One Night Love Devil

One Night Love Devil
Mencari Pinjaman 1


__ADS_3

Dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipiku, aku kembali berusaha untuk menghubungi salah satu kerabat orang tuaku.


Kali ini aku mencoba menghubungi tante Sinta, adiknya om Chandra. Aku tahu, tante Sinta ini orangnya sangat baik dan ramah, dan dia juga sangat dekat denganku sejak aku masih kecil. Hanya saja aku sedikit kurang yakin, bisa mendapatkan pinjaman darinya, karena tante Sinta ini tidak sekaya om Chandra.


"Halo." Tante Sinta langsung menjawab panggilanku tanpa perlu aku coba hubungi berulang kali, dan itu membuatku cukup lega.


"Halo Tante, ini aku, Rania."


"Iya, Tante tahu ini kamu. Ada apa, Sayang? Tumben kamu menelpon Tante," tanyanya.


"Begini Tante, Nia mau bicara suatu hal yang sangat penting sama Tante, saat ini Nia sangat membutuhkan bantuan, Tante," jawabku.


"Bantuan apa, Sayang? Katakan saja. Kalau Tante bisa bantu kamu, ya kenapa tidak?" Aku merasa merasa lega mendengarkan tante Sinta berkata seperti itu.


"Tante, Nia mau pinjam uang boleh?" tanyaku, harap-harap cemas sambil mengigit kuku jari telunjukku.


"Kamu mau pinjam uang? Buat apa, Sayang?"


"Buat melunasi hutang peninggalan ayah, Tante," jawabku. Tiba-tiba aku merasa ingin kembali menangis, tapi berusaha sekuat mungkin aku tahan.


"Aduh ... kasihan sekali kamu, Nia. Memangnya hutang ayah kamu ada berapa?" tanyanya, prihatin.


"Kemarin sih ada puluhan M, Tante, tapi setelah semua aset keluarga kami dijual, sekarang hutangnya sisa 250 juta," jelasku.


Aku tahu, tante Sinta pasti akan membantuku. Tapi aku tidak yakin, kalau dia akan membantuku melunasi semuanya.


"250 juta? Lumayan banyak juga, ya?"


"Iya, Tante. Tante ada sedikit uang tidak yang bisa Nia pinjam?"


"Sebelumnya Tante minta maaf sekali ya, Sayang. Tante tidak bisa membantu kamu melunasi semuanya, Tante cuma punya ...." Sepertinya tante Sinta sedang berpikir. "Tante cuma punya 50 juta buat dikasih ke kamu, Sayang."

__ADS_1


"50 juta? Iya deh, tidak apa-apa, Tante." Aku merasa sangat lega, akhirnya aku mendapatkan uang 50 juta juga, jadi sisa 200 juta lagi.


"Nia, Tante kasih kamu uang itu bukan buat kamu pinjam, Tante memberikan uang itu sebagai pemberian, jadi tidak usah kamu kembalikan, ya?"


"Aduh ... Nia jadi tidak enak nih Tante. Begini saja, Nia pasti akan mengembalikan uang Tante kok, tapi tidak dalam waktu dekat. Mm ... nanti deh setelah Nia punya cukup uang."


Aku merasa sangat tidak enak. Tante Sinta memang orang yang sangat baik, dia ingin memberikan uang sebanyak itu secara cuma-cuma untuk membantu keluarga kami.


"Tidak usah, Sayang. Kalau kamu menganggap uang itu sebagai pinjaman, lebih baik Tante tidak usah bantu kamu. Hayo, pilih mana?"


"Jangan begitu dong, Tante. Nia benar-benat tidak enak menerima uang Tante begitu saja secara cuma-cuma, 50 juta lagi. Itu bukan jumlah yang sedikit loh, Tante."


"Nia, asal kamu tahu, ya? Tante sama ayah kamu itu sangat akrab dari kami kecil, dan mendiang ayah kamu dulu, juga sering membantu Tante, jadi kamu terima saja uangnya. Ya. Tidak apa-apa, Tante ikhlas kok, Sayang."


"Baik, Tante, Nia akan terima. Nia sangat berterima kasih sama Tante. Nia doakan semoga Tante diberi kesehatan, keselamatan, umur yang panjang, dan semoga rezeki Tante mengalir deras tiada henti, aamiin."


