
Malam ini Reno sengaja mengundang kedua anaknya buat makan malam. Dia ingin tampak seperti Papa yang bertanggung jawab.
"Apa dagingnya enak, Sayang?"
tanya Mama dengan Ferdi. Walau anaknya telah melakukan kesalahan, namun sayangnya tetap tidak berubah.
Reno, kepala keluarga tersenyum. Dia sedang makan malam bersama keluarga. Daging menjadi makanan utama dan beberapa makanan lainnya. Ada empat orang yang tengah menikmati makan keluarga, tidak terkecuali Barra. Anak Reno yang sedari kecil tak dianggap kehadirannya oleh Mama-nya.
Barra hanya diam, mengunyah daging panggang. Tidak berbicara sedikit pun. Ini makan terpaksa karena ayahnya seorang. Dia mengancam akan menghancurkan perusahaan Barra sendiri kalau tidak datang, mana ada bukti yang benar-benar bisa menghancurkan.
Berbeda dengan Barra, Ferdi secara sukarela datang. Diminta oleh Melli, sang ibu langsung menurut. Anak itu selalu dimanja, jadi berkenan untuk makan bersama. Apalagi dia ada kesempatan agar bisa meminta sesuatu kepada Papa. Kalau tidak, kepada si Mama juga boleh.
"Ini enak, aku senang kita makan bersama. Terlihat seperti keluarga bahagia, bukan begitu?" tanya Papa Reno. Dia menatap satu persatu anak-anaknya.
"Ya, aku sebagai Kakak bangga sekali mempunyai keluarga semacam ini, Pa!" ujar Ferdi.
"Ya, begitulah." Barra merespons dengan malas.
Respons Barra yang terkesan dingin membuat Reno mengerutkan dahi. Menahan marah. Dia harus ingat tujuan kenapa mengadakan makan malam keluarga dadakan. Tak lain agar bisa liburan dengan Naina. Selingkuhan, tanpa ada siapa pun tahu.
"Barra, bagaimana dengan perusahaanmu? Semuanya berjalan lancar? Kalau butuh bantuan, hubungi Papa saja."
"Saya menghargai perhatian, Papa, akan tetapi terima kasih. Saya masih sanggup melanjutkan perusahaan sendiri."
Barra tidak pernah akrab dengan kedua orang tuanya, itulah sebabnya dia terkadang menyebut dirinya saya. Semenjak tidak pernah disayang oleh keluarga, Barra mulai menjauh. Mendirikan perusahaan sendiri dan bergaul dengan orang-orang yang tidak mengenal Reno. Bukan mau mandiri, Barra hanya ingin keluar dari keluarga sesak ini.
Di keluarga Barra selalu merasa sesak. Makan malam seperti ini saja sudah membuat tak nyaman. Entah kenapa Barra berpikir Reno mempunyai sesuatu untuk disampaikan. Mungkin penting. Bisa jadi soal penerus atau hal lain. Mau apa pun itu, Barra tidak peduli. Dia harus segera selesaikan acara menjijikan.
"Papa, bagaimana denganku? Aku juga butuh bantuan, Papa." Ferdi bersuara saat Reno fokus dengan Barra.
"Apa yang kamu inginkan? Katakan saja, Mama yqng akan mengabulkannya."
"Benar apa yang dikatakan Mama-mu, Papa juga akan membantu. Jadi, apa yang diinginkan putra sulung Papa ini?" tanya Reno berusaha sebaik mungkin agar Ferdi tidak curiga hubungannya dengan Naina.
Mendapat respons baik dari kedua orang tuanya, Ferdi tanpa berpikir panjang langsung memberi tahu.
__ADS_1
"Aku ingin menikahi wanita lain secepatnya. Dia kekasihku. Selama ini dia belum siap menukah. Tapi aku akan mencoba membujuknya. Bisakah surat perceraianku dipercepat."
Reno memang belum mengatakan pada putranya jika surat akta cerai telah keluar kemarin dan telah diserahkan pada Khayra. Begitu juga Barra, juga tidak mengetahui.
Reno menyembunyikan surat akta cerai atas permintaan Naina. Karena beberapa hari ini Ferdi selalu mengajaknya menikah.
Barra menghela napas mendengar permintaan dari abang nya itu. Baru saja bercerai sudah berpikir untuk menikah lagi. Apa dalam pikiran abangnya hanya wanita saja.
Kalau soal uang Barra tidak perlu khawatir. Keluarga ini mempunyai banyak uang, mungkin tidak akan habis sampai generasi ketujuh.
"Tentu, Ayah punya kenalan orang sana. Segera Ayah akan meminta beliau untuk segera memajukan surat perceraianmu, Nak."
"Terima kasih, Ayah!"
Ferdi tersenyum cerah. Sangat senang karena permintaan langsung terkabul begitu saja. Berbeda saat berbicara berdua, di mana Reno pasti akan banyak bertanya. Kalau ada Melli, semua pasti berjalan lancar. Tanpa ada masalah atau kendala.
