One Night Love Devil

One Night Love Devil
Pelaku Kejahatan Yang Sama


__ADS_3

"Ada apa Roy? Kenapa kamu terlihat sangat pucat?" Suamiku bertanya pada asistennya tersebut.


"Tu-Tuan, sebelumnya saya ingin meminta maaf, tapi saya juga harus mengatakan hal ini secepatnya pada Anda." Roy berkata sembari menunduk, tangannya terlihat sedikit gemetar.


Mendengar ucapan asisten Roy, seketika aku dan suamiku saling menatap sekilas, dan seketika itu juga, aku menjadi semakin panik.


"Asisten Roy, cepat katakan padaku, apa sebenarnya yang terjadi?!" Aku bertanya sambil mencengkram jas bagian depan pria kaku itu.


"Sayang, tenanglah," ujar suamiku, lalu menarik tanganku yang tadinya mencengkram jas bagian depan asisten Roy.


"Tapi Dad, aku takut terjadi sesuatu pada anak-anak," ucapku.


"Sst. Diamlah Sayang. Kita dengarkan dulu penjelasan Roy. Jangan menyela ketika dia berbicara." Suamiku berkata seraya membawaku ke dalam pelukannya.


"Roy, sekarang katakan, apa sebenarnya yang terjadi?" tanya suamiku.

__ADS_1


"Be-begini Tuan, tadi ... tadi saat Anda menyuruh saya untuk menghubungi suster Lili, dia tidak menjawab panggilan saya, begitu pula dengan suster Ria. Jadi saya memutuskan untuk menghampiri mereka. Tapi begitu saya sampai di sana, saya sudah menemukan para pengawal yang ditugaskan untuk berjaga di sana semuanya sudah tergeletak di lantai tidak sadarkan diri. Setelah saya periksa, saya menemukan jarum suntik yang tertancap di badan mereka masing-masing. Sepertinya mereka diserang oleh pelaku yang sama dengan orang yang berniat mencelakai Nona Rania beberapa waktu yang lalu Tuan," jelas asisten Roy panjang lebar.


Mendengar hal itu, aku tidak bisa lagi tidak panik. Aku yakin, pasti terjadi sesuatu pada anak-anakku. Apa jangan-jangan, kedua anakku diculik?


"Asisten Roy, jangan katakan kalau terjadi apa-apa pada anak-anakku!" teriakku. Aku ingin kembali mencengkram jas bagian depan asisten Roy, tapi suamiku semakin mengeratkan pelukannya padaku. Dia tidak membiarkanku lepas dari pelukannya.


"Tenanglah Sayang, tenanglah," ucapnya.


"Roy, lanjutkan ucapanmu yang tadi," titahnya lagi.


"Baik Tuan." Pria kaku itu berkata seraya menganggukkan kepalanya pelan. "Tuan, Nona, sekali lagi saya meminta maaf jika harus mengatakan ini. Tuan muda kecil dan nona muda kecil di culik. Suster Lili dan suster Ria juga diserang menggunakan obat bius. Sekarang mereka juga sedang tidak sadarkan diri di samping tempat tidur tuan muda kecil dan nona muda kecil," jelas asisten Roy.


Jantungku semakin bergemuruh hebat mendengar kenyataan pahit itu. Beberapa detik kemudian aku tidak sadarkan diri lagi. Hari dimana yang aku anggap sebagai hari yang sangat membahagiakan, justru malah berubah menjadi hari yang sangat menyedihkan bagi kami semua.


.

__ADS_1


.


"Sayang, bangunlah."


Aku mulai mengerjap-ngerjapkan mataku saat mendengar suara panggilan suamiku, juga saat aku merasakan aroma minyak angin mulai menusuk indra penciumanku.


"Kenapa aku ada di sini?" Aku bertanya dengan suara lirih saat menyadari bahwa saat ini aku sedang berada di dalam sebuah kamar hotel.


"Syukurlah Sayang, kamu sudah sadar," ucap suamiku lalu mencium keningku berulang-ulang.


"Apa yang terjadi?" tanyaku kebingungan.


Aku semakin kebingungan saat melihat ke sekeliling. Orang-orang terdekatku sedang berdiri berjejer sambil menatapku dengan tatapan cemas. Mereka juga terlihat menyeka air mata mereka masing-masing.


Seketika aku teringat sesuatu, aku pun langsung terbangun dari posisi berbaringku.

__ADS_1


Anak-anakku?


B e r s a m b u n g ...


__ADS_2