommy sendiri dan tidak memikirkan keadaan kalian berdua. Batinku.
Perlahan-lahan pandanganku mulai kabur. Teriakan orang-orang yang memanggil namaku pun tidak mampu lagi aku jawab. Tenagaku sekarang sudah teramat sangat lemah. Sepertinya sebentar lagi aku akan pingsan.
Sayang, sekali lagi Mommy minta maaf pada kalian berdua. Mommy tidak akan memaafkan diri Mommy sendiri kalau sampai terjadi apa-apa pada kalian berdua. Kalian berdua harus kuat, ya. Jangan seperti Mommy. Mommy lemah, Mommy cengeng.
Setelah mengucapkan kalimat-kalimat itu dalam hati, perlahan-lahan penglihatanku yang tadinya kabur kini berganti menjadi gelap. Semenjak saat itu, aku tidak ingat apa-apa lagi.
B e r s a m b u n g ...
...____________________________________________...
...Hai Guys!!! Tengokin juga yah sekuel dari novel ini, judulnya 'Raniaku, Canduku'. Novel yang satu ini bercerita tentang sudut pandang Kaaran. Yang penasaran, kuy mampir. Dijamin gak kalah seru loh😁...
__ADS_1
...Jangan lupa dukungannya ya, like dan komentar😉😁...