
Sudah beberapa kali aku menghubungi si 'Z' ini, tapi dia tidak kunjung menjawab panggilan teleponku. Mungkin sekarang dia sudah berubah pikiran karena sejak dulu aku selalu keras menolak mentah-mentah keinginannya untuk berbaikan denganku.
Aku putuskan untuk berhenti menghubunginya. Sekarang, aku tidak punya pilihan lain lagi selain meminta bantuan kak Aditya. Kalau kak Aditya juga tidak mau, aku tidak tahu lagi harus minta bantuan kepada siapa.
Aku tidak boleh putus asa secepat ini, aku tidak boleh gampang menyerah. Sekarang, aku masih punya waktu beberapa hari lagi untuk mencari bantuan.
Aku yakin, di dunia ini, tidak ada masalah yang tidak ada jalan keluarnya, jadi aku juga yakin, masalah keluargaku sekarang juga pasti akan ada jalan keluarnya nanti.
Yang perlu aku lakukan sekarang, hanya terus berusaha mencari jalan keluar dengan penuh semangat perjuangan dan pantang menyerah. Aku harus terus berjuang sampai titik darah penghabisan, demi ibu dan Rina, adik kandungku satu-satunya.
...----------------...
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Saat ini aku sudah siap untuk berangkat ke cafe, lengkap dengan hoodie beserta masker.
Aku sengaja berpenampilan seperti ini agar supaya orang-orang sulit mengenaliku. Apalagi jika seandainya pria ******** itu menyuruh para pengawalnya untuk datang mencariku ke cafe.
10 Menit sebelum jam 7, aku sudah sampai di cafe, aku langsung menanyakan keberadaan kak Aditya pada salah seorang pelayan.
"Kak, saya ingin bertanya, apa kak Aditya ada di ruangannya?" tanyaku pada salah seorang pelayan laki-laki yang pertama kali aku temui saat aku baru saja memasuki cafe.
"Iya, baru saja datang," jawab pelayan itu.
"Oh, terima kasih ya, Kak." Aku segera berlari pelan menuju ruangan kak Aditya, yang letaknya di bagian belakang tidak jauh dari ruang dapur.
Tok tok tok. Aku mengetuk pintu ruangannya, sambil melihat ke kiri dan ke kanan untuk memastikan tidak ada orang yang mengikutiku.
"Masuk!" teriak kak Aditya dari dalam ruangannya.
Setelah dipersilahkan, aku langsung memasuki ruangan tersebut. Kak Aditya terlihat kebingungan menatapku, sepertinya penyamaranku lumayan berhasil, kak Aditya bahkan tidak bisa mengenaliku.
"Siapa, ya?" tanyanya, sambil mengerutkan dahi lalu berdiri dari duduknya.
Ku lihat atasan baruku itu menatapku kebingungan. Aku langsung membuka topi hoodie-ku beserta masker yang menutupi wajahku seraya berkata, "Ini saya, Kak."
__ADS_1
"Oh, jadi kamu, Rania. Membuatku kaget saja, aku pikir tadi siapa," katanya. "Ayo, silahkan duduk."
"Terima kasih." Aku berjalan menuju seberang mejanya. Saat itu kak Aditya sedang duduk di sofa yang tersedia di dalam ruangannya.
"Ada apa? Kamu kok belum bersiap-siap? Sebentar lagi jam 7 loh," tanyanya, sambil melirik jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Mm ... begini, Kak. Saya ingin membicarakan hal penting dengan Kak Aditya." Aku berhenti sejenak, kemudian kembali melanjutkan ucapanku. "Saya mau minta tolong, Kak," ungkapku. Sekilas aku menundukkan pandanganku, lalu kembali menatapnya.
"Minta tolong? Kamu mau minta tolong apa?" tanyanya.
Sebenarnya aku agak ragu mengatakannya, tapi tidak ada pilihan lain. Aku tidak akan tahu seperti apa hasilnya jika aku tidak berani mencoba. "Mm ... saya ... saya mau pinjam uang, Kak."
"Pinjam uang? Untuk apa kamu mau meminjam uang?" Dia menatapku dengan tatapan serius.
"Saya ... saya mau bayar utang yang akan jatuh tempo minggu depan, Kak," jawabku, masih diselimuti perasaan ragu-ragu.
