
"Sayang, tolong berikan aku kesempatan untuk berbicara. Tolong dengarkan penjelasanku dulu," ucapnya sambil bersimpuh di hadapanku dan menggenggam kedua tanganku dengan erat.
"Sayang, sejujurnya aku merasa sangat tersiksa dengan hubungan kita yang terus-terusan seperti ini. Sudah berbulan-bulan lamanya tapi belum kunjung membaik juga," ucapnya lagi.
Sementara itu aku hanya memilih diam dan tidak menggubris ucapannya. Tadinya aku pikir dia ingin macam-macam padaku karena dia mengunci pintu setelah masuk ke dalam kamar. Ternyata tidak, mungkin dia hanya takut aku akan kembali menghindar setelah dia berhasil masuk ke dalam kamarku.
Sebenarnya bukan hanya dia yang tersiksa, aku pun sama. Hanya saja aku masih lebih kuat menahannya ketimbang dia.
"Sayang, aku tahu selama ini aku punya banyak salah padamu. Selama ini aku terlalu mengekang kebebasanmu dan terus-terusan mengurungmu di sini semenjak kita menikah. Tapi aku berani jamin, jika kamu mau memaafkan aku dan mau memperbaiki hubungan kita agar kembali membaik seperti semula, aku berjanji, aku tidak akan melarangmu lagi jika kamu ingin pergi ke suatu tempat," ucapnya, dan seketika aku menunduk menatapnya.
Memang itulah yang aku inginkan sejak lama. Kebebasan. Tapi ... apakah dia serius mengatakan hal itu? Bukankah dulu dia selalu melarangku dengan keras agar aku tidak sampai keluar dari villa.
Beberapa waktu lalu saat aku masih mengandung kedua anaknya, dia akan menuruti apa pun keinginanku, apa pun itu, selama aku tidak meminta untuk keluar dari villa ini meski pun hanya sekedar untuk keluar jalan-jalan.
Aku tidak tahu apa penyebab pastinya, kenapa dia dulunya begitu over protektif terhadapku. Tapi katanya, dia hanya ingin melindungiku bersama calon anaknya yang saat itu masih berada di dalam perutku waktu itu. Apa mungkin karena sekarang aku sudah tidak hamil lagi makanya dia mau memberiku sedikit kebebasan dan tidak terlalu mengekangku seperti dulu.
"Apa aku bisa mempercayai kata-katamu itu?" tanyaku ingin memastikan.
Meski pun aku merasa sangat senang mendengar pernyataannya, akan tetapi aku tidak boleh percaya begitu saja sebelum aku melihat bukti. Bisa saja 'kan dia hanya ingin menipuku agar aku mau memaafkan semua kesalahannya yang telah lalu.
"Iya Sayang, aku berjanji. Kalau kamu tidak percaya, aku akan membuktikannya padamu. Nanti setelah anak-anak bangun, ayo kita keluar jalan-jalan bersama-sama."
*
2 Jam kemudian.
__ADS_1
Setelah Zoe dan Zack bangun, suamiku benar-benar membawaku bersama anak-anak untuk jalan-jalan. Hal itu membuat aku benar-benar merasa sangat senang. Setelah sekian lama, aku akhirnya bisa keluar dari sangkar emasku. Meski pun hanya sekedar untuk menghirup udara bebas.
Tujuan kami pagi ini adalah danau hijau buatan yang letaknya 20 menit perjalanan dari villa. Tidak lupa juga kami membawa suster Lili dan suster Ria untuk ikut serta. Itu agar ada yang membantu kami menjaga si kembar saat kami sedang menikmati momen langka ini. Kenapa aku mengatakan langka karena seingatku ini adalah pertama kalinya suamiku membawaku jalan-jalan semenjak kami menikah.
Setelah turun dari mobil, aku heran melihat penampilan suamiku, biasanya saat dia menemaniku untuk kontrol kandungan di rumah sakit, dia selalu melakukan penyamaran agar tidak ada yang tahu kalau itu adalah dia. Tapi entah mengapa hari ini dia tidak mengenakan topi atau pun masker untuk menutupi wajahnya.
