ONE NIGHT With IPAR

ONE NIGHT With IPAR
Bab 70. ONE NIGHT with IPAR


__ADS_3

Barra dan Khayra juga ikutan berdiri dari duduknya. Barra mengambil sesuatu dari dalam kantong celananya. Dia lalu memanggil Naina yang telah berjalan beberapa langkah.


"Naina, tunggu!" panggil Barra.


Naina menghentikan langkah dan membalikkan badan menghadap Barra dan Khayra. Kakak tirinya itu meminta Naina duduk kembali.


"Aku dan Barra mau bicara sebentar saja. Duduklah kembali!" ucap Naina.


Naina melangkah kembali ke tempat semula dan duduk seperti yang Khayra inginkan. Naina memandangi keduanya dengan wajah bertanya. Apa yang akan Barra dan Khayra katakan. Apakah keduanya ingin membantu Naina?


"Ada apa, Kak?" tanya Naina lembut.


"Aku nggak tahu harus bicara apa dan melakukan apa dengan semua yang kamu alami saat ini. Walaupun keduanya, Papa dan Abangku yang telah melakukan itu, tapi aku tidak bisa ikut campur karena itu masalah pribadi antara kamu dengan mereka!" ucap Barra. Pria itu menjeda ucapannya.


"Tapi sebagai teman yang mengenalmu, aku hanya bisa membantu sedikit. Ini ada sedikit uang buat biaya perjalanan ke kampung," ujar Barra menyodorkan selembar cek.


"Semoga dapat membantu meringankan biaya perjalanan kamu. Hanya ini yang bisa aku dan Barra berikan. Aku juga tidak bisa melakukan apa-apa, karena ini masalah pribadi kamu. Semoga di tempat baru kamu akan lebih baik dan bahagia," ucap Khayra.


Kembali Barra dan Khayra menyalami Naina. Wanita itu mengambil cek yang diberikan Barra dengan tersenyum.


"Terima kasih. Dengan ini saja aku telah bahagia karena kalian ternyata masih mau membantu. Aku juga mendoakan semoga kalian bahagia selalu. Sekali lagi, maafkan atas kesalahan yang pernah aku lakukan. Aku pamit!"


Naina berdiri dari duduknya dan kembali menyalami keduanya. Naina berjalan meninggalkan keduanya.


***


Satu bulan kemudian


Subuh Barra bangun dari tidurnya ingin melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim. Dia lalu mengusap pipi istrinya, membangunkan.


"Sayang, bangun. Sholat subuh dulu, nanti tidur lagi!" ajak Barra


"Kak, kepalaku pusing. Aku tidur sebentar dulu ya?"


"Pusing banget ya, Sayang ...?" tanya Barra dan memegang dahi Khayra. Barra kaget merasa dahi Khayra yang hangat.


"Sayang, kamu demam? Kita ke rumah sakit ya. Aku sholat sebentar. Aku minta supir siapin mobil dulu!" ucap Barra turun dari ranjang.


"Kak, aku nggak apa apa!" ucap Khayra lemah.


"Nggak apa apa gimana? Badan kamu panas begini!"


Barra keluar kamar dan dia menghubungi supir, meminta disiapkan mobil buat ke rumah sakit.


Setelah sholat subuh , Barra membantu Khayra mengganti pakaiannya dan menggendong istri tersayangnya menuju mobil yang berada di lantai paling bawah gedung apartemen ini.

__ADS_1


Barra meminta supir sedikit cepat mengendarai mobil menuju rumah sakit. Ia takut terjadi apa-apa dengan Khayra.


"Sayang, apa yang kamu rasakan saat ini?"


"Pusing dan mual, kak. Aku rasa ingin muntah!" ucap Khayra di dalam pelukan Barra.


"Kalau mau muntah, jangan ditahan. Muntah aja, Sayang!" ucap Barra sambil memijat dahi istrinya.


Khayra yang sudah tak tahan, akhirnya muntah di perut Barra. Dia membiarkan istrinya mengeluarkan isi perutnya. Setelah melihat Khayra sedikit tenang, Barra mengambil tisu dan membersihkan mulut istrinya.


Barra menyandarkan tubuh Khayra di sandaran jok mobil. Dia membuka pakaiannya dan mengganti dengan baju yang ada di mobil.


Barra memang selalu menyediakan baju ganti di dalam mobil. Untuk persiapan jika suatu waktu harus ke luar kota mendadak.


"Sayang, gimana? Masih ingin muntah lagi?" tanya Barra sambil memijat dahi Khayra.


"Kak,maaf! Aku jadi mengotori pakaian kakak dengan muntahku," ucap Khayra merasa bersalah karena muntah dibaju suaminya.


"Nggak apa Sayang, kenapa minta maaf?" Barra kembali membawa Khayra ke dalam pelukannya.


"Pak, lebih cepat lagi menyetirnya!" ucap Barra kuatir melihat wajah Khayra yang makin lesu dan pucat.


Mobil Barra yang dikendarai supirnya memasuki area rumah sakit. Dia segera turun dengan menggendong Khayra menuju ruang unit gawat darurat rumah sakit itu.


Setelah Khayra dibaringkan di salah satu tempat tidur di ruang IGD, Dokter datang memeriksa.


