
Hampir setegah jam lamanya Melli terduduk di depan meja rias, menatap lekat foto sang suami bersama perempuan lain yang diduga selingkuhannya. Sampai akhirnya, dia letakkan foto itu di meja, di antara peralatan make-up yang tertata rapi.
Wajahnya terangkat, lalu melihat pantulan dirinya sendiri di cermin. Beberapa saat kemudian, mengangguk yakin.
“Ini pasti editan. Foto ini editan orang iseng yang mau merusak rumah tanggaku sama Mas Reno,” katanya berusaha meyakinkan diri dan menepis rasa curiga juga ragu.
Lantas, Melli pun bangkit dan meraih foto itu, lalu dibawa ke kamar mandi. Selama melangkah, Melli robek foto itu sampai berukuran kecil. Begitu sampai di depan kloset, Melli buang serpihan foto itu ke dalamnya dan dibiarkan hanyut bersama air.
Bibirnya merekah lebar. “Seharusnya aku lebih percaya pada suamiku sendiri daripada sebuah foto saja,” kata Melli seraya berlalu pergi dari kamar mandi. Beberapa kali dia menepuk tangan untuk membersihkan debu setelah tadi menggenggam erat foto, sebagai tanda juga kalau masalah telah selesai sampai di sana. Tak seharusnya diperpanjang lagi.
“Aku juga harus bicarakan ini sama Barra dan Ferdi supaya mereka juga tidak curiga lagi sama Mas Reno. Hubungan Papa dan anak tidak boleh ikut renggang hanya karena sebuah fitnah ini.”
***
Setelah satu jam lamanya berkutat di dapur, akhirnya masak untuk makan malam pun telah selesai. Melli menatap dengan puas semua makanannya yang kini telah tersaji dengan rapi di meja makan. Kemudian, alat makan pun sudah tersimpan di depan kursi yang nanti diduduki oleh kedua putranya.
Malam ini, menurutnya harus jadi malam yang spesial karena masalah perselingkuhannya telah selesai dan sudah waktunya dia meluruskan kesalah pahaman itu pada kedua putranya.
"Aku harus panggil mereka sekarang," kata Melli seraya berlari kecil meninggalkan dapur menuju ruang tengah.
Begitu Melli berdiri di depan televisi, dia mendongak, menatap ke lantai dua di mana letak kamar kedua putranya yang bersisian. Sempat Melli berdeham dua kali, melakukan pemanasan untuk suaranya.
Sejak kemarin kedua putranya itu memang mengisap di rumah. Melli memaksa mereka dengan alasan dirinya yang sakit. Barra dengan terpaksa mengisap juga.
Satu detik ...
Dua detik kemudian ...
"Barra! Ferdi! Ayo, makan malam. Mama udah masak banyak untuk kita makan malam ini!" teriak Melli dengan ceria.
Namun, tak ada tanggapan untuk beberapa saat. Melli pun mendesah kecewa, tetapi tak menyerah. Suaranya kembali melengking, lebih kencang daripada sebelumnya.
"Cepat turun atau Mama bawa sapu ke kamar kalian!"
__ADS_1
Cukup ampuh. Kedua putranya yang tengah sibuk dengan laptop di kamar masing-masing, langsung berlomba-lomba menuruni anak tangga hingga sampai di hadapan Melli.
Melli pun tersenyum puas setelah kedua putranya berdiri di depannya dengan terengah-engah.
"Nah, gitu. Kalau Mama ajak makan, cepetan turun. Sudah pada dewasa juga, tapi urusan makan susah banget disiplinnya," gerutu Melli seraya berlalu pergi dari hadapan Barra dan Ferdi, kembali ke dapur.
Kedua putranya itu pun mengekor di belakang dengan langkah terseok-seok mendekati kursi. Walaupun awalnya malas, tetapi setelah melihat banyaknya makanan yang Melli masak, keduanya tak bisa untuk menolak lagi. Lebih menghargai usaha sang mama.
"Ayo, makan," ajak Mama sembari mengambil centong nasi.
Ferdi lebih dulu mengangkat piringnya, lalu disodorkan pada Melli. Kemudian, disusul Barra.
Melli tatap kedua putranya itu dengan lembut. Ada rasa bangga karena bisa melahirkan kedua jagoannya dan mereka kini sudah dewasa.
"Mama tumben masak sebanyak ini. Ada sesuatu?" cetus Barra seraya menatap seluruh makanan di meja.
Melli yang baru saja menggenggam sendok dan garpu, hanya mengedikkan bahu, lalu mengukir senyum.