"Aamiin ... aamiiin."


20 Orang kerabat dekat kedua orang tuaku semuanya sudah selesai aku hubungi. Namun tidak ada satu pun yang mau memberikan aku pinjaman, mengingat kebaikan mendiang ayah saat masih hidup dulu. Mereka hanya membantuku secara cuma-cuma, hingga sekarang jumlah semuanya sudah terkumpul sebanyak 150 juta di rekeningku.


Aku sangat bersyukur, ternyata masih ada beberapa kerabat yang mau mengulurkan tangannya kepada kami disaat kami sedang kesulitan. Aku berjanji, suatu saat nanti aku pasti akan membalas semua jasa-jasa mereka.


Sisa 100 juta lagi. Aku terus memutar otak, kemana lagi aku harus mencari pinjaman sebanyak itu. Aku tidak mungkin meminta bantuan kepada teman-teman kerjaku, gaji mereka pun hanya cukup untuk membiayai kebutuhan mereka sehari-hari. Kalau pun ada yang bisa disisihkan, itu tidak seberapa jumlahnya.


Tiba-tiba aku teringat dengan kak Aditya, bosku di cafe. Aku berpikir, bagaimana kalau aku meminta bantuan padanya. Hanya dia satu-satunya yang bisa aku tempati meminjam uang.


Sebentar malam adalah malam minggu, malam nanti aku akan berangkat ke sana untuk bekerja. Aku akan mencoba berbicara padanya, tapi aku tidak begitu yakin kalau kak Aditya mau meminjamkan aku uang sebanyak itu. Apalagi aku baru bekerja padanya 1 minggu lalu, dan baru satu kali masuk bekerja.


Oh iya, hampir saja lupa. Aku kan sedang berencana untuk meninggalkan kota ini secepat mungkin, sebelum pria ******** itu kembali menemukanku dan semakin menambah banyak masalahku.


Tunggu, tunggu, tunggu. Bukankah pria itu pertama kali melihatku saat aku pertama kali bekerja disana? Bagaimana kalau dia atau pun pengawal-pengawalnya datang mencariku di cafe? Aku harus bagaimana? Mereka pasti akan menangkapku dan membawaku secara paksa ke hotel.

__ADS_1


Iih ... aku tidak mau itu terjadi. Lebih baik aku tidak usah pergi kesana. Aku khawatir kalau mereka benar-benar datang ke sana untuk mencari dan menangkapku? Aku tidak mau itu terjadi. Aku tidak mau lagi berurusan dengan orang itu.


Tapi jika aku tidak meminta bantuan kak Aditya, aku harus meminta bantuan siapa lagi? Apakah masih ada orang yang bisa aku mintai bantuan selain dia? Ah, lebih baik aku cek dulu, siapa tahu tadi aku melewatkan nomor kontak seseorang.


Aku segera meraih ponsel yang tergeletak di sampingku, lalu membuka daftar kontak yang memang sudah tersimpan disana sejak lama.


Aku terus mengusap pelan layar ponselku, berharap masih ada seseorang yang bisa aku mintai bantuan.


"Semoga saja masih ada," ucapku, dengan penuh harap.


Setelah melewati beberapa ratus nomor kontak, sampailah aku pada nomor kontak yang terakhir, yang aku beri nama dengan huruf 'Z' saja.


Aku merasa sedikit ragu-ragu untuk menghubungi si 'Z' ini, tapi dia satu-satunya harapanku sebelum aku beralih meminta bantuan pada kak Aditya.


Aku juga tidak begitu yakin dia mau membantuku, mengingat selama beberapa tahun ini, seberapa keras pun usahanya ingin memperbaiki hubungannya denganku, tetapi tetap saja aku yang tidak mau membuka ruang untuknya agar kami bisa kembali menjalin keakraban.


B e r s a m b u ng ...


...__________________________________________...


...Halo para pembaca sekalian...


...yang sempat mampir....


...Jangan lupa tinggalkan jejak like,...


...komen, favorit, hadiah, serta vote-nya ya...


...setelah kalian selesai membaca bab ini...


...biar aku makin semangat nulis.😊...

__ADS_1


...Kalau sudah, aku ucapkan terima kasih banyak.😁...


__ADS_2