
Barra tidak bisa menerima Papa dan Mama-nya yang seakan memojokan Khayra. Padahal wanita itu ingin mengatakan apa yang dia rasakan.
Wanita mana yang tidak akan cemburu jika berada di posisi Khayra. Saat menghubungi suaminya namun suara wanita yang dia dengar.
Bukannya mendapat pembelaan tapi malah disalahkan. Barra tahu pastilah hati wanita itu saat ini sakit mendengar penuturan dari kedua orang tuanya.
"Kenapa Papa dan Mama jadi menyalahkan Khayra? Bukankah wajar jika seorang istri cemburu mendengar suara wanita saat mengangkat ponsel suaminya. Jangan malah meminta pengertian darinya. Aku saja seorang pria, akan cemburu dan curiga jika saat menghubungi istriku tapi terdengar suara pria," ucap Barra.
"Bukannya Papa menyalahkan Khayra. Papa hanya ingin menunjukkan jika itu hal wajar jika seorang sekretaris mengangkat ponsel atasannya," ucap Papa lagi.
"Mama juga sering mendengar suara wanita saat menghubungi Papa kamu. Makanya Mama katakan itu hal wajar jika seorang sekretaris memegang ponsel atasannya. Khayra harus terbiasa dengan hal itu. Dia harus belajar menjadi seorang istri pengusaha," timpal Mama-nya.
"Hal yang wajar menurut Papa dan Mama? Apakah wajar seorang sekretaris mengaku sekamar dengan atasannya. Mengatakan jika atasannya sedang tidur di samping dirinya saat ini. Aku nggak bisa mewajarkan itu, Pa," ujar Khayra dengan menahan tangis.
Kenapa dia yang seolah salah di sini? Padahal dia hanya ingin mengatakan ketidak wajaran dari seorang suaminya. Ingin mendapat pembelaan tapi justru disalahkan.
Khayra berdiri dari duduknya. Dia merasa tidak pantas berada di sini. Semua keluarga suaminya ini tidak ada yang mendukung dirinya. Lebih baik dia pergi.
"Maaf Papa, Mama, aku pamit. Kepalaku pusing. Aku mau istirahat," ucap Khayra.
"Kamu mau kemana? Kita menginap di sini!" ucap Ferdi. Khayra mengurungkan niatnya dan kembali duduk.
"Jika kamu ingin istirahat setelah ini. Sopanlah sedikit dengan Papa dan Mama. Hargai undangan mereka. Kita belum makan malam. Setelah makan kamu bisa istirahat. Bahkan istirahat untuk selamanya juga nggak apa!" ucap Ferdi.
Barra menjadi geram mendengar ucapan abangnya itu. Yang menjadi Barra makin keheranan karena kedua orang tuanya seolah buta dengan apa yang Ferdi lakukan. Semua yang cowok itu katakan selalu saja benar di mata mereka.
__ADS_1
"Pasti semua telah lapar. Mari kita makan!" ucap Ibu.
Untuk memperingati pernikahannya yang telah memasuki 30 tahun Papa dan Mama akan mengadakan pesta besok malam. Saat ini sebenarnya hanya untuk berkumpul dengan anak-anaknya.
Saat makan malam, Barra terutama Khayra hanya diam saja. Dia tidak bisa menyembunyikan kekecewaan terhadap kedua mertuanya.
Sedang makan malam, ponsel Papa berdering. Setelah melihat siapa yang menghubungi, Papa berdiri.
"Ma, aku harus pergi. Mungkin pagi baru aku pulang. Aku ada pertemuan dengan temanku. Seperti biasanya!" ucap Papa dengan Mama.
"Hati-hati, Pa." Hanya itu yang mama katakan.
Setelah Papa menghilang dari pandangan, Mama membuka suara lagi. Kali ini dia bicara dengan Khayra.
"Kamu bisa lihat, Khay. Papa juga sering keluar malam untuk bertemu rekan kerja. Mama selalu mengerti apa yang dilakukan Papa kamu. Telah tiga puluh tahun menikah, mama telah terbiasa dengan kegiatan Papa. Mulai hari ini, kamu juga harus membiasakan diri," ucap Mama.
