
Setelah aku kembali ke kamar. Aku langsung menemui suamiku yang sedang beristirahat di atas tempat tidur. Perjuangannya beberapa jam yang lalu di markas lama pasti cukup menguras energinya.
"Dad, aku ingin menanyakan sesuatu," ucapku, sembari duduk di pinggir tempat tidur tepat di samping suamiku.
"Apa Sayang? Katakan saja."
"Dad, apa kamu serius ingin menjodohkan Zoe dengan Aarav, putranya dokter Raymond dan kak Audrey?" tanyaku.
"Tentu saja Sayang, aku sangat serius. Apa kamu tidak menyetujuinya, hm?" jawab suamiku, balik bertanya.
"Tidak, bukannya begitu Dad. Hanya saja ... Zoe 'kan masih bayi, masa sudah dijodohkan."
"Tidak apa-apa Sayang. Aku hanya menginginkan masa depan yang terbaik untuk anak-anak kita kelak. Apalagi aku dan Raymond sudah bersahabat sejak lama, bahkan kami berdua sudah seperti saudara kandung," ujar suamiku.
"Oh iya, apa Audrey mengatakan padamu alasan aku menjodohkan Zoe dengan anak pertama mereka?" tanya suamiku dan aku langsung menjawabnya dengan sekali anggukan.
"Lalu Zack bagaimana, Dad? Apa putra kita juga akan kamu jodohkan sama seperti Zoe?" tanyaku lagi, ini yang membuat aku penasaran sejak tadi.
"Hem," gumamnya sembari mengangguk.
Astaga. Suamiku benar-benar. Semoga saja anak-anakku kelak bahagia dengan pilihan daddy mereka. Sebenarnya aku sedikit khawatir mengenai hal itu.
"Memangnya Daddy menjodohkan Zack dengan anak siapa?" tanyaku penasaran.
__ADS_1
"Zack akan aku jodohkan dengan putrinya Roy nanti," jawabnya.
Mendengar jawaban suamiku, aku langsung terbahak. Bagaimana bisa dia melakukan hal itu, sedangkan Roy belum memiliki anak. Jangankan anak, istri pun Roy belum punya. Ada-ada saja.
"Kenapa kamu tertawa Sayang? Apanya yang lucu?" tanyanya, dengan ekspresi tanpa dosa sedikit pun.
"Kamu ini bagaimana sih, Dad? Bagaimana bisa kamu menjodohkan Zack dengan putrinya Roy? Sedangkan Roy, istri saja dia belum punya, apalagi anak. Haha," jawabku. Aku masih belum bisa berhenti tertawa.
"Eh, jangan salah Sayang. Sebentar lagi Roy akan segera menikah. 1 tahun lagi dia harus punya anak, tidak boleh tidak. Putra kita harus segera menemukan jodohnya."
Mendengar ucapan suamiku, aku semakin terbahak. "Dad, sepertinya pukulan Johan di kepalamu membuat otakmu sedikit bergeser. Kamu pikir semudah itu membuat anak perempuan, hah? Bagaimana kalau misalnya anak pertama Roy nanti laki-laki?"
Aku hanya memikirkan kemungkinan yang bisa saja terjadi berdasarkan logika.
"Ya harus bisa Sayang. Buktinya aku bisa membuat anak laki-laki dan perempuan sekaligus," ucapnya dengan penuh kebanggaan dan penuh percaya diri.
"Dad, kalau bicara itu yang masuk akal. Lagian, si kanebo kering seperti Roy bagaimana bisa membuat perempuan tertarik. Ya, aku akui dia memang lumayan tampan, tapi ekspresi wajah dan sikapnya sangat dingin dan kaku. Siapa coba yang akan tertarik dengan pria seperti itu?"
"Eh, jangan salah Sayang. Roy hanya bersikap dingin dan kaku saat sedang menjalankan tugasnya saja. Di luar itu, dia kembali menjadi dirinya sendiri."
"Serius?" tanyaku tidak percaya.
"Iya Sayang, aku serius. Berarti selama ini kamu tidak memperhatikan sesuatu."
__ADS_1
"Memperhatikan apa?" tanyaku penasaran.
"Ya, memperhatikan interaksi antara Roy dan suster Ria," jawabnya.
"Hah? Serius, Dad? Asisten Roy dan suster Ria? Apa mereka memiliki hubungan? Kenapa aku tidak tahu?"
"Terlepas mereka memiliki hubungan atau tidak, aku juga tidak tahu persis Sayang. Yang jelas, selama ini yang sering aku lihat, diam-diam mereka saling memperhatikan dan saling menatap dari kejauhan. Bahkan aku pernah beberapa kali memergoki mereka sedang asyik berduaan di taman belakang villa disaat pekerjaan mereka sama-sama senggang," jelas suamiku.
Aku benar-benar tidak menyangka bahwa ternyata kedua orang itu menjalin kedekatan.
.
.
Malam ini sebelum tidur, aku terlebih dahulu keluar dari kamar untuk mengambil air minum di dapur. Tengah malam seperti ini aku tidak tega membangunkan bi Nining yang sedang tertidur hanya untuk membawakan air minum ke kamarku.
Namun, sebelum aku mulai memasuki ruang dapur, aku tidak sengaja memergoki asisten Roy dan suster Ria sedang berduaan di dalam sana.
Sejenak aku menghentikan langkahku untuk memperhatikan interaksi antar keduanya. Sepertinya yang dikatakan suamiku memang benar, mereka berdua memang terlihat saling mencintai.
Aku tersenyum sendiri saat menyaksikan asisten Roy menyuapi suster Ria dengan makanan. Ternyata pria dingin dan kaku seperti asisten Roy bisa bersikap manis dan romantis juga pada wanita yang dia cintai.
B e r s a m b u n g ...
__ADS_1
...________________________________________ ...
...2 Episode terakhir.🤗...