One Night Love Devil

One Night Love Devil
Shock


__ADS_3

DOR! DOR!


Dua buah tembakan berhasil membuat timah panas menembus kepala si Johan. Hanya dalam hitungan detik, tubuhnya langsung limbung tidak berdaya di atas tanah dan dalam keadaan sudah tidak bernyawa lagi.


Aku yang menyaksikan hal tersebut secara langsung dengan mata kepalaku sendiri benar-benar sangat shock setengah mati. Tanganku seketika gemetar karena sangat terkejut dan ketakutan. Pis*ol yang tadinya ada di dalam genggamanku kini sudah aku jatuhkan ke tanah, bersamaan dengan itu, aku juga ikut jatuh terduduk di atas tanah. Rasanya tungkai-tungkaiku sudah tidak kuat lagi menopang tubuhku agar bisa tetap berdiri dengan tegap. Apalagi sampai berlari menghampiri suamiku yang saat ini sedang terluka parah di bagian kepala akibat hantaman balok kayu besar yang tadi digunakan oleh Johan untuk memukuli kepalanya.


"Bu-bukan aku pelakunya. Su-sungguh. Su-sungguh bu-bukan aku yang membunuh orang itu," lirihku.


"A-aku bukan pembunuh. A-aku ... bukan pembunuh. Aku tidak membunuh orang itu," lirihku dengan napas yang sudah tercekat-cekat.


Aku benar-benar sangat shock hingga akhirnya pandanganku mulai kabur dan sesaat kemudian aku sudah tidak mengingat apa-apa lagi.


.......


.......


Aku mulai mengerjap-ngerjapkan mataku saat merasa ada yang membelai kepalaku dengan lembut. Awalnya semuanya terlihat kabur, hingga akhirnya aku sadar bahwa saat ini aku sedang berada di dalam kamarku. Atau lebih tepatnya sekarang aku sudah kembali ke villa.

__ADS_1


Aku mendongak menatap sosok yang sedang membelaiku. Seorang pria dengan perban yang melilit di kepalanya, juga terdapat perban yang menempel di lengannya.


"Apa yang terjadi? Aku kenapa?" tanyaku kebingungan sambil berusaha untuk bangkit dari posisiku.


"Tadi kamu pingsan di markas Sayang," jawab suamiku. Dia masih membelai kepala dan pipiku dengan lembut secara bergantian.


"Markas?" tanyaku kebingungan.


Namun, seketika satu kata itu kembali mengingatkanku dengan kejadian beberapa saat yang lalu. Ketika aku menodongkan pis*ol ke arah pria itu. Namun belum sempat aku menekan pelatuk pis*olnya, tiba-tiba ada yang menembaknya duluan, tepat mengenai kepalanya sehingga nyawanya tidak dapat lagi tertolong.


Seketika aku menjadi panik. Aku tidak mau orang lain mencap dan menganggapku sebagai seorang pembunuh.


Ketakutanku tidak dapat lagi aku bendung, dan seketika air mataku mengalir begitu saja melewati pipiku.


"Tenang Sayang, tenang. Semua orang tahu bukan kamu yang membunuh Johan," ucap suamiku. Dia membawaku ke dalam pelukannya untuk menenangkanku. Ucapannya barusan seperti sebuah angin segar yang menerpa wajahku.


"La-lalu ... siapa yang menembaknya Dad?" Aku bertanya sembari mendongak menatap suamiku.

__ADS_1


Sejenak suamiku terdiam, dia balas menatapku dengan lekat. "Dad Robin yang menembaknya, Sayang. Jadi kamu tidak perlu lagi khawatir dan ketakutan berlebihan seperti ini."


Mendengar hal itu perasaanku menjadi sangat lega. Beban berat yang ada di dalam hati dan pikiranku seketika terangkat semuanya.


"Dad Robin? Kenapa dad Robin menembak Johan Dad? Bukankah kalian sama-sama anak angkat beliau?" tanyaku tidak percaya.


Aku masih tidak percaya bahwa dad Robin akan melakukan itu pada anak angkatnya sendiri.


"Itu karena ulah Johan sudah sangat melewati batas." Seketika suara bariton seorang pria mengejutkanku.


B e r s a m b u n g ...


..._________________________________________...


...Detik-detik bab-bab akhir menuju tamat. Ada yang lega gak akhirnya bab-bab menegangkan sudah berlalu? Dan tinggal beberapa langkah lagi menuju tamat. Aku mau nanya nih, gimana rasa bumbu baladonya?🤭 Mantul gak?😅...


Note :

__ADS_1


*Yang dimaksud dengan bumbu balado adalah ******* dari cerita ini.😁


__ADS_2