Setelah lebih kurang setengah jam, pintu ruang periksa Khayra terbuka. Tampak Dokter keluar dari ruangan itu.


"Dokter, bagaimana istri saya? Apa yang terjadi dengannya?" tanya Barra kuatir.


"Bapak jangan kuatir ..."


"Bagaimana saya nggak kuatir Dokter. Istri saya sakit!" ucap Barra memotong ucapan Dokter.


"Bapak, dengar dulu ucapan saya! Istri bapak hanya demam. Itu semua terjadi karena perubahan hormon tubuh yang biasa terjadi pada awal kehamilan!" jelas Dokter.


"Maksud Dokter ... istri saya hamil?" tanya Barra tak percaya.


"Ya, menurut pemeriksaan awal istri bapak sedang hamil muda. Tapi hasil pastinya sebentar lagi diberikan, menunggu hasil periksa darahnya dari labor."


"Baiklah, dok. Apa lagi yang harus saya lakukan Dok?" tanya Barra gugup karena rasa bahagianya.


"Bapak ke bagian administrasi aja untuk melakukan pendaftaran rawat inap. Biar istri Bapak bisa dipindahkan ke ruang perawatan!" saran Dokter.


"Baik Dok, terima kasih!" ucap Barra.

__ADS_1


Setelah itu dengan tergesa Barra menuju administrasi untuk mengurus semuanya. Khayra dipindahkan ke ruang VVIP sesuai permintaan Barra. Dia ikut membantu perawat mendorong istrinya itu menuju ruang yang telah dipilihnya.


Sambil mendorong tempat tidur Kahyra, Barra terus menggenggam tangan kanan yang bebas dari selang infus.


Sampai diruang inap yang akan ditempati, Barra menggendong istrinya dan dibaringkan di atas tempat tidur.


Setelah para perawat pergi dan menghilang dari ruang itu, Barra duduk disamping tempat tidur Khayra dan mengecup tangan istrinya.


"Kak, kata Dokter aku sakit apa?" tanya Khayra sambil memandang heran ke arah suaminya yang terus tersenyum.


"Sakitmu ini akibat dari perbuatan aku!" ucap Barra dengan senyum jahilnya


"Sakit karena perbuatan Kakak. Emang Kakak melakukan apa? Aku rasa tidak ada!" ucap Khayra.


"Kamu tuh sakit karena sering melayani aku hampir tiap malam, dan hasil dari juniorku!"


"Jangan becanda Kak. Aku sakit apa sebenarnya?" tanya Khayra belum menangkap ucapan Barra.


Barra mendekati wajah Khayra dan mengecup seluruh bagian diwajahnya. Khayra semakin heran melihat suaminya. Tadi suaminya sangat kuatir melihat dia muntah, sekarang malah kelihatan senang.


"Sayang, terima kasih karena telah menjadi istriku. Kamu sekarang sedang mengandung benih cinta kita" bisik Barra.


"Maksud kakak ... aku hamil?"


"Iya, Sayang" ucap Barra dan kembali mengecup bibir istrinya.


Khayra bahagia mendengar kabar jika dirinya saat ini sedang mengandung benih yang ditanamkan Barra. Air matanya tanpa sadar menetes.


"Sayang, kok menangis. Kamu nggak bahagia mendengarnya?" tanya Barra dwngan memeluk Khayra.


"Ini tangis bahagia, Kak. Aku senang mendengarnya!" ujar Khayra menangis memeluk Barra.


"Kamu harus janji Sayang, akan menjaga benih cinta kita ini bersama-sama. Mulai hari ini kamu tak boleh kecapekan. Kamu nggak boleh kemana mana tanpa aku. Kamu juga tak boleh makan sembarangan, kamu nggak boleh ...."


"Udah, Kak. Banyak banget sih larangannya!" ucap Khayra memotong ucapan Barra, sebelum lebih banyak lagi larangan yang keluar dari mulutnya.


"Sayang, ini semua demi kebaikan kamu dan calon bayi kita!"


"Tapi bukan berarti aku nggak boleh melakukan apa-apa, Kak!"


"Sebentar lagi renovasi rumah kita juga selesai. Kita pindah bertepatan dengan acara empat bulanan kehamilan kamu aja. Bagaimana menurut kamu, Sayang?" tanya Barra. Dia memang membeli satu rumah lagi buat mereka tempati, namun berada sedikit jauh dari kota.


"Terserah Kakak aja! Aku ikuti mana yang terbaik bagi Kakak."


"Sekarang kamu sarapan dulu!" Barra menyuapi bubur ayam buat sarapan Khayra. Setelah Khayra sarapan, Barra lalu menunggu hingga istrinya tertidur. Setelah itu dia juga ingin membeli sarapan. Barra menitipkan istrinya pada salah seorang perawat. Supir telah diminta Barra pulang.

__ADS_1


Dokter mengatakan jika kehamilan Khayra sedikit lemah. Ia tidak boleh bekerja hingga kecapean. Dan Dokter juga menyarankan agar Kahyra saat ini jangan banyak pikiran. Untuk itu Barra ingin ada dua orang yang membantu Khayra mengerjakan pekerjaan rumah.


...****************...


__ADS_2