One Night Love Devil

One Night Love Devil
Laporan Roy


__ADS_3

Seketika aku teringat sesuatu, aku pun langsung terbangun dari posisi berbaringku.


Anak-anakku?


"Dad, anak-anak di mana Dad? Kenapa kamu tidak mencari mereka? Bukannya mereka diculik?" tanyaku, sambil mencengkram jas bagian depan milik suamiku. Aku kembali panik ketika mengingat bahwa anak-anakku diculik.


"Tenang dulu Sayang, jangan panik."


"Bagaimana aku bisa tenang? Bagaimana bisa aku tidak panik? Sedangkan anak-anakku tidak tahu dimana mereka. Mereka diculik. Kamu tidak tahu bagaimana susahnya aku mengandung, melahirkan, dan merawat mereka selama ini." Seketika tangisanku mulai pecah. Suamiku langsung membawaku ke dalam pelukannya dan kembali memelukku dengan erat.


Cukup lama aku menagis, hingga suara panggilan asisten Roy membuat tangisanku seketika terhenti. Aku sangat berharap pria kaku itu datang membawa kabar baik.


"Tuan."


"Ada apa Roy? Apa kamu sudah menemukan sebuah petunjuk?" Suamiku bertanya pada asistennya tersebut.


"Iya, Tuan. Saya bersama William, tuan Robin, juga tuan Raymond baru saja selesai memeriksa semua rekaman CCTV yang ada di tempat ini. Kejadian penculikan tuan muda kecil dan nona muda kecil baru saja terjadi ketika saya pergi kemari untuk menghampiri mereka. Kira-kira kejadiannya kurang dari setengah jam yang lalu Tuan," jelas asisten Roy.

__ADS_1


"Lalu bagaimana mereka bisa membawa si kembar keluar dari sini. Di luar 'kan ada puluhan penjaga? Tidak mungkin juga mereka menembakkan obat bius pada semua penjaga yang ada di luar sana," tanya suamiku.


Sementara aku, yang bisa aku lakukan hanya menangis sambil menyimak pembicaraan mereka dan memeluk selimut kedua anakku erat-erat.


"Saat keluar dari sini, kedua orang itu menyamar sebagai salah satu pengunjung di hotel ini. Mereka memasukkan nona muda kecil dan tuan muda kecil ke dalam koper yang berbeda, jadi tidak akan pernah ada yang curiga."


Mendengar penjelasan asisten Roy, tangisanku semakin pecah. Aku memikirkan bagaimana dengan nasib kedua anakku saat ini? Sebenarnya siapa yang sedang mengincar keselamatan kami semua? Setelah tidak berhasil menangkapku waktu itu, sekarang mereka malah menjadikan anak-anakku sebagai sasaran.


"Dad, kenapa kamu diam saja? Ayo cepat kita cari anak-anak ..." ucapku sambil memohon pada suamiku. Air mataku masih saja meleleh menjauhi kelopak mataku.


"Tenang dulu Sayang, kita tidak boleh gegabah untuk menghadapi masalah yang satu ini," ucapnya, sambil kembali memelukku dengan erat lalu mengusap-usap punggungku dengan lembut untuk menenangkanku.


"Semuanya sudah ditutup Tuan. Penerbangan akan ditunda sampai tuan muda kecil dan nona muda kecil ditemukan. Kami juga meminta pada penjaga di perbatasan untuk memeriksa semua mobil yang lewat berikut isi di dalamnya. Kami sudah mengirimkan foto beserta plat mobil yang dikendarai oleh kedua orang itu. Juga kami sudah bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk menangkap pelakunya. Bukan hanya itu, anak buah William juga semuanya sudah dikerahkan untuk mencari, Tuan."


"Kerja bagus. Sebaiknya kita juga ikut mencari," kata suamiku.


"Dad, aku ikut. Aku juga ingin pergi mencari anak-anak," ujarku. Lelehan air mataku belum juga bisa berhenti.

__ADS_1


"Tidak Sayang. Kamu di sini saja. Ini terlalu berbahaya. Kamu tidak boleh ikut."


"Tidak Dad, pokoknya aku harus ikut. Aku tidak akan pernah bisa tenang jika hanya disuruh untuk menunggu kalian di sini."


"Tidak Sayang, ini terlalu berbahaya. Aku tidak mau terjadi apa-apa padamu." Suamiku berkata sambil menangkup kedua pipiku. Dia menatap kedua manik mataku dengan dalam.


"Dad, aku mohon ... kalau kamu meninggalkan aku di sini, aku pasti akan nekat menyusul kalian nanti."


"Sayang, aku juga memohon padamu. Menurutlah apa kataku, ini juga demi kebaikan kamu, hm."


"Tidak Dad, pokoknya aku akan tetap ikut, bagaimana pun kamu melarang," tegasku.


Suamiku mengusap wajahnya dengan kasar melihat betapa keras kepalanya istrinya ini.


"Tapi Say-"


Tiba-tiba ponsel suamiku berdering. Ku lihat panggilan dari nomor asing.

__ADS_1


B e r s a m b u n g ...


__ADS_2