"Oh ... utang, ya?" Kak Aditya terlihat sedang berpikir sambil melipat kedua tangannya di depan dada, sebelah jari telunjuknya bergerak-gerak seperti palu memukul-mukul lengan kekarnya. "Memangnya kamu berhutang dimana? Kenapa bisa jatuh tempo?"
"Mm ... sama mantan kolega bisnis ayah saya, Kak," jawabku.
"Ayah saya sudah meninggal 4 bulan lalu, Kak." Aku kembali menunduk setelah menjawab pertanyaannya. Mengingat bagaimana ayah meninggal tiba-tiba kembali membuat mataku berkaca-kaca.
"Oh, kasihan sekali kamu. Maaf, tadi saya tidak bermaksud untuk kembali mengingatkan kamu."
Aku tersenyum paksa. "Tidak apa-apa."
"Ngomong-ngomong, memangnya kamu mau pinjam uang berapa?"
Meski pun agak ragu, tapi aku tetap harus mengatakannya. "Mm ... kalau bisa sih ... seratus juta, Kak." Aku memelankan suaraku di ujung kalimatku, takut kak Aditya terkejut. Tapi nyatanya, dia tetap terkejut juga.
"100 juta?!" Sontak saja dia mengubah posisi duduknya menjadi lebih condong ke arahku, dan menatapku lekat-lekat.
Aku menunduk, bingung harus berkata apa lagi padanya. Kalau kak Aditya tidak mau membantuku, aku harus berpikir lebih keras lagi untuk mencari bantuan.
__ADS_1
Aku ingin sekali mengambil pinjaman di bank, tapi tidak ada sesuatu yang bisa dijadikan sebagai jaminan. Aset-aset berharga milik keluargaku semuanya sudah habis terjual.
"Kalau, Kak Aditya tidak bersedia membantu saya juga tidak apa-apa," kataku, sambil memijat-mijat lututku sendiri.
"Bukannya saya tidak mau, Rania, tapi apakah kamu yakin, kamu tidak akan menipu saya? Saya baru kenal sama kamu minggu lalu loh, dan saya belum tahu persis kamu itu seperti apa orangnya?" jelasnya, lalu kembali duduk bersandar di sofa.
Aku bisa mengerti kekhawatiran kak Aditya. Kalau pun dia tidak bersedia membantuku, tidak apa-apa, itu haknya. Aku juga tidak boleh memaksa orang lain untuk membantuku.
"Kalau saya memberikan uang sebanyak itu, apakah kamu bisa menjamin, selama 200 hari ke depan, kamu akan tetap menyanyi di tempat saya?" Kak Aditya menatapku ingin memastikan.
Apa? 200 Hari? Bagaimana mungkin? Saat ini saja aku sedang memikirkan rencana untuk pindah ke kota lain setelah mendapatkan uang yang cukup untuk melunasi semua hutang-hutang keluargaku.
"Ya, anggap saja itu gaji kamu yang kamu terima duluan. Bagaimana? Kalau kamu setuju, saya akan segera mencairkan uang itu untuk kamu. Paling cepat besok siang dan paling lambat lusa," jelasnya. "Dan satu lagi, kita berdua juga harus membuat surat perjanjian. Itu sebagai jaminan bahwa kamu tidak akan menipu saya. Bagaimana?"
"Mm ... sebelumnya saya minta maaf, Kak. Sebenarnya saya juga sedang berencana untuk meninggalkan kota ini."
Lebih baik aku jujur dan mengatakannya terlebih dahulu. Jangan sampai setelah kak Aditya tidak pernah melihatku lagi, dia pasti akan benar-benar mengira kalau aku ini memang seorang penipu yang telah membawa kabur uangnya. Dan yang lebih parahnya lagi, aku pasti akan menjadi buronan atas dasar kasus penipuan.
"Apa?! Jangan bilang kamu memang sengaja mau menipu saya, ya?! Setelah saya kasih kamu uang, lantas kamu mau membawa kabur uang saya, begitu?!"
B e r s a m b u ng ...
...__________________________________________...
...Halo para pembaca sekalian...
...yang sempat mampir....
...Jangan lupa tinggalkan jejak like,...
...komen, favorit, hadiah, serta vote-nya ya...
...setelah kalian selesai membaca bab ini...
__ADS_1
...biar aku makin semangat nulis.😊...
...Kalau sudah, aku ucapkan terima kasih banyak.😁...