"Tidak ada apa-apa. Mama cuma mau melepaskan stres karena foto itu," jawab Melli seraya menyendok satu suap nasi.
"Foto perselingkuhan Papa maksudnya?" tanya Barra seraya melirik Ferdi lewat ekor matanya.
Melli mengangguk. "Mama yakin, itu foto hanya editan, Barra. Papa kalian tidak mungkin selingkuh dari Mama. Usia pernikahan Mama sama Papa juga sudah lama dan seharusnya Mama percaya, bukannya malah curiga hanya karena foto editan itu," terang Mama.
"Ma," panggil Barra dengan suara yang terdengar frustrasi. "Kenapa percaya semudah itu, sih? Foto itu asli, bukan editan."
"Barra, itu editan. Mama yakin sekali, Barra."
Baik Barra maupun Melli, bersikukuh dengan pendapatnya masing-masing perihal foto itu. Hanya Ferdi yang belum menyuarakan pendapatnya. Malah duduk dengan tenang menikmati makanan juga perdebatan kecil antara adik dan sang mama.
"Kalau Papa beneran selingkuh dari Mama, bohongin Mama, bagaimana?" tanya Barra tak menyerah untuk meyakinkan Melli.
Melli menggeleng yakin. "Mama hanya ingin melihat dengan mata sendiri, bukan foto editan itu." Kedua tangannya sengaja disimpan di meja sembari menatap Barra dengan lekat. "Barra, Mama satu-satunya orang yang paling mengenal Papa kamu. Kami sudah hidup bersama bertahun-tahun. Mama hanya akan percaya apa yang Mama lihat dan Mama dengar langsung. Itu lebih nyata daripada sebuah foto yang bisa direkayasa dan dijadikan alat untuk memfitnah orang lain."
__ADS_1
Barra tak bisa apa-apa lagi. Dia mendesah pasrah dibarengi dengan anggukan.
Tangannya yang mengepal sengaja Barra sembunyikan bawah meja. Mati-matian dia menahan diri untuk tidak terbawa emosi dan menghancurkan senyum Melli yang sejak tadi tak memudar menghiasi wajahnya.
"Barra, aku juga setuju dengan pendapat Mama. Foto itu pasti editan," ucap Ferdi, akhirnya bersuara dan melontarkan isi pikirannya yang dipendam sejak tadi. Hanya menunggu keadaan, barulah ikut ke dalam obrolan. "Daripada kita berdua, Mama yang paling mengenal Papa. Lagipula, zaman sekarang banyak orang yang pintar mengedit foto sampai-sampai tidak bisa membedakan mana asli mana palsu."
"Terserah kalian saja," timpal Barra, tak ingin beradu argumen lagi. Lebih baik, dia tutupi dulu saja sekarang ini, tak ingin merusak kebahagiaan Melli malam ini. Biarlah dia temui Reno langsung di kantor dan menginterogasi sampai ke akar-akarnya.
...
Barra kembali ke kamarnya setelah menyelesaikan makan malam secepat mungkin. Perasaannya masih dongkol karena tak satu pun orang yang percaya padanya kalau sang papa benar-benar berselingkuh.
Terlebih, dia juga tak habis pikir pada Ferdi yang tak menyadari kalau perempuan yang dicintainya adalah perempuan selingkuhan dari Reno. Bagaimana jika dia tahu itu?
Setelah menutup pintu kamar, Barra melangkah lebar mendekati lemari kecil di samping tempat tidurnya. Begitu dibuka, beberapa map bertumpuk di dalamnya. Barra angkat tumpukan map itu untuk mengambil sebuah amplop cokelat di tumpukan paling bawah.
Barra rapikan kembali tumpukan map itu, lalu membuka amplop dan mengeluarkan isinya yang berupa foto-foto yang dia dapatkan dari orang suruhannya untuk mengikuti setiap pergerakan Reno.
“Kalau Mama sampai melihat ini, apa masih yakin kalau ini editan?” tanya Barra pada dirinya sendiri ketika menatap satu lembar foto teratas. Wajah papanya terpotret dengan sangat jelas dari depan. Tak hanya itu, potret perempuan itu pun sama jelasnya.
“Ini bukan editan, ini fakta,” lanjut Fabian sembari menatap satu per satu foto itu.
“Aku harus bicara empat mata sama Papa. Dia harus menjelaskan semua ini."
...****************...
Selamat Pagi. Mama hadir kembali. Bagaimana bab kali ini. Melli menggemaskan ya?
Sambil menunggu novel ini update, bisa mampir ke novel teman mama di bawah ini.
__ADS_1