"Daddy, kenapa kamu tidak memakai topi dan masker seperti biasa?" tanyaku padanya. Dia tidak berkata sepatah kata pun, dia hanya menanggapi ucapanku dengan senyuman.
"Sayang, ayo kita jalan-jalan ke sana," ajaknya sembari tersenyum dan menggenggam tanganku dengan erat. Kami seperti sepasang kekasih yang sedang berkencan.
Sementara itu, Zoe dan Zack digendong oleh babysitter mereka masing-masing. Suster Lili dan suster Ria pun mengikuti langkah kami dari belakang.
Sepanjang berjalan kaki mengelilingi danau, aku terus melebarkan senyumanku. Ternyata aku bisa sebahagia ini hanya dengan dibawa keluar jalan-jalan. Mungkin karena terlalu lama dikurung di dalam villa, hampir setengah tahun. Seandainya aku bisa bebas ke mana saja setiap hari, pasti akan lebih menyenangkan. Tapi aku tidak begitu yakin suamiku akan mengijinkan.
"Kamu suka?" tanyanya tiba-tiba, sambil sedikit menunduk dan tersenyum menatapku.
"Senang?" tanyanya lagi.
"Tentu saja. Siapa yang tidak senang diajak jalan-jalan seperti ini. Jangankan aku, Si Kembar saja sepertinya suka. Akhirnya mereka bisa keluar melihat tempat baru. Tidak melulu di dalam villa," jawabku.
Aku menoleh melihat kedua babysitter yang membawa si kembar. Mereka sekarang sedang mengambil tempat duduk di salah satu bangku panjang yang di berada di bawah naungan pohon rindang.
"Jadi ... apa sekarang kamu sudah tidak marah lagi padaku?" tanyanya lagi.
Aku tidak langsung menjawab.
__ADS_1
"Hm ... nanti aku pikirkan lagi," jawabku setelah terdiam sejenak.
"Hais, kenapa jawabannya seperti itu? Tinggal jawab iya saja apa susahnya sih?" ucapnya dengan bibir mencebik. Aku tidak bisa tidak tertawa melihat ekspresinya yang seperti itu.
"Kamu terlalu ketuaan memasang wajah mencebik seperti itu. Tidak cocok," ledekku sambil masih tertawa.
"Apa? Kamu barusan bilang apa? Aku ketuaan? Kamu bilang aku tua, hah? Berani sekali," tanyanya sambil ikut terkekeh.
Dalam sekejap kedua tangannya sudah melingkar memeluk pinggangku dengan erat. Sekarang jarak antar wajah kami semakin menipis. Pandangan kami saling bertemu, memancarkan kerinduan yang mendalam di dalam sorot mata kami masing-masing.
Cup. Tiba-tiba saja tanpa aba-aba dia langsung mema**** bi*birku.
Aku menepuk-nepuk dadanya dengan pelan, malu jika dilihat oleh orang-orang, apalagi ini di tempat umum. Tidak jauh dari tempat kami berdiri juga ada suster Lili, suster Ria, juga asisten Roy. Mereka pasti menyaksikan tindakan tidak senonoh tuan mereka.
Setelah aku kehabisan napas, barulah dia melepaskan pang****. Serangannya yang tiba-tiba membuatku tidak bisa mengimbangi permainannya.
"Kita pulang, kita lanjutkan lagi di dalam kamar." Dia berkata sambil tersenyum dan mengelap bi8irku yang basah akibat ulahnya.
Memang dasar mesyum. Begitu dapat maaf sudah langsung minta jatah.
B e r s a m b u n g ...
...______________________________________________...
...Buat yang nanya kenapa 'Raniaku, Canduku' belum up? In syaa Allah nanti siang ya. Pantengin aja😉...
__ADS_1
...Jangan lupa dukungannya ya😉 dan jangan lupa juga buat yang belum follow authornya, bisa follow sekarang. (Bagi yang mau🤣)...