
10 Menit.
20 Menit.
30 Menit.
Hingga tidak terasa sudah satu jam lamanya aku menunggu mereka di dalam mobil sendirian.
...(Cerita lengkap selama 1 jam itu Babang Kaaran and The Genk ngapain aja hanya akan dibahas di novel 'Raniaku Canduku' ya. Jadi yang penasaran dengan cerita versi lengkapnya wajib banget OTW ke sana😁)...
__ADS_1
Aku mulai gelisah dan khawatir menunggu mereka keluar dari dalam sana. Pikiranku mulai menerka-nerka banyak hal. Jangan-jangan terjadi sesuatu pada mereka. Bagaimana jika suamiku tidak bisa melawan kawanan Black Mamba? Mereka hanya berempat, sedangkan mungkin kawanan Black Mamba ada puluhan orang atau mungkin bahkan ada ratusan.
Bagaimana kalau suamiku bersama ketiga temannya kalah sebelum berhasil menyelamatkan anak-anak? Membayangkan anak-anak sekarang sedang menangis mencariku bersama daddy mereka membuat hatiku teriris-iris. Apalagi saat membayangkan kedua anakku menangis karena kelaparan. Sudah hampir 3 jam semenjak insiden penculikan itu terjadi. Pasti penjahat yang tidak punya hati itu tidak peduli kedua anakku lapar atau tidak.
Membayangkan kedua anakku menangis karena kelaparan serta mencari mommy dan daddy mereka rasanya aku ingin masuk dan memberontak di dalam sana. Aku ingin masuk sendiri ke dalam sana untuk menyelamatkan kedua anakku dari kawanan orang-orang jahat itu.
Begitu tanganku mulai bergerak untuk membuka pintu mobil, tiba-tiba aku kembali teringat dengan pesan suamiku. Aku sudah berjanji untuk tidak keluar dari dalam mobil kecuali dalam keadaan genting.
"Ah!" pekikku sambil menutup kedua mataku dengan tangan saat melihat senjata tajam milik pria pria asing itu menggores tangan suamiku.
__ADS_1
Air mataku seketika menetes karena kasihan sekaligus ketakutan saat melihat suamiku terluka dan berdarah. Ingin sekali rasanya aku keluar membantunya untuk melawan pria jahat itu. Aku bisa menebak, mungkin pria itu lah yang bernama Johan, ketua dari klan mafia Black Mamba.
Cukup lama mereka berkelahi menggunakan cel*rit di tangan mereka masing-masing. Hingga pada akhirnya pria yang terlihat lebih tua dari suamiku itu juga mendapatkan luka goresan yang sama di tangannya.
Perkelahian mereka terlihat imbang. Sejenak mereka berdiri sambil menjaga jarak. Lalu entah apa yang si Johan itu katakan pada suamiku, aku sama sekali tidak bisa mendengar obrolan mereka karena pintu mobil tertutup dengan rapat.
Pria yang aku tebak bernama Johan itu mulai melemparkan semua senjata yang dia miliki ke tanah, ku lihat suamiku pun melakukan hal yang sama. Senjata yang tadinya dia sembunyikan di balik bajunya kini dia lemparkan semuanya ke tanah tanpa sisa.
Mungkin saat ini mereka saling sepakat untuk adu kekuatan, bukan lagi berkelahi sambil menggunakan senjata tajam sama seperti tadi. Mereka benar-benar murni ingin bertarung adu kekuatan untuk melihat siapa yang lebih unggul di antara mereka.
__ADS_1
B e r s a m b u n g ...