Setelah makan malam, Khayra langsung menuju kamar Ferdi. Dia merasa tidak enak dengan keadaan ini. Semua tidak ada yang mau mendengar curahan hatinya. Khayra merasa sendiri. Dia berdiri di depan jendela kamar melihat bintang yang bertabur di langit biru.
Saat sedang asyik menikmati bintang di langit, tiba-tiba Khayra dikagetkan dengan tarikan di rambutnya. Khayra memandangi siapa yang menarik rambutnya. Tarikan di rambut Khayra makin terasa kuat membuat wanita itu meringis karena kesakitan.
"Sakit, Mas. Lepaskan!" ucap Khayra. Wanita itu menahan tangan Ferdi agar tidak menarik rambutnya lebih keras lagi.
"Sakit? Lebih sakit mana hatiku, karena kamu permalukan di depan kedua orang tuaku!" ucap Ferdi dengan suara sedikit tinggi.
"Kapan aku memalukan kamu?" tanya Khayra.
__ADS_1
Ferdi masih menarik rambut istrinya itu. Karena sudah tidak tahan, Khayra menunduk dan duduk di sofa agar rambutnya tidak di tarik lagi.
Ferdi melepaskan tarikan di rambut Khayra dan kini mencengkeram rahang Khayra dengan tangannya. Dengan sangat kuat membuat Khayra kembali merintih.
"Aku ingatkan kamu, jangan pernah mengatakan keburukanku pada kedua orang tuaku. Aku bisa melakukan apa saja jika papa dan mama marah denganku karena mendengar ucapanmu!" ucap Ferdi.
Ferdi melepaskan cengkeramannya. Khayra memegang rahang nya yang terasa sakit. Wanita itu bukannya takut, bahkan kini menatap Ferdi dengan mata menyala.
Kehidupannya yang keras sejak ibu kandungnya meninggal dunia, membuat Khayra tidak mau mengalah lagi. Cukup sudah selama ini dia selalu mengalah dengan adik tirinya. Namun masih saja dia selalu di salahkan.
Khayra berdiri dari duduknya dan menatang Ferdi. Di pandangnya dengan mata melotot. Ferdi balas menatap dengan mata yang membesar juga.
"Kenapa? Kamu tidak bisa menerimanya? Kamu malu jika orang tuamu tahu kebusukanmu. Bagaimana jika aku memberikan bukti perselingkuhan kamu. Bukti kamu yang sering jajan di luar dan pulang dalam keadaan mabuk. Aku akan buka mata kedua mertuaku, jika anak yang mereka banggakan ini tidak lebih dari sampah dan hanya seorang pecundang!" ucap Khayra dengan suara tinggi.
Khayra sudah tidak dapat menahan emosinya lagi. Jika saja Ferdi tidak berlaku kasar dan memohon padanya untuk menyimpan semua kebusukan dari dirinya, mungkin Khayra akan mempertimbangkan itu. Namun, perlakuan kasar dari suaminya membuat Khayra merasa tertentang.
Tanpa Khayra duga, tangan Ferdi melayang dan menampar Khayra kuat hingga wanita itu tersungkur ke sofa yang ada dibelakangnya.
Khayra memegang kedua pipinya yang terasa panas. Dari sudut bibirnya keluar darah segar. Kepala Khayra terasa pusing. Mungkin karena tamparan yang keras itu.
Khayra berdiri, karena rasa sakit di pipi yang dia rasakan, air mata wanita itu jatuh membasahi pipi tanpa dia bisa bendung lagi. Khayra kembali menatap Ferdi dengan mata menyala.
"Kau harus membayar ini. Cukup sudah kau menganiaya aku. Kau harus pertanggungjawaban ini di kantor polisi!" ucap Khayra.
Wanita itu berjalan keluar dari kamar dengan tergesa. Ferdi masih belum menyadari apa yang terjadi. Dia masih tidak percaya jika dirinya baru saja menampar dengan keras pipi seorang wanita.
__ADS_1
Setelah Khayra menghilang, Ferdi baru tersadar dan mengikuti langkah Khayra keluar dari kamar itu. Ferdi melihat Khayra yang menuruni anak tangga. Berlari mengejar wanita itu. Jika apa yang dikatakan Khayra benar, jika dirinya akan melaporkan perbuatan Ferdi maka habislah reputasinya yang baik di mata keluarga besar mereka.
...****************...