"Ingin menambah makanannya, Sayang?" Melli mengambil daging bagian paha untuk ditaruh di piring Ferdi.
Barra mulai muak dengan kata sayang. Kalau di keluarga lain pasti arti sayang benar-benar menyayangi, kalau di keluarga ini hanya kata saja. Tak ada arti apa pun. Seonggok kata tanpa jiwa atau makna berarti.
"Hais, Ma! Nanti perutku gemuk!"
"Mama selalu saja begitu!"
Melli terkekeh melihat tingkah gemas Ferdi. Anaknya memang menolak, tetapi tidak benar-benar begitu. Itu hanya perkataan terima kasih secara tidak langsung.
Kapan berakhir? Barra benar-benar ingin loncat dari atap. Mendengar dan melihat romantisme keluarga membuat tubuh merasa jijik. Suasana ini sangat buruk dibanding sendirian.
Kamu di mana?
Barra diam-diam mengirim pesan ke Khayra. Ingin bertemu setelah pertemuan keluarga berakhir. Butuh mengisi daya setelah kelelahan menahan tekanan suasana menjengkelkan keluarga.
Jawablah, aku tahu kamu sudah membacanya.
Sekali lagi, Barra mengirim pesan. Tidak mau diacuhkan saja. Kalau tidak balas maka harus dilacak. Barra sudah tahu tempat-tempat yang biasa dikunjungi Khayra, tidak sulit menemukan keberadaan gadis itu.
__ADS_1
Entahlah.
Balasan pesan singkat. Sesuai kepribadian Khayra. Barra tidak heran kalau sampai terjadi perceraian. Khayra notabe ketus tidak mungkin sesuai selera Ferdi, tipe manja anak mama. Memikirkan mereka bersama saja membuat Barra geli. Betapa tidak cocoknya dua orang itu.
"Barra?"
"Ya?" tanya Barra menatap Reno. Dia tadi tidak mendengarkan perbincangan sampai bertanya balik.
"Papa bertanya kapan kamu menikah? Kakakmu baru bercerai sudah akan menikah lagi, bagaimana denganmu? Ada calon istri, tidak? Kenalkan pada kami, Papa dan Mama. Jangan katakan jika apa yang Ferdi katakan itu benar, jika kamu ada hubungan dengan Khayra?"
Reno seolah bilang bahwa perbuatan Ferdi patut dibanggakan. Padahal itu aib. Mana ada pria yang mau langsung menikah setelah bercerai, kecuali memang selingkuh. Dia sudah menyembunyikan wanita simpanan dari istri sah.
"Secepatnya, saya sedang mendekatinya."
"Jangan lupa asal-usul gadis itu juga, jangan tertipu karena tampang saja." Melli ikut dalam perbincangan.
"Tentu, Ma. Saya juga tidak akan menyimpan wanita lain seperti anak Anda."
"APA KATAMU?!" Melli meninggikan suara. Tidak terima Ferdi dihina oleh Barra.
"Sudah, kita di sini untuk makan bukan bertengkar. Barra tolong jaga sikapmu," ucap Reno menengahi pertengkaran yang akan dimulai.
Melli dan Barra diam. Mereka tidak bisa membantah ucapan Reno. Tentu berbeda alasan, Melli yang menghormati suaminya, sedangkan Barra takut akan ancaman. Mereka berdua anak dan mama yang tidak akur.
"Ha ... tujuan Papa mengadakan perjamuan dadakan ini karena ke depan Papa akan sibuk. Ada perjalanan bisnis di luar negeri, memakan banyak waktu, jadi Papa harap kalian bisa saling membahu." Reno akhirnya mengatakan tujuan kenapa diadakan makan malam keluarga.
"Sayang, aku juga meminta izin kepadamu. Apa kamu mengizinkan?"
"Iya, mana mungkin aku tidak mengizinkan suami yang ingin mencari nafkah. Pergilah, jangan lupa jaga kesehatan." Melli tersenyum. Tanpa tahu akibat atas keputusannya itu.
Sesuai dugaan Reno, istrinya tidak akan membantah atau bertanya hal lain. Memberi izin saja. Begitu juga dengan yang lain, mereka pasti enggan menanyakan hal lain. Takut akan otoritas Reno.
"Terima kasih, makanlah yang banyak. Besok Papa akan pergi," kata Reno dengan wajah senang.
Barra ingin sekali bertanya. Dia merasa ada keanehan akan permintaan izin Reno. Seakan memiliki tujuan lain. Namun, Barra tidak bisa bersuara. Saat ini lebih memilih diam.
__ADS_1
Tidak mau terlibat akan urusan keluarga lebih jauh. Pun ada tujuan lain, Melli yang harus tahu atau menyelidiki. Bukan Barra yang tidak pernah dianggap.
...****************...