One Night Love Devil

One Night Love Devil
Memasuki Markas Lama


__ADS_3

Kurang lebih setengah jam kemudian. Setelah Roy melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan berhasil membuatku sport jantung, dia pun mulai membelokkan mobil yang dia kemudikan masuk ke dalam jalan sempit menuju ke dalam hutan.


Sepertinya asisten Roy ini multi talenta. Selain jago urusan bisnis, bisa diandalkan dalam pekerjaan apa pun, ternyata dia juga memiliki bakat terpendam untuk menjadi seorang pembalap.


Setelah mobil melaju di dalam hutan selama hampir 10 menit, asisten Roy pun mulai memelankan laju mobilnya begitu mobil yang kami tumpangi hendak memasuki sebuah kawasan dengan benteng menjulang tinggi di tengah hutan.


"Apa ini tempatnya, Dad?" tanyaku, sambil mengintip pemandangan luar lewat jendela kaca mobil.


"Iya Sayang. Ini dia tempatnya," jawabnya.


Dengan laju mobil yang masih pelan, Roy mulai mengemudikan mobilnya memasuki kawasan yang mereka sebut dengan markas lama tersebut.


Aku tidak bisa mendeskripsikan dengan sangat detail seperti apa pemandangan di tempat ini. Yang jelas, bangunan di balik benteng menjulang tinggi tersebut lebih mirip dengan bangunan-bangunan tua yang sudah lama tidak berpenghuni. Banyak kerusakan di beberapa sisi bangunan. Seperti bekas sisa pertempuran. Sebagian besar bangunan sudah tidak layak huni, atap dan dindingnya sudah hancur seperti sudah kejatuhan bom dari atas. Aku berpendapat bahwa, mungkin dulunya sebelum markas ini ditinggalkan oleh para penghuninya, telah terjadi peperangan luar biasa di tempat ini.

__ADS_1


Sebelum suamiku dan Roy turun dari mobil, terlebih dahulu dia menunggu mobil yang dikendarai oleh William bersama dokter Raymond tiba. Setelah menunggu selama beberapa menit, yang ditunggu pun akhirnya tiba.


"Sayang, ingat pesanku, tetap di sini dan jangan keluar dari dalam mobil kecuali keadaan tidak memungkinkan," ujar suamiku, dan aku langsung menanggapinya dengan anggukan.


"Kamu harus berjanji padaku, keributan apa pun yang kamu dengar di dalam sana, jangan pernah berani-berani untuk keluar dari dalam mobil apalagi sampai ikut masuk ke dalam sana," pesannya lagi.


"Iya, Dad. Aku berjanji," ujarku.


"Dan satu lagi, ingat untuk tetap tenang si sini menunggu kami keluar."


Sebelum keluar dari dalam mobil, suamiku pun lalu memelukku dengan erat. "Aku sangat mencintaimu, Sayang."


"Aku juga Dad," jawabku, sambil balas memeluknya erat.

__ADS_1


Sebelum akhirnya suamiku benar-benar keluar dari dalam mobil dan menyusul yang lainnya, dia sempat mengecup bibirku secara sekilas. Aksinya itu sempat tercyduk oleh dokter Raymond yang tiba-tiba saja membuka pintu mobil dari luar.


"Sudah mesra-mesraannya. Anak-anakmu di dalam sana mungkin saja sedang menangis menunggu kamu untuk menyelamatkan mereka secepatnya," ucap dokter Raymond.


Suamiku tersenyum paksa sembari menatapku dengan lekat. Seolah ada sesuatu yang membuatnya terlihat tidak rela meninggalkanku sendirian di sini.


"Ingat Sayang, tunggu aku di sini dan jangan kemana-mana," ujarnya kembali memperingatiku untuk yang kesekian kalinya.


"Baik, Dad. Jangan khawatirkan aku. Aku akan tetap berada di sini menunggu kalian keluar membawa si kembar."


"Iya Sayang. Kamu juga jangan khawatir. Aku berjanji, apa pun yang terjadi, aku akan tetap membawa anak-anak kita keluar dari dalam sana dalam keadaan selamat dan tanpa lecet sedikit pun."


"Iya, Dad. Pergilah. Hati-hati. Jaga dirimu baik-baik."

__ADS_1


"Iya, Sayang."


B e r s a m b u n g ...


